
Jovi Seketika mengeluarkan cermin setelah Nathan bilang wajahnya merah.
“Oh ya benar, ini pasti karena reaksi dari makan ikan barusan.” Jovi melihat wajahnya tak hanya merah tapi di tangannya juga timbul bentol-bentol merah yang rasanya gatal. “Hiss.... aku tidak membawa obat anti alergi saat ini.” membuka tas mencari obat anti alergi namun ia tak menemukannya.
“Apa kau tak apa-apa Jovi ?” Nathan melihat gadis itu yang sedang menggaruk tangan dan khawatir jika itu bukanlah gatal biasa namun sebuah alergi “Ya, aku baik-baik saja kak.” Jovi menahan rasa gatal luar biasa yang mulai menyerangnya.
Karena Jovi bilang dirinya baik-baik saja maka Nathan mulai membahas tentang kerjasama mereka karena sebelumnya ia bilang demikian pada Jovi.
“Kerja sama kita bisa segera di mulai setelah kau menandatangani perjanjian kontrak dan membacanya dengan jelas.” Nathan menjelaskan kembali poin-poin penting dalam kerjasama mereka kemudian menunjukkan perjanjian kontrak pada Jovi.
“Emm... ya kak... aku akan mempelajarinya ulang dan akan segera mengirimkan perjanjian kontrak ini pada mu nanti.” Jovi sama sekali tidak bisa fokus dan konsentrasi karena merasakan gatal dan mulai menggigit dan luar biasa.
“Baiklah... aku akan menunggunya.” Nathan menjawabnya dengan datar.
Jovi membereskan dokumen yang di berikan oleh Nathan dan segera menyimpannya. Mereka pun kembali mengobrol seputar masalah kerjaan mereka.
__ADS_1
Di lain tempat di rumah Jovi.
Samuel, ayah Jovi menunggu dengan cemas hasil dari meeting kali ini. Pria itu meskipun tidak mengikuti meeting namun dia tetap memantau.
“Harusnya jam segini meeting sudah selesai dan pastinya hasilnya sudah keluar.” Samuel dari tadi merasa tidak tenang dan berulang kali menatap jam yang tergantung di dinding ruangan tengahnya.
“Ayah kenapa terlihat bingung seperti itu ?” ibunya Jovi melihat suaminya yang terlihat gelisah seperti memikirkan sesuatu semenjak pria itu masuk rumah. “Tidak ada ibu. Hari ini Jovi meeting dengan Atmaka Group.” balasnya singkat.
Samuel kemudian berdiri dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
“Kring...” ponsel Jovi berdering namun gadis itu sedang pergi ke toilet dan belum kembali.
“Siapa yang meneleponnya ?” Nathan menjadi penasaran karena teleponnya berdering terus menerus. “Apa mungkin itu Deon ?” menatap ke jalanan menuju ke toilet dan melihat Jovi belum kembali.
Nathan yang penasaran dan tak ada maksud apapun mengambil ponsel yang ada di meja Jovi dan melihatnya saja siapa yang menelepon.
__ADS_1
“Ternyata ayahnya.” Nathan membaca nama peneleponnya bernama ayah kemudian menaruhnya kembali ke tempatnya semua sebelum gadis itu kembali dari toilet.
“Kemana dia, kenapa tak menjawabnya ?” Samuel kemudian mematikan teleponnya. “Tapi Aku hanya ingin tahu saja bagaimana hasilnya.” pria itu kemudian beralih menelpon Rani yang menghadiri meeting bersama Jovi dan dia pasti tahu itu.
“Halo Rani... apa kau tahu di mana Jovi ?” Samuel segera bertanya setelah telepon tersambung. “Tuan, nona sedang keluar kantor bersama--”
“Bukan itu yang saat ini ingin ku ketahui tapi bagaimana hasil meeting dengan Atmaka Group ?” pria itu segera memotong pembicaraan mereka. “Tuan, Nona Jovi berhasil dan Champion Group menjadi mitra Atmaka Group kali ini.” Rani menjelaskan.
“Apa yang kau bilang itu benar ?” Samuel terkejut bercampur senang mendengar penjelasan dari sekretaris Jovi.
Pria itu pun merasa lega dan segera mematikan panggilannya.
Sementara itu Jovi yang sudah berada di toilet wanita selama 15 menit akhirnya keluar dari sana dan kembali ke tempat duduknya.
“Kak... aku minta maaf, tapi Apa aku boleh pulang sekarang ?” Jovi berdiri di depan Nathan dengan ruam merah yang semakin banyak, tak hanya di wajahnya saja namun kini seluruh tubuhnya sudah terasa gatal dan merah.
__ADS_1
“