Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 157 Surat Cerai


__ADS_3

Di dalam apartemen terlihat Jovi duduk bersebelahan dengan Nathan di sebuah sofa empuk. Jovi menceritakan apa yang barusan dialaminya saat berkunjung ke rumah kedua orang tuanya ada Nathan.


“Jika orang tuamu tak bisa menerima maka masih ada aku yang akan terus berada di sampingmu.” Nathan kembali memeluk Jovi yang terlihat masih terguncang dengan semuanya dan masih mencoba menenangkannya kembali.


Jovi hanya mengangguk sambil mengusap air matanya. Cukuplah baginya hanya ada Nathan di sisinya tanpa kedua orang tuanya yang kini menolaknya.


“Kau bilang kau hamil bukan ?” Nathan sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar tapi tidak terus-terusan bersedih. “Jika kau menangis janin dalam kandunganmu juga akan ikut bersedih.”


Nathan mengusap perut Jovi. “Baik-baiklah di sana nak, kami akan merawat mu dengan baik dan penuh cinta begitu kau lahir ke dunia.” saking senangnya dan tak bisa melukiskan kebahagiaannya, Nathan sampai mencium perut Jovi.


Kesedihan Jovi sedikit berkurang melihat perhatian Nathan yang begitu senang menyambut kehamilannya.


Beberapa hari berlalu. Proses cerai yang Jovi ajukan terus berlanjut hingga saat ini. Dan baik Deon maupun keluarga Sanjaya tak ada yang tahu jika Jovi menggugat cerai hingga pada satu minggu setelahnya.

__ADS_1


Nathan tidak masuk ke kantor hari ini karena ia merasa penat di sana juga merasa penat di rumah. Setelah ia memberikan sejumlah uang untuk menggugurkan kandungan dari gadis yang dikencaninya pikirannya kembali di pusingkan dengan masalah yang sama.


“Setelah Cintya yang hamil kemarin Nadia bilang juga hamil. Padahal aku selalu memakai pengaman saat bersama mereka.” Deon duduk dengan menyandarkan kepalanya yang terasa berat sekali, bingung dengan pengaduan hamil dari teman kencan lainnya.


“Ding-dong.” belum reda pusing yang dirasakannya, terdengar suara bel rumahnya. “Siapa yang datang siang hari seperti ini ? Apakah itu Nadia?” pikir Deon bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan malas menuju ke pintu.


“Oh...” setidaknya Deon merasa legal setelah membuka pintu dan ternyata yang datang bukanlah Nadia namun kurir yang mengantarkan surat untuknya.


Deon menerima surat yang diberikan oleh kurir tadi dan membawanya kembali masuk ke rumah. “Surat apa ini ?”


“Hiss...” Deon kembali merasakan pusingnya semakin bertambah setelah membaca surat gugatan cerai dari Jovi. “Beraninya dia mengajukan bercerai dariku. Apa dia sudah memikirkan perusahaannya ? Apa dia tak takut lagi padaku setelah ada backing nya ?”


Deon terlihat kesal membaca surat itu namun dia tersenyum lebar. “Maka aku akan membuat keluarga mu merasakan akibatnya Jovi.” ia mengepalkan tangannya dan memukulkannya dengan keras ke dinding yang ada di ruangan.

__ADS_1


Malam ini Jovi tak pulang ke rumah. Ia kembali menginap di apartemen mewah milik Nathan.


“Kau tinggallah disini tidak usah tinggal di rumah pria keparat itu.” Nathan menarik tangan Jovi dan menahan gadis itu supaya tetap berada di apartemen nya.


“Tapi kak, kakak hanya beberapa hari saja tinggal di sini dan tentunya aku akan kesepian jika harus tinggal sendiri.”


“Maka aku akan lebih sering tinggal di sini dan menemanimu.” Nathan mengambil kunci mobil Jovi dan menariknya kembali masuk ke rumah.


“Tapi kak, semua barangku masih ada di sana.”


“Besok aku akan menemanimu mengambil semua barang mu dan mengosongkan kamarmu.” janji Nathan. “Ya baiklah kak.” Jovi hanya mengangguk dan mengikuti pria itu masuk ke kamar.


“Rupanya kau tidak pulang hari ini Jovi.” Deon seharian menunggu Jovi bahkan saat ini ia berdiri di depan pintu kamar Jovi yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


Ia pun akhirnya pergi dari sana setelah satu jam menunggu dan masuk ke kamar lain setelah mendengar panggilan merdu seorang wanita dari dalam sana.


__ADS_2