
Nathan masih berada di luar dan masih menatap villa Judith.
“Dua wanita dalam satu rumah ? Apa yang mereka lakukan di sana ?” Nathan mulai berfantasi aneh. “Apa mungkin si Deon memasukkan dua wanita sekaligus dalam satu kamar dan menggilir nya?” menjadi berfantasi liar dan segera menghapus fantasi liar dari pikirannya. “Tidak mungkin ada wanita yang mau dimadu seperti itu. Jadi mungkin saja Jovi sudah biasa pada kelakuan Deon yang menyimpang dan membiarkannya saja.” menghela nafas panjang dan menyimpulkan sendiri setelah teringat di awal pertemuannya dengan Jovi gadis itu menangis dalam kesedihan.
“Rumit sekali hubungan mereka.” Nathan yang merasa tak mungkin Jovi akan keluar lagi segera pergi dari sana dan memutar balik mobilnya meluncur menuju ke rumahnya.
Malam hari di rumah Nathan.
Pria itu duduk sambil menyesap kopi pahit yang barusan diantar oleh pelayan di rumahnya. Di saat pikirannya sedang galau ataupun sedikit pusing pria itu selalu menyeduh kopi pahit yang menurutnya bisa meredakan rasa pusing nya.
__ADS_1
“Jovi seperti apa sebenarnya kehidupan pernikahan mu ?” Nathan mencoba membayangkan seperti apa kehidupan yang dijalani Jovi bersama Deon setelah pernikahan mereka. Diam-diam ia pun merasa iba pada Jovi.
Nathan menyesap sedikit kopinya sambil mengambil ponsel yang ada di meja.
“Gadis itu juga belum menghubungiku sama sekali hingga hari ini.” Nathan mengecek ponselnya apakah ada pesan masuk dari Jovi atau tidak dan ternyata tak ada pesan masuk ataupun telepon masuk untuk dirinya.
Di Villa Cempaka Deon rutin bermalam di kamar yang berada di sebelah kamar Jovi berada bersama para sugar baby nya yang tidak bisa di hitung lagi dengan jari berapa jumlahnya.
“Ahh...” Ariana mendesah saat Deon membuka lebar kakinya dan pria itu lama bermain di sana menggunakan lidahnya yang kasar dan juga menggunakan jari telunjuknya yang membuatnya hingga sampai menjerit.
__ADS_1
Dari kamu sebelah tempat Jovi berada.
“Hiss....kenapa semakin lama ******* gadis murahan itu semakin melengking dan nyaring ?” Jovi merasa risih dan jijik mendengarnya bahkan sampai menyumpatkan kedua telinganya dengan kapas kemudian menutup dengan kedua tangannya. “Awas kau Deon, suatu saat aku akan membalas mu.” Jovi melempar tumbuhnya ke tempat tidur Kemudian menumpuk bantal di atas kepalanya sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Aaah... Deon aku tidak tahan...” Ariana kembali mendesah melengking saat Deon selesai bermain-main dan kini memasukkan alat getar yang membuat kasur basah dan berlendir.
“Sialan kau Deon !!” Jovi merasa risih sekali dan terganggu mendengar suara itu hingga ia pun menyetel musik rock dengan volume tinggi sekali.
“Ha-ha...Jovi berarti kau sudah mendengarnya hingga kau menyetel musik sekeras ini.” Deon tersenyum lebar mendengar alunan musik yang terdengar dari kamar sebelah. “Aah... uhh...” Ariana kembali mendesah lebih melengking lagi saat Deon mulai membenamkan diri sambil bergerak kasar yang memberinya kenikmatan berlipat ganda.
__ADS_1
Meskipun Jovi sudah menyetel musik dengan volume kencang namun tetap saja ia masih bisa mendengar suara mereka berdua.
“Sial... sial... sial.” Jovi benar-benar tidak bisa tidur dan Dia pun turun dari tempat tidur Kemudian duduk di sudut ruangan sambil menutup kedua telinganya menahan amarah.