Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 115 Cuaca Mendung


__ADS_3

Keluar dari restoran mereka berdua berjalan pelan di tengah cuaca yang mulai mendung.


“Apa kau mau menginap di sini ?” Nathan menunjukkan camp-camp yang ada di Hobbit Hills yang memang dibangun dan disewakan untuk pengunjung yang berniat menginap di sana.


“Tidak, kak. Mungkin lain kali saja.” Jovi menolaknya sambil menggelengkan kepala meskipun sebenarnya ia penasaran dan ingin merasakan menginap di camp itu.


“Oke... tak apa Jika kau tak ingin menginap di sini.” Nathan tak memaksa dan menatap Jovi dengan lembut. “Tapi keliling dan melihat-lihat saja tak apa bukan ? Karena sangat rugi sekali jika kita melewatkannya begitu saja setelah datang kemari.” kembali membujuk Jovi.


“Oh... baiklah.” entah kenapa kali ini ia tak bisa menolak bujukan dari Nathan dan menyetujuinya saja sambil tersenyum menatapnya. “Kita lihat mulai dari sana.” Nathan menunjuk sebuah game yang ada di dekat mereka.


“Oh...” tiba-tiba Nathan memegang Jovi dan menggenggamnya. “Pria ini... apa yang ia pikirkan. Aku belum menerimanya tapi dia sudah seperti ini.” Jovi menatap jemari besar dan hangat milik Nathan yang memegang erat tangannya.

__ADS_1


“Baik, kak.” tapi entah kenapa gadis itu membiarkan Nathan menggenggam tangannya saat berjalan dengannya. Ia merasa nyaman saja berada di dekat pria itu selama ini.


“Jovi kau tak menarik tanganmu lagi dariku. Mungkin kau hanya malu saja mengungkapkannya padaku.” Nathan melihat jemari kecil Jovi yang lembut dalam genggaman tangannya.


Mereka berkeliling melihat berbagai jenis camp yang ada di sana. Sebuah camp mini yang berukuran 3 x 3 meter dengan aneka bentuk yang memang disediakan untuk para pasangan atau keluarga kecil yang ingin menikmati berbagai area resort di Bogor.


“Sepertinya nyaman juga camp yang ada disini.” Jovi melontarkan komentarnya setelah melihat satu camp dan mendapati fasilitasnya mirip seperti di hotel. “Itulah sebabnya aku bilang rugi jika tidak mencobanya.” Nathan mengulangi perkataan yang sebelumnya ia ucapkan tadi sambil tersenyum tipis. Cukup baginya bisa memegang tangan Jovi untuk kali ini tanpa penolakan meskipun gadis itu masih menggantung pertanyaannya.


“Kak, jam berapa ini ?” Jovi menetap sekitar yang terlihat semakin gelap entah karena cuaca mendung atau memang hampir malam. “Pukul 15.00.” Nathan menarik tangan kanannya untuk melihat arloji yang melingkar di sana.


Nathan kemudian berhenti sebentar menatap langit yang semakin bertambah gelap saja.

__ADS_1


“Bagaimana jika kita kembali saja sebelum turun hujan ?” Nathan mengajak Jokowi untuk pulang sebelum jalanan menjadi tidak nyaman saat berkendara dalam kondisi hujan. “Ya kak, kita kembali saja daripada kemalaman di sini.”


Jovi pun segera berjalan di depan Nathan menuju ke tempat mobil pria itu terparkir.


“klak.” terlihat mereka berdua sudah duduk dalam mobil dan segera menutup kembali pintu mobil setelah membukanya.


“broom...” Nathan pun segera mengemudikan mobilnya meskipun sebenarnya masih banyak area resort yang belum mereka kunjungi.


“Jika kakak lelah istirahat saja dulu beberapa menit.” Jovi menatap Nathan terlihat serius mengemudi saat mereka memasuki jalan tol yang menuju ke Jakarta. “Tidak, kita harus sampai sebelum hujan turun atau kita akan dalam kesulitan.” Nathan menurut saran dari Jovi sambil menatap matanya yang terlihat teduh.


Dalam diam Jovi berapa kali mencuri pandang dan menatap Nathan yang sedang mengemudi. Berbagai perasaan muncul dalam hatinya menatap Nathan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2