
“Jadi gimana sekarang apa kita jadi beradu kecepatan ?” Nathan kembali bertanya pada Jovi.
Jovi yang suka dengan tantangan tentu saja merasa senang jika ada seseorang yang menantangnya. Di tambah ia Sudah beberapa kali bertemu dengan Nathan dan tak lagi menganggap pria itu sebagai pria asing.
“Ya tentu saja, kak. Ayo kita mulai sekarang.” Jovi terlihat bersemangat dan kemudian berbalik menghadap ke depan. “Baik jika begitu. Dalam hitungan ketiga kita akan mulai meluncur.” Nathan ikut berbaring dan menghadap ke depan.
“satu, dua, tiga...” Jovi dan Nathan yang sudah bersiap kemudian segera meluncur setelah hitungan ketiga.
“splash.” Jovi terlihat bersemangat dan berenang dengan kecepatan tinggi, sedangkan Nathan yang sebenarnya tidak ingin beradu balapan dan hanya ingin berenang saja bersama Jovi, berenang dengan santai.
Hingga tiga putaran mengelilingi kolam, Jovi unggul dan mencetak skor mengungguli Nathan.
“Splash...” Jovi keluar lebih dulu daripada Nathan dan tak lama kemudian barulah pria itu menyembul keluar dari air.
__ADS_1
“Ternyata dua kali berenang bersamamu tetap saja aku yang kalah.” Nathan mengakui kekalahannya di depan Jovi hanya untuk melihat senyum gadis itu. “Ah biasa saja.” Jovi tersenyum kecil mendapat pujian dari Nathan.
Ya, Jovi jarang sekali tersenyum pada lawan jenisnya, bahkan bisa dihitung dengan jari. Tapi entah kenapa Nathan yang baru dikenalnya beberapa waktu bisa membuatnya tersenyum lepas.
Mereka berdua kembali bercakap-cakap ringan di dalam kolam. Dan terlihat Nathan sedari tadi mengumbar senyumnya padahal pria itu dikenal sebagai pria dingin yang susah untuk tersenyum.
Tak terasa siang pun berlalu dan beranjak sore.
Jovi melangkah maju mendahului Nathan, namun setelah tiga langkah tiba-tiba dia merasakan kaki kram.
“Argh... tolong.” pekik Jovi saat ia tak bisa menggerakkan kakinya dan terpeleset. “Jovi, ada apa ?” Nathan terkejut dan dengan sikap ya segera menangkap tubuh Jovi sebelum tenggelam dalam air.
“Kaki ku tiba-tiba kram.” Jovi yang benar-benar takut, refleks mengalungkan tangannya kembali ke leher Nathan. “Mungkin kau belum melakukan peregangan otot tadi sebelum berenang.” Nathan membopong Jovi dan membawanya keluar dari kolam.
__ADS_1
Jovi kembali menatap intens Nathan, lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya pria itu kembali menyelamatkan dirinya hingga dia kesulitan untuk menghitungnya sudah berapa kali ya diselamatkan oleh Nathan.
Nathan menurunkan Jovi di tepi kolam kemudian meluruskan kakinya.
“Argh...” Jovi merintih kesakitan saat Nathan memijat ujung jari kakinya yang kram. “Tahan sebentar.” Nathan terus menekan ujung jari kaki Jovi 5 menit dan baru melepaskannya.
Jovi tak hanya merasakan sakit saja namun dia juga merasakan kakinya gemetar saat pria itu menyentuhnya.
“Bagaimana, apa sudah terasa lebih baik ?” Nathan masih duduk berjongkok di depan Jovi bersiap untuk memijatnya kembali jika memang masih kram. “Sudah baikan kak, terima kasih.” ucapnya merasa lelah sering mengucapkan terima kasih pada pria itu.
“Aku mau ganti baju dulu.” Jovi yang merasakan kakinya sudah terasa lebih ringan mencoba untuk berdiri. Sebenarnya ia merasakan pergelangan kakinya masih sakit namun Jovi memaksanya untuk berjalan menuju ke kamar mandi karena tak mau merepotkan Nathan lagi.
Nathan yang terlihat khawatir karena melihat cara jalan Judith mengikutinya.
__ADS_1