
Meskipun Jovi tidak bilang padanya tapi Nathan tampak senang sekali karena ia mengira Jovi ingin memperkenalkan dirinya pada kedua orang tuanya.
Sebelum sampai ke rumah orang tua Jovi, Nathan berhenti di sebuah pertokoan untuk membeli buah tangan agar datang ke sana tidak dengan tangan hampa.
“Kak, kenapa berhenti di sini ?” Jovi melihat mobil Nathan berhenti di sebuah pertokoan. “Bukankah kau bilang mau menemui orang tuamu ? Apa kau tidak ingin membeli sesuatu untuk mereka ?” Nathan membuka pintu dan segera turun dari sana tanpa menunggu jawaban dari Jovi.
“Sebenarnya aku hanya mampir sebentar saja untuk bertemu ibu. Tapi baiklah jika kakak bilang begitu.” Jovi ikut turun dari mobil berjalan mengikuti Nathan. Namun gadis itu terkejut saat pria itu masuk ke sebuah toko puding. “Kenapa dia memilih toko ini ? Kebetulan sekali dia tahu kesukaan ibu ?” merasa aneh saja kenapa Nathan bisa tahu jika ia akan masuk ke sebuah toko puding.
Di dalam toko puding, Nathan melarang saat akan membayar puding yang ia pesan.
“Karena yang beli aku, maka biar aku saja yang membayarnya.” Jovi akhirnya memasukkan kembali dompetnya karena tak mau berdebat dengan Nathan dengan hal kecil seperti itu.
Jovi membawa keluar puding yang Nathan pesan dan menaruhnya di mobil dan tak lama kemudian mobil kembali melaju menuju ke rumah Jovi.
“Kak Nathan seperti mengetahui rumahku saja.” Jovi kembali terkejut saat akan memberitahukan jalan menuju ke rumahnya dan ternyata Nathan sudah mengetahuinya. Namun ia sama sekali tak membahasnya, karena hal itu bukanlah masalah baginya.
__ADS_1
Jovi dan Nathan akhirnya tiba di rumah orang tua Jovi.
“Ding-dong...” Nathan menekan bel saat Jovi akan menekan bel rumah. “Kita seperti berebut bel saja.” Jovi tersenyum kecil saat tangan mereka bersentuhan. “Baiklah aku akan mengalah untukmu.” Nathan menarik tangannya dan membiarkan kali ini Jovi yang menekan bel.
Terdengar suara berjalan dari dalam rumah menuju ke pintu. Terlihat Nathan sedikit gugup namun mencoba untuk tenang.
“Jovi ?!” ibu terkejut sekaligus senang setelah membuka pintu dan mendapati Jovi ada dibalik pintu. “Masuk dulu.” ibunya Jovi menatap pria yang berdiri di samping putrinya yang ternyata bukanlah Deon. Ia tidak mengenal siapa pria itu.
Mereka bertiga kemudian duduk di kursi ruang tamu.
“Ayah... putri mu pulang.” ibu memanggil ayahnya Jovi yang berada di ruang belakang. Tak lama kemudian ayah masuk ke ruang tamu dan bergabung dengan mereka.
“Jadi... kamu adalah CEO dari Atmaka Grup yang memilih perusahaan kami menjadi mitra kerja ?” ayah tak percaya bisa bertemu langsung dengan pimpinan Atmaka Grup.
“Ya om, tante perkenalkan aku adalah Nathan.” Nathan memperkenalkan dirinya dan menjabat tangan kedua orang tua Jovi. “Tante dan om...ini ada sedikit oleh-oleh untuk kalian.” menyerahkan ****** yang tadi dibelinya pada ibu Jovi.
__ADS_1
“Terimakasih tak perlu repot-repot seperti ini.” ibunya Jovi menerima pemberian Nathan sambil tersenyum lebar.
Mereka kembali bicara selama beberapa saat. Terlihat orang tua Jovi kagum pada Nathan yang berkepribadian low profile.
“Jika tak ada kak Nathan mungkin perasaan kita tak akan mengalami perkembangan yang cukup signifikan, ayah.” Jovi beberapa kali memuji pria itu di depan kedua orang tuanya.
“Jovi kau jangan berlebihan begitu. Memang Champion Grup perusahaan yang bagus.” Nathan berusaha merendah di depan mereka semua.
Tiga puluh menit kemudian Nathan berpamitan. Terlihat mereka sudah duduk dalam mobil.
“Ayah merasa tidak putri kita sepertinya dekat dengan CEO dari Atmaka Grup ? Ibu merasa mereka dekat sekali.” ibu membahasnya bersama ayah setelah kepergian Jovi dan Nathan.
“Mereka dekat sebagai mitra kerja saja ibu jangan berpikiran lebih.” Ayah menyangkal ucapan istrinya.
Di dalam mobil Nathan
__ADS_1
“Kita kemana dulu sebelum ke hotel ?” Nathan menanyakan tujuan mereka saat di tengah jalan. “Aku tak ingin pergi ke mana pun, jadi kita langsung ke sana saja kak.” Jovi terlihat tak sabar ingin beristirahat sejenak di sana hotel.
Mobil pun meluncur menuju ke hotel sesuai permintaan Jovi.