Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 168 Mengatasi Serangan Deon


__ADS_3

“Kak bagaimana ini ?” tanya Jovi ikut berdiri saat Nathan berdiri dan berusaha mengejar ibunya namun ia batalkan.


“Maafkan perkataan kasar ibuku padamu.” Nathan memegang tangan Jovi dan malah minta maaf padanya. “Tak apa kak.”Jovi sama sekali tidak marah pada pria itu karena tadi Nathan membelanya mati-matian di depan ibunya.


“Lalu bagaimana rencana pernikahan kita ?” tanya Jovi terlihat pesimis.


“Kita akan tetap menikah nanti.”


“Meskipun tanpa restu dari orang tua mu juga orang tua ku ?” tanya Jovi menegaskan kembali.


“Ya, tentu saja. Kau tak perlu khawatir.” Nathan menjawab singkat dan mencium kening Jovi sambil mengusap perutnya.


Jovi tersenyum lega mendengar keputusan Nathan.


“Kita lebih baik pulang sekarang.” Nathan menutupi kesedihan atas penolakan ibunya dan segera keluar dari rumahnya kembali ke apartemen bersama Jovi.


Keesokan paginya Jovi bersiap untuk naik ke mobil merah namun Nathan dari belakang langsung merebut kuncinya.


“Satu minggu ke depan kau tidak boleh mengendarai mobil sendiri.” Nathan menarik bangun Jambi dan mengajaknya masuk ke mobilnya.

__ADS_1


“Tapi kenapa kak ?” balas Jovi bertanya balik setelah duduk di depan.


Nathan diam sejenak untuk mencari alasan yang tepat karena sebenarnya kata dokter kandungan Jovi lemah dan beresiko mengalami keguguran jika emosi atau berpikir keras karena sesuatu.


“Kondisi mu belum sepenuhnya pulih dan harusnya beristirahat di rumah sampai 3 bulan usia kehamilan.” jelas Nathan tak ingin kekasihnya itu memikirkannya dan membuat janin dalam kandungannya beresiko.


Jovi hanya tersenyum kecil saja menanggapi Nathan. Di saat terberat dalam hidupnya pria itu setia menemaninya.


“Jovi nanti aku tidak bisa menjemput mu pulang.” ucap Nathan setelah tiba di kantor Jovi. “Atau aku minta Chris saja nanti untuk menjemput mu ?”


“Aku bisa minta pada Shasha nanti untuk menjemput ku, kak.”


Nathan baru menjalankan mobilnya kembali setelah benar-benar melihat Jovi masuk ke ruangannya.


“Tuan Nathan !” panggil Chris dari kejauhan begitu bosnya itu turun dari mobil. “Ada apa Chris ?”


“Tuan gawat pagi ini performa perusahaan kita menurun 5% dari biasanya.” jelas sekretaris itu sambil menata nafasnya setelah berhenti berlari.


“Apa ?! Bagaimana bisa ?” karena selama ini perusahaannya selalu stabil dan kuat jadi tak pernah mengalami penurunan.

__ADS_1


“Setelah melakukan penyelidikan ternyata ada pihak yang dengan sengaja menyerang perusahaan ini.”


Nathan mengerutkan keningnya mendengar kabar yang mendadak tersebut. “Siapa pelaku nya ?”


“Dari semua bukti mengarah pada Sanjaya Group.”


“Sialan ! Pasti itu kerjaan Deon. Beraninya dia menyerang perusahaan ku.” Nathan sangat marah hingga Chris bergidik ngeri melihat sorot mata tajam tuannya.


“Huft....” Nathan menarik nafas kasar sambil mengusap wajahnya.


“Kita harus bertindak cepat sekarang sebelum semuanya semakin memburuk.” Nathan kembali fokus dan berpikir dengan jernih.


“Ya tuan.”


Nathan segera mengadakan meeting kecil bersama beberapa staf untuk membahas masalah itu.


“Baiklah aku kira sekian dari meeting kali ini dan kita langsung bergerak sekarang juga.” ucap Nathan mengakhiri sesi meeting.


“Baik CEO.” jawab para peserta meeting serempak.

__ADS_1


Nathan kembali masuk ke ruangan meeting bubar. Saat ini pikirannya terlihat campur aduk antara masalah pribadinya juga masalah pekerjaannya.


“Deon... jika kau memang lelaki harusnya bukan begini cara mu menantang ku.” Ya, Nathan rasanya ingin sekali mengajar dan memukul Deon hingga babak belur sampai semua rasa kesalnya pada pria itu hilang.


__ADS_2