
Nathan tiba di apartemen. Ia menurunkan Jovi di sana.
“Kau tunggu sebentar di sini aku akan menemui Ibuku dulu.” Nathan masuk kembali ke mobil setelah mencium kening Jovi.
“Jika kakak tidak kembali ke apartemen sini juga tak apa. Kita bisa bertemu lagi besok.”
“Jovi... aku hanya sebentar saja. Karena ibu ku pasti tak akan lama. Jadi tunggu aku di sini oke ?” Nathan tidak tahu kenapa Gadis itu hari ini aneh sekali dan seperti marah padanya tanpa tahu apa sebabnya.
Jovi hanya mengangguk saja menanggapinya. Ia pun segera masuk ke apartemen setelah mobil Nathan pergi dari sana.
“Kira-kira bagaimana ya tanggapan ibunya kak Nathan setelah menemuiku tadi ?” Jovi masuk ke kamar dan menaruh tas kerjanya di meja. Ia kemudian duduk termenung memikirkan apa yang sedang dibahas oleh Kak Nathan dan ibunya saat ini.
Nathan tiba di rumah dan mencari ibunya yang ternyata masih ada di sana dan duduk di ruang tengah.
“Kau sudah mengantar gadis itu pulang ?” tanya Dahlia setelah nonton duduk di kursi yang ada di depannya.
Nathan mengangguk meskipun ia hanya mengantarnya di apartemen bukan di rumah.
“Ibu bagaimana menurut ibu gadis yang ku bawa tadi sesuai dengan kriteria ibu untuk menjadi istriku ?” Nathan iseng bertanya pada ibunya.
__ADS_1
“Dia cantik, lembut juga halus. Tapi ibu seperti pernah melihatnya di suatu tempat.” timpalnya apa adanya yang membuat Nathan berpikir ibunya pasti akan mendukung hubungannya dengan Jovi.
“Tunggu... aku mengingat sesuatu.” Dahlia tiba-tiba baru ingat jika dia sebelumnya pernah bertemu dengan Jovi di sebuah acara amal.“Aku pernah melihat gadis tadi dan ku rasa ia adalah bagian dari keluarga Sanjaya.”
Deg
Nathan tampak terkejut mendengar perkataan singkat ibunya. Ia benar-benar tidak menyangka saja ibunya mengetahui identitas Jovi.
“Jika tidak salah gadis tadi adalah menantu dari keluarga Sanjaya.” ucap Dahlia menyambung omongannya.
Gleg
“Apakah ibu benar ?” ulangnya mengulangi pertanyaannya karena tak ada respon dari Nathan.
Dahlia yakin jika putranya itu diam seribu bahasa berarti itu benar.
“Haah...” Dahlia membuang nafas kasar. “Apa kau tidak tahu identitas wanita itu ? Jadi dia pasti merayu dan menipu mu.”
“Tidak ibu Jovi gadis baik. Aku sudah tahu statusnya dan aku yang mengejar dia.” Nathan akhirnya bicara untuk meluruskan anggapan yang salah dari ibunya.
__ADS_1
“Nak, gadis itu memang cantik tapi dia sudah bersuami. Sebaiknya kau cari wanita lain saja. Ibu tak setuju kau berhubungan dengannya.” Dahlia sebenarnya juga menyayangkan hal itu tapi ia tak ingin putranya memiliki kehidupan yang rumit hanya karena seorang gadis.
“Tidak ibu... pernikahan Jovi dengan suaminya hanyalah sebuah kesepakatan saja sebentar lagi itu juga akan berakhir.” Nathan mencoba menyanggah dan menjelaskan kenyataannya.
“Kau pasti sudah di tipu oleh gadis berwajah lembut itu. Ibu tidak setuju apapun itu.”
Dahlia berdiri dari tempat duduknya dan segera pergi dari rumah Nathan.
“Astaga... apa yang harus ku lakukan ? Ibu benar-benar mengira Jovi bukanlah gadis baik.” desah Nathan menghela nafas berat dan terlihat pukul sekali.
Karena ia teringat jika Jovi masih menunggunya, maka ia pun segera kembali ke apartemen.
Sesampainya di sana Nathan tak melihat keberadaan Jovi dan ia pun segera masuk ke kamar.
“Jovi...” Nathan mendapati gadis itu tertidur pulas di tempat tidur. Lama ia memandangnya. “Jovi meskipun ibuku tidak menyetujui hubungan kita tapi aku tidak bisa meninggalkanmu.” membelai pipi Jovi.
“Kak ada apa ?” Jovi membuka matanya karena merasakan sentuhan dari Nathan. “Apakah ada sesuatu yang terjadi ?” bertanya karena melihat sorot mata kesedihan Nathan.
“Tidak ada.” jawab Nathan bohong. “Aku sangat merindukan mu.” mencium bibir merah Jovi.
__ADS_1
Tak lama setelahnya terdengar Jovi yang mendesah di bawah Nathan yang memeluk pria itu erat.