
Ayah yang sedikit penasaran dan ingin tahu mencoba mengajukan beberapa pertanyaan lagi setelah beberapa saat mereka mengobrol.
“Jovi, jam berapa Deon pulang ?” tanya pria itu tiba-tiba dan membuat Jovi tertegun. “Em... em... dia tak bisa dipastikan pulangnya jam berapa, ayah. Paling cepat pukul 18.00 paling malam pukul 23.00 dan kadang tidak pulang.” Jovi menjawab sekenanya dengan maksud agar ayahnya tidak akan bertemu dengan pria bunglon itu.
Namun ternyata apa yang dipikirkannya tidaklah benar juga tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
“Deon kan masuk jajaran direksi di perusahaannya. Harusnya dia tidak pulang selarut itu. Bahkan sebagai direksi dia pun tak perlu ke kantor setiap hari. Apa gunanya sekretaris dan staff lainnya di sana ?” Ayah terlihat curiga dan mencium ada sesuatu yang aneh di sana.
“Ya... Deon kan pekerja keras, ayah. Jadi biarkan saja dia berbuat sesukanya toh itu juga perusahaannya sendiri yang seperti rumahnya makanya dia bisa pulang malam mungkin menunggu staf yang masih lembur.” jawab Novi panjang lebar menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Kau yakin Deon bekerja, tidak melakukan hal lainnya ?” imbuh ayahnya curiga sekaligus khawatir pada putrinya. “Tidak ayah. Benar tak usah mengkhawatirkan pria itu. Aku sudah terbiasa dengan jadwalnya dan sama sekali tak ada masalah dengan itu.” Jovi segera memblokir pertanyaan ayahnya dengan pernyataan tegas agar tidak kembali mendapatkan pertanyaan seputar Deon.
“Ya baiklah.” ayah pun tidak mengejarnya dengan segudang pertanyaan tentang Deon lagi.
__ADS_1
“Ayah... besok aku akan kembali ke kantor untuk membantu ayah.” tutur Jovi di tengah-tengah pembicaraan mereka. “Apa Deon mengizinkanmu kembali bekerja ?”
“Boleh ayah.” Jovi benar-benar terlihat senang dan berulang kali tertawa lepas di depan ayah dan ibunya. Mereka pun lanjutkan obrolan mereka tentang berbagai hal.
“Oh... ayah, ibu... aku mau pulang sekarang. Deon sebentar lagi pulang.” Jovi melirik jam yang melingkar di tangannya dan tak terasa dia sudah berada dua jam di sana.
“Kenapa terburu-buru ? Nanti saja pulangnya.” ayah dan ibu terlihat berat melepas kepergian putri mereka. “Aku belum menyiapkan makan malam untuk Deon, ayah ibu.” jawabnya menutupi kebohongan dengan kebohongan. “Baiklah jika begitu sering-seringlah main ke sini.”
Ia pun melajukan mobilnya Keluar dari gang menuju ke Villa Cempaka. Di luar terlihat Nathan yang masih setia menunggu selama dua jam sambil bermain ponsel.
“Itu mobil Jovi.” Nathan segera menaruh kembali ponselnya dan menjalankan mesin mobilnya kemudian mengikuti mobil Jovi tanpa sepengetahuan gadis itu.
“Sekarang aku merasa lapar lagi.” Jovi memegang perutnya yang berbunyi. “Tapi aku merasa lelah sudah keluar seharian. Jadi sebaiknya aku makan di rumah saja.” mengurungkan niatnya saat melihat sebuah restoran makanan di sepanjang jalan.
__ADS_1
Jovi tiba di rumah dan menutup kembali pintu gerbang.
“klak.” dia mengeluarkan semua barang belanjaannya dari mobil kemudian kembali menutup pintu mobil.
“Apa saja yang dibeli gadis itu ?” Nathan berada di seberang jalan di depan rumah Jovi dan mengawasinya dari luar. “Apa dia ratu shopping ?” melihat Jovi membawa banyak tas masuk ke rumah.
“Sayang sekali hari ini dia tidak mampir ke suatu tempat jadi aku tak bisa menemuinya.” Nathan pun memutuskan untuk kembali saja setelah dua jam lebih berada di jalanan.
Di dalam rumah, Jovi terus berjalan ke dalam dunia pun berhenti di depan sebuah kamar sebelum masuk ke kamarnya.
“Sepi sekali, tak ada suara atau penampakan di sini.” ia pun membuka pintu kamar yang tertutup dan ternyata kosong tak ada siapapun di sana. “Bodoh amat mau kemana si Deon aku tak peduli.”
Jovi pun segera masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia pun mengeluarkan semua barang belanjaannya dan segera menatanya di tempatnya masing-masing tak sabar menunggu datangnya esok hari.
__ADS_1