
“Sha... sadar Sha ! Apa yang kau lakukan ?!” Jovi menarik Shasha dan membantu nya berdiri lalu keluar dari kamar mandi. “Jovi...” Shasha memeluk sahabatnya itu setelah mereka duduk di kursi yang ada di ruang tengah.
“Daniel Jov...” Shasha masih memeluk sahabatnya itu dan mulai menangis sejadi-jadinya. “Aku tahu Sha pasti itu berat bagimu dia nanti dan juga di tinggal menikah dengan wanita lain oleh kekasihmu.” Jovi memeluk kemudian membelai rambut Shasha untuk menenangkan temannya itu.
Selama satu jam Shasha menumpahkan air matanya di bahu Jovi dan menumpahkan semua kesedihannya di sana hingga ia benar-benar merasa plong.
“Ingat Sha, jangan sampai kalap seperti ini tadi.” Jovi mengingatkan setelah sahabatnya itu terlihat tenang. “Jangan berpikiran pendek dan menganggap hidupmu tak berharga sama sekali.” melarang Shasha untuk melakukan praktek bunuh diri lagi. “Jika kau terlihat lemah seperti ini dan Daniel mengetahuinya maka dia akan bertepuk tangan sambil tersenyum lebar melihat penderitaan mu.” jelasnya panjang lebar menutupi sahabatnya itu seperti dia sudah matang dan dewasa saja.
“Ya, Jov... aku tahu aku kalap.” Shasha sudah berhenti menangis dan sadar kembali. “Untung saja kau kemari jika tidak aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku.” tambahnya tersenyum tipis dengan bibir yang masih gemetar dan mengucap rasa syukur karena ia masih bisa bernafas hingga detik ini.
“kriek.” pintu ruang tamu terbuka dan mereka berdua menatap ke arah pintu.
__ADS_1
“Shasha ! Apa yang terjadi pada mu nak ?” ibu Shasha masuk ke rumah bersama ayahnya dan terlihat terkejut melihat kondisi putrinya yang basah dengan tatapan sendu menatapnya.
Ayah dan ibunya Shasha kemudian duduk di sebelah putrinya.
“Shasha tadi mencoba untuk bunuh diri, tante tapi sekarang dia sudah tenang.” Jovi berbisik lirih di telinga ibunya Shasha Ya sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. “Untuk sementara tante dan om jangan membahas masalah Daniel dulu. Dan terus awasi Shasha setiap hari.” menambahkan sedikit ucapannya.
Ibunya Shasha mengangguk saja menanggapinya tanpa bicara sepatah kata pun di dalam hati ia merasa bersyukur dengan kedatangan Jovi yang menyelamatkan putrinya dan menggagalkan rencananya untuk bunuh diri.
20 menit kemudian ayah dan ibunya Shasha meninggalkan mereka berdua karena mereka tahu hanya Jovi yang bisa menenangkan putrinya.
Terlihat Shasha dan Jovi kembali mengobrol.
__ADS_1
“Kriing.” suara ponsel Jovi yang berdering menyela pembicaraan mereka berdua.
“Siapa yang menelepon apakah itu kakak Nathan ?” Jovi mengira Nathan kembali mengajaknya keluar untuk makan malam. “Halo...” jawab Jovi terlihat kesal setelah mengangkat teleponnya.
“Sudah malam begini kau ke mana ?” suara Deon terdengar nyaring di telepon hingga Jovi menjauhkan ponsel itu dari telinganya. “Apa peduli mu padaku ? Kenapa kau berteriak padaku ?” Jovi membalasnya dengan berteriak pula yang memekakkan telinga untuk membalasnya.
“Urusi saja dirimu sendiri dengan para kekasih mu !” Jovi terlihat sebal saat Deon perhatian padanya atau lebih tepatnya marah padanya.
“greb !” Shasha yang ada di samping cabe tiba-tiba merebut ponsel dari tangan temannya itu. “Deon setidaknya kau bisa bicara lembut pada Jovi. Dan malam ini dia tak akan pulang ke rumahmu tapi dia akan menginap di sini.”bicara dengan suara parau sehabis menangis.
“Oh-oh... Shasha... baiklah jika kau yang memintanya. Maka aku akan memberikan izin Jovi untuk menginap di rumahmu.” balasnya tiba-tiba memerankan suaranya dan bicara dengan nada lembut setelah mendengar suara Shasha di telepon.
__ADS_1
“tut.” panggilan berakhir dan. Shasha memberikan ponselnya kembali pada Jovi.
“Jov tadi kau ke sini apa ada sesuatu yang ingin kau bahas denganku ?” tanya Shasha kemudian. “Oh, tak ada. Aku hanya kebetulan mampir saja tadi ke sini.” jawabnya bohong karena enggan untuk bercerita di saat kondisi temannya sedang kesusahan seperti ini.