Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 93 Sebuah Rindu


__ADS_3

Satu hari berlalu terlihat Nathan sudah berada di sebuah hotel. Pria itu baru selesai meeting.


“Ohh.... lelahnya hari ini.” Nathan masuk ke kamar hotel yang ditempatinya. “Jovi... sedang apa kau di sana ?” duduk bersandarkan dinding dan terpikirkan pada Jovi.


Ia pun bermaksud menelepon gadis itu dan segera mengambil ponselnya barusan ia taruh di meja.


“Mungkin jam segini dia baru pulang kerja.” Nathan melihat jam dinding yang tergantung di kamar hotel yang menunjukkan pukul 21.00 waktu setempat. “Mungkin nanti aku akan mencoba menghubunginya satu jam ke depan.” menaruh kembali ponselnya.


Nathan menunggu waktu sambil rebahan di tempat tidur, namun ternyata pria itu kelelahan dan seketika tertidur.


Di Villa Cempaka


Terlihat Jovi menyeduh air jahe di tengah suasana gerimis untuk mengusir rasa dingin.

__ADS_1


“Hangat sekali.” Jovi duduk di kamar dan menatap ke arah jendela sambil menyesap minuman sari jahe. “Hari ini kak Nathan sama sekali tidak ada kabar.” termenung menatap ponsel yang sepi di tangannya, tak ada pesan ataupun panggilan yang masuk untuknya.


Ya, sejak Jovi terpilih menjadi mitra yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Nathan, pria itu setiap hari menghubunginya entah itu telepon ataupun pesan untuk membahas perihal kerjasama mereka dan bertemu dengannya.


Dua hari berlalu


Siang hari di kantor terlihat Jovi menatap layar ponselnya saat jam makan siang.


“Tak ada telepon ataupun pesan dari kak Nathan.” entah kenapa gadis itu mulai terbiasa dengan makan siang bersama Nathan hampir setiap harinya. “Mungkin dia ada jadwal meeting padat.” Jovi pun kemudian berjalan ke kantin sendirian untuk makan siang di sana.


Hingga sore hari Jovi tetap tak mendapat kabar dari Nathan.


Jovi berada di kamar nya dan menetap kembali layar ponselnya yang sepi.

__ADS_1


“Kemana sebenarnya dia ? Kenapa tak ada kabar sama sekali selama tiga hari ini ?” Jovi tiba-tiba merasa rindu pada Nathan karena saat ini ia benar-benar merasa bosan berada di rumah dan ingin keluar. Secara setelah ia sering keluar bersama pria itu, ia pun jadi terbiasa dengannya dan merasa aneh harta kosong tanpa kehadirannya.


“Atau sebaiknya aku keluar bersama Shasha saja ?” Jovi yang tetap masih ingin keluar kemudian Berencana untuk mengajak temannya itu hangout.


Jovi mencari nomor Shasha dan meneleponnya, “halo Sha... kau ada waktu tidak ? Aku ingin mengajakmu keluar sekarang.” ucapnya dengan semangat. “Jovi...” Shasha menjawab dengan suara terisak. “Sha Ada apa dengan mu kenapa suaramu begitu ?” Jovi menjadi khawatir mendengar suara temannya seperti habis menangis saja.


“Jov... untung kau telepon dan mengajakku keluar. Aku ada masalah.” Shasha menjelaskan sambil menghapus air matanya. “Nanti aku akan ceritakan padamu. Sekarang aku akan ganti baju dulu.”


“Ya, 15 menit lagi aku akan menjemput mu.” Jovi kemudian menutup teleponnya dan bersiap juga.


Jovi sebelum berdiri dan berganti baju karena cuaca dingin dia pun memakai kembali jaket Nathan yang menurutnya terasa hangat dan nyaman sekali lalu masuk ke mobilnya menuju ke rumah Shasha.


“Itu pasti Jovi.” Shasha segera keluar dari rumah saat mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. “klak.” Jovi membukakan pintu. “Ayo masuk.” Shasha pun segera duduk di samping Jovi dan mobil melaju kembali setelahnya.

__ADS_1


“Sha, kau ingin berhenti di mana ?” Jovi menanyakan tempat tujuan mereka saat di tengah jalan. “Kita ke tempat yang sepi saja kali ini.” jawab Shasha yang masih terlihat sedih dengan wajahnya yang terlihat sembab.


Jovi melajukan mobilnya mencari tempat yang sepi.


__ADS_2