
Beberapa saat setelahnya Jupe terlihat keluar dari rumah sakit bersama ibunya.
“Bu Ibu tunggu dulu di mobil sebentar aku ingin ke toilet.” ucap Jovi saat mereka berada di dekat sebuah toilet.
“Biar Ibu tunggu saja mungkin hanya sebentar.” ibunya Jovi malah ingin menunggu putrinya karena ia merasa khawatir dan tak ingin terjadi apa-apa pada calon cucunya yang sudah dinantikannya.
“Tidak bu, sebaiknya ibu menunggu di mobil dulu. Mungkin ini sedikit lama.” Jovi terpaksa berbohong agar ibunya tidak menunggui nya.
“Ya baiklah.” ibunya Jovi pun tak ingin berdebat lagi dan segera berjalan menuju ke tempat parkiran menunggu putrinya dengan duduk manis di mobil.
Wanita itu tersenyum kecil dan masih tak percaya bahwa ia akan segera menimang seorang cucu.
Selepas kepergian ibunya, Jovi ternyata tidak masuk ke toilet. Ia mencari tempat yang sepi untuk menelepon. Ya, dia mencoba menelepon Nathan untuk memberitahukan pria kehamilannya.
“Halo sayang... apa kau ingin aku menjemputmu sekarang ?” ucap Nathan ditelepon. Pria itu duduk di ruangannya dan barusan selesai mengerjakan semua laporan yang ada.
“Kak... aku di rumah sakit sekarang. Dan aku sudah memeriksakan diriku. Dokter bilang aku hamil dua minggu.” ucapnya dengan nada panik.
__ADS_1
Lama Nathan terdiam dan terkejut sekali mendengar kabar itu.
“Apa yang kau katakan itu benar, Jovi ? Berarti sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah.” Nathan sampai terdiri dari tempat duduknya karena saking senangnya.
“Tapi kak... aku ke rumah sakit bersama ibuku. Lalu bagaimana aku menjelaskannya tentang kehamilanku ini.”
Nathan kembali terdiam karena kabar bagus itu akan membawa masalah untuk mereka berdua.
“Tenang Jovi kita bisa bicarakan hal itu pada kedua orang tuamu juga pada orang tuaku. Aku rasa mereka orang yang cukup pengertian dan akan menerima penjelasan kita.”
“Bu, maaf lama menunggu.” Jovi masuk kembali ke mobil dan segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.
Selama di perjalanan dia terlihat diam dan tak bicara sama sekali. Pikirannya campur aduk antara senang juga gelisah Bagaimana harus menghadapi Deon dan keluarganya.
“Ayah sudah pulang ?” sapa ibu begitu tiba di rumah dan bertemu dengan suaminya itu di ruang tengah.
“Ya, ada Jovi rupanya.” Ayah menatap ke arah Jovi. “Kalian dari mana ?” imbuhnya sembari ikut duduk setelah dua wanita tadi duduk di sofa.
__ADS_1
Jovi diam saja dan tak berani menceritakan jika ia barusan periksa dari rumah sakit apalagi mengenai kehamilannya. Namun berbeda sekali dengan ibunya yang terlihat senang dan tak ingin menutupi hal itu.
“Ayah... sebentar lagi kita akan menimang cucu.” ibu membagi rasa senangnya itu dengan suaminya.
“Oh benarkah Jovi ?” ayah terlihat senang dengan kabar itu. “Apakah Deon dan mertuamu sudah tahu ?”
Jovi menggelengkan kepalanya, “Ayah ibu jangan beritahukan hal ini pada Deon juga ayah mertua.”
“Kenapa ?”
Jovi menarik nafas panjang dan berat sebelum menceritakannya. Karena bagaimanapun juga ia harus menceritakan hal itu pada kedua orang tuanya sebelum semuanya menjadi rumit.
“Ayah ibu... ada yang ingin ku sampaikan pada kalian. Janin dalam rahim ku... sebenarnya bukan benih Deon tapi orang lain.” Jovi mulai menceritakan aibnya meskipun ia takut mengungkapkannya.
“Apa ??” ayah dan ibu Jovi seketika terkejut mendengar pernyataan dari putrinya itu. Bahkan ayah bereaksi lebih mengejutkan lagi.
Pria itu menatap tajam pada Jovi dan tak hanya itu saja, ia bahkan menampar pipi Jovi dengan keras.
__ADS_1