
Jovi masih bicara di telepon dengan Nathan. Tiba-tiba ia menurunkan sejenak ponselnya dan menetap ke arah lorong.
“Apa Deon datang ?” Jovi mendengar suara derap langkah kaki masuk dan semakin dekat saja. “Masih jam segini dia sudah datang ?” berdiri untuk memastikan.
Ternyata memang pria itu sudah pulang seorang diri ke rumah.
“Kak Nathan maaf aku belum mandi, bagaimana jika kita sambung lagi nanti ?” Jovi segera memutus percakapan mereka saat melihat Deon semakin dekat. “Tapi Jovi--” Nathan merasa masih ingin terus bicara dengan Jovi.
“Maaf kak aku harus mandi sekarang. Nanti aku beritahu jika aku sudah selesai.” Jovi memotong pembicaraan dan segera mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban dari pria itu terlebih dulu.
“Oh Jovi... kenapa kau terburu-buru sekali ?” Nathan yang masih ingin mendengar suara gadis itu terlihat kecewa, tapi dia bisa apa.
Jovi berjalan cepat menuju ke kamar mandi saat melihat Deon sudah berjarak satu meter dari tempatnya berada saat ini.
__ADS_1
“Klak.” Jovi segera menutup pintu kamar mandi dan menyalakan shower.
“Kenapa dia seperti terburu-buru dan terkesan menghindari ku ?” Deon menatap ke arah kamar mandi yang tertutup. “Hah sudahlah aku benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkannya.” membuang pandangan kemudian masuk ke kamar.
Malam hari setelah makan malam, Jovi tak langsung kembali ke kamarnya dan dia masih tetap berada di dapur.
“Tak-tak...” Jovi mengetik pesan dan mengirimnya pada Nathan karena ia takut untuk meneleponnya dikhawatirkan akan mengganggu.
Ia menaruh kembali ponselnya kemeja sambil menghabiskan satu cup coklat panas yang tadi dibelinya.
Di hotel terlihat Nathan sedang berganti piyama dan bersiap untuk tidur setelah menunggu pesan ataupun telepon dari Jovi selama dua jam lamanya.
“Jovi bilang mau menghubungiku tapi sampai sekarang tak ada pesan darinya.” Nathan duduk di tempat tidur. Namun matanya tetap tertuju pada ponsel yang ada di meja dan ia pun mengambilnya. “Pesan dari Jovi.” tersenyum kecil saat membaca pesan yang masuk untuknya.
__ADS_1
Tepat di saat Jovi merasa lelah menunggu dan mau angkat kaki dari sana tiba-tiba ponselnya berdering.
“Jangan-jangan ini...” Jovi berhenti dan menatap layar ponselnya yang berdering. “Halo kak...” Jovi menahan langkahnya dan kembali duduk di kursi sambil mengangkat telepon.
“Kau sudah selesai mandi ?” ucap Nathan di telepon. “Ha, sudah beberapa jam yang lalu kak.” Jovi tertawa dengan pertanyaan Nathan yang tidak lucu.
Deon kebetulan lewat dapur dan berhenti sebentar di sana.
“Ck... dengan siapa dia bicara ?” Deon melihat Jovi yang tersenyum saat bicara di telepon. “Paling-paling juga dengan Shasha, siapa lagi ?” menggelengkan kepala kemudian segera berlalu dari sana dan kembali ke kamar.
Jovi terlihat masih bicara dulu hingga dia pun keluar dari dapur karena merasa tak nyaman pada di sana terlalu lama kemudian masuk ke kamarnya.
“Jovi apa kau masih ingin koala ?” Nathan tiba-tiba teringat pada perkataan Jovi beberapa waktu yang lalu dan malamnya itu serius walaupun sebenarnya hanya candaan saja. “Seandainya saja itu boleh dipelihara di sini.” jawabnya singkat sambil tersenyum. “Atau ada sesuatu yang kau inginkan, mumpung aku masih di sini.” Nathan kembali menawarkan. “Tidak ada kak.”
__ADS_1
Hingga satu jam ke depan Nathan pun mengakhiri panggilannya karena berulang kali mendengar suara Jovi yang menguap.
Pria itu pun naik ke tempat tidur dan berbaring dengan tenang karena bisa mendengar suara Jovi setelah seharian merasa penat dengan padatnya meeting.