
Proses gugatan Cerai Jovi masih dalam proses dan Deon serta keluarganya sama sekali tak mengetahui hal itu.
Berapa hari berlalu, Jovi Masih menunggu proses pengajuan perceraiannya dengan Deon. Di sela-sela waktunya Ia pun sering berkunjung ke rumah ibunya.
Akhir-akhir ini gadis itu merasa sering tak enak badan tanpa sebab.
“Kepala ku pusing lagi.” Jovi turun dari mobil dan berjalan masuk menuju ke rumah orang tuanya sambil memegang kepalanya.
“Ibu...” panggil Jovi setelah masuk ke rumah dan mendapati rumah itu sepi.
Entah berapa menit ia menunggu dan ibunya baru keluar. “Jovi, kapan kau datang, nak ?” ucap ibunya Jovi keluar dari dapur.
“Baru beberapa menit ibu.” jawabnya sambil duduk. “Ayah dimana ?”
“Ayah mu sedang golf bersama temannya dari pagi tadi. Oh ya bagaimana kabarmu dengan Deon ?” wanita itu balik bertanya pada Jovi.
__ADS_1
Jovi diam dan terlihat malas membahasnya. Bagaimana tidak malas jika pria itu bukannya sembuh tapi malah semakin menjadi. Beberapa hari yang lalu seorang gadis datang ke rumah dan minta pertanggungjawaban dari Deon karena hamil dua bulan. Dan hal itu membuatnya semakin muak dengan pria itu. Mungkin akan ada beberapa gadis lagi yang akan datang meminta jawaban pada Deon, siapa yang tahu.
“Ya Deon baik-baik saja bu. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya.” jawab Jovi mengarang dan terlihat datar.
“Apa kau ada masalah dengan Deon ?” tanya ibu saat melihat Jovi yang tidak hanya sekali ini malas jika ditanya tentang kabar suaminya. Lama gadis itu diam dan baru menggelengkan kepalanya setelah lewat satu menit.
“Sudah bu jangan tanya Deon lagi.” Jovi mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ibu masak apa hari ini ?” tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
Ibunya Jovi kebetulan sekali hari ini membuat manisan nanas kesukaan putrinya, makanya ia lama berada di dapur hingga tak mendengar panggilan dari Jovi.
“Manisan nanas ?” terlihat Jovi dengan muka pengennya itu segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dapur.
“Di cuaca panas ini memang manisan ini terlihat menggiurkan.” Jovi pun segera mengambil piring kecil dan mengambil banyak manisan nanas yang langsung dimakannya seketika.
“Hoek...” baru sekali gigitan saja ia merasa mual dan membuat perutnya mulas seperti diaduk-aduk. “Ada apa dengan perut ini ?” entah apa sebabnya ia pun sampai merasa mual dan ingin memuntahkannya.
__ADS_1
Jovi berlari menuju ke wastafel terdekat. Di sana ia memuntahkan semua isi perutnya hingga keluar cairan berwarna kuning yang terasa masam.
“Jov... kau kenapa ?” ibunya Jovi menghampiri putrinya yang sekarang terlihat lemas karena sudah memuntahkan semua isi perutnya.
“Aku tidak tahu bu, tiba-tiba saja perutku menolak manisan kesukaanku.”
“Apa dia hamil ?” Ibunya Jovi melihat wajah pucat Jovi serta gejala yang mirip dengan wanita sedang hamil.
“Jov ibu temani kau ke rumah sakit sekarang.”
“Tidak perlu sampai ke rumah sakit segala ibu, mungkin ini hanya masuk angin karena aku belum makan siang.
Tapi sang ibu terus mendesak putrinya karena penasaran sekaligus khawatir yang membuat Jovi menuruti perkataan ibunya.
Tak lama kemudian Jovi tiba di rumah sakit dan saat ini dokter sedang memeriksa dirinya.
__ADS_1
“Selamat nona kabar bagus untuk anda. Anda tidaklah sakit namun hamil dan usia kehamilan anda sudah dua minggu.” dokter menjelaskan kondisi Jovi saat ini.
Jovi hanya diam terpaku mendengar diagnosa dari dokter sedangkan ibunya Jovi tersenyum lebar karena akan segera menimang cucu.