Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 181 Membalas Jovi


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian terlihat Deon sering memata-matai Jovi diam-diam tanpa sepengetahuan wanita itu.


Dan kali ini ia mengikuti mobil Nathan yang barusan keluar dari apartemen mewah dan jalanan raya.


“Mereka pergi kemana kali ini ?” gumamnya mengawasi dari dalam mobil yang berjarak jauh dari apartemen Nathan menggunakan mobil yang tidak biasa ia pakai agar tidak mudah diketahui.


Deon melajukan mobilnya Setelah 5 menit mobil Nathan berada di jalanan dan mulai mengikutinya.


“Kak kita kemana ?” tanya Jovi di dalam mobil tak mengetahui tempat tujuan mereka kali ini.


“Kita akan membeli perlengkapan bayi. Karena sebentar lagi baby kita akan lahir.”


Ya, saat ini usia kehamilan Jovi sudah masuk ke 32 week. Dan hingga detik ini mereka belum menyiapkan sama sekali karena selain belum ada waktu untuk belanja memang menurutnya belanja dalam waktu mendekati kelahiran itu lebih baik.


“Oh... senangnya membeli perlengkapan baby.” jawab Jovi tersenyum lebar tidak sabar ingin segera sampai.


Tak lama kemudian mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan dan langsung menuju ke counter baby.


Jovi melihat-lihat dulu sebelum berbelanja untuk mencari barang yang menurutnya bagus dan ternyata perlengkapan baby di sana menurutnya bagus semua.

__ADS_1


“Yang ini lucu kak.” Jovi mengambilselimut beludru lembut motif boneka teddy.


“Ya, ambil saja.” Nathan melihat selimut yang dimasukkan Jovi sambil menatap troli yang di bawanya sudah penuh. Ia tak bisa melarang istrinya untuk banyak belanja karena memang buah hati mereka kembar dan pastinya butuh perlengkapan banyak untuk si kembar nanti.


“Apa masih ada yang belum terbeli ?” tanya Nathan mendorong dua troli sebelum menuju ke kasir untuk membayarnya.


“Ku rasa cukup, sayang.”


Nathan pun sekarang yang bayar semua barang yang dipilih oleh Jovi tersebut. Mereka kemudian keluar dari pusat perbelanjaan menuju ke tempat parkir.


Karena banyaknya barang bawaan yang harus mereka bawa maka barang yang mereka beli tak bisa di bawa dalam sekali angkut saja.


Jovi hanya mengangguk saja. Nathan kemudian kembali masuk ke pusat perbelanjaan untuk mengambil barang lainnya.


Deon yang sedari tadi masih berada di sana dan mengawasi keadaan, kini mulai bergerak setelah melihat Nathan pergi dari sana.


“Kesempatan yang bagus.” Deon langsung saja menjalankan mobilnya menuju ke arah Jovi yang akan masuk ke dalam mobil dengan kecepatan tinggi.


“broom.”

__ADS_1


“Mobil itu kenapa kecepatannya tinggi sekali ?” pekik Jovi saat terbalik melihat mobil yang mengarah padanya dan sudah terlambat baginya untuk menghindar.


“bugh.” Jovi terjatuh ke lantai dengan keras.


“Argh.... !” teriaknya keras merasa kesakitan.


“Rasakan ! Setidaknya bayi dalam kandunganmu akan mati. Akan lebih bagus jika kau mati sekalian !” Deon tersenyum puas dalam mobil melihat Jovi yang memegang perutnya dengan panik karena terlihat darah di lantai.


Ia pun segera keluar dari tempat parkir dengan cepat sebelum ada yang mengetahuinya.


“Itu kan suara teriakan Jovi.” pekik Nathan yang baru masuk beberapa langkah dalam pusat perbelanjaan mendengar suara istrinya dan membuatnya khawatir. “Apa yang terjadi padanya ?”


Nathan berbalik dan keluar dari pusat perbelanjaan kembali menuju ke tempat parkir untuk memastikan keadaan istrinya.


“Astaga... Jovi !” pekiknya saat melihat darah berceceran di lantai.


“Kak, perutku sakit.” Jovi menatap Nathan sambil menangis karena takut terjadi sesuatu pada bayi yang dikandungnya.


Nathan tak sempat bertanya bagaimana bisa istrinya bisa mengalami pendarahan seperti itu dan dia pun segera membawanya ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat.

__ADS_1


__ADS_2