
Jovi hanya mengangguk saja menanggapi perkataan Nathan. Untuk mengusir ketegangan diantara mereka berdua Jovi pun mulai mengajak Nathan mengobrol.
“Kak, ternyata masih memakai cincin hadiah itu...?” Jovi melihat cincin dari Hindi Resto masih terbelit di jari manis Nathan.
“Ah ya, walaupun ini cincin biasa aku menyukainya.” Nathan menoleh ke samping kiri menatap Jovi. “Kau sendiri masih mengenakan cincin itu.” menatap jemari tangan Jovi dan melihat cincin hadiah itu juga masih terbelit di sana.
“Ya, entah kenapa aku juga menyukai desain cincin yang sederhana ini, kak.” balas Jovi melihat cincin di jari manisnya.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan obrolan mereka dan mereka berdua bergantian bertanya satu sama lain.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di Bogor.
“klak.” Nathan menghentikan mobilnya di sebuah perkebunan luas yang terlihat hijau segar dari kejauhan.
__ADS_1
“Kita sudah sampai.” Nathan turun dari mobil dan Jovi mengikutinya turun. “Apa kakak mau beristirahat dulu setelah perjalanan jauh ?” Jovi berdiri di samping pria itu dan menawarkannya untuk beristirahat sejenak.
“Tidak Jovi kita kesini untuk bekerja nanti saja istirahatnya setelah selesai berkeliling dan memeriksa.” Nathan menolak meskipun ia sedikit merasa pegal setelah menyetir tanpa henti.
“Baiklah, jika kakak tidak lelah kita berkeliling saja sekarang.” Jovi menyetujui dan tak memaksa pria itu untuk beristirahat. “Jika nanti lelah, kakak bilang saja dan kita akan istirahat sebentar.” tambah Jovi.
Nathan hanya mengangguk saja menanggapi perkataan dari Jovi. Ia pun segera berjalan menyusuri perkebunan yang terbentang hijau seperti zamrud.
“Hati-hati, di sini sepertinya habis hujan kemarin karena tanahnya masih terlihat basah, beberapa bagian ada yang tergenang air.” Nathan sekilas mengamati tanah yang dipijaknya saat berjalan. “Ya, kak aku akan berhati-hati.” Jovi yang awalnya berjalan biasa saja dan tidak memperhatikan jalan jadi memperhatikan langkahnya dan melihat tanah yang dipijaknya agar tidak menginjak genangan air.
“Ada apa Jovi ?” Nathan yang berjalan di sampingnya menoleh ke arahnya. “Ini kak, sepatu ku kotor karena tak sengaja menginjak kubangan air.” Jovi menunjukkan sepatunya yang kotor. “Bagaimana ya ini ?” terlihat bingung karena ia tak membawa sepatu ganti.
Nathan menetap ke sekitar. Ia melihat dua meter dari tempatnya berdiri saat ini ada seorang salah satu pekerjanya yang sedang bekerja.
__ADS_1
“Kau tunggu di sini saja aku akan mencarikan sandal atau sepatu lainnya yang bisa kau pakai.” Nathan meminta Jovi untuk menunggunya sebentar.
Pria itu kemudian menghampiri seorang pekerja wanita di sana yang sedang mengumpulkan kelapa sawit.
“Tuan Nathan, selamat pagi.” sapa pekerja itu saat melihat bosnya datang. “Ya, pagi. Maaf bisakah kau mencarikan aku alas kaki untuk wanita ?” Nathan mengutarakan maksudnya langsung. “Klien ku seorang wanita sepatunya kotor dan tak membawa ganti, bisakah kau meminjamkan atau mencarikan sesuatu yang bisa dipakai oleh klien ku ?” menunjuk Jovi yang menatap ke arah timur.
“Baik, tuan. Aku akan mencarikannya untuk anda.” pekerja wanita itu kemudian pergi ke sebuah rumah kecil yang ada kebun. “Tuan, maaf hanya ada sandal di gudang.” kembali dan membawakan sepasang sandal.
“Tak apa, terima kasih.” Nathan mengambil sandal itu kemudian berbalik dan kembali ke tempat Jovi menunggunya.
“Maaf, hanya ada sepasang sandal ini. Kau bisa memakainya sementara sambil menunggu sepatumu kering.” Nathan menyerahkan sepasang sandal pada Jovi.
“Terimakasih kak.” Jovi melepas sepatunya kemudian berganti memakai sandal yang diberikan oleh Nathan.
__ADS_1
Nathan kembali berjalan bersama Jovi. Ia menitipkan sepatu Jovi pada pekerja wanita tadi untuk menjemurnya, sementara ia dan Jovi kembali berkeliling untuk melihat dan memeriksa bahan kelapa sawit yang sudah dipanen.