Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 46 Suka Pedas


__ADS_3

“Kak tolong hentikan.” Jovi merasa gemetar saat pria itu menyentuh kakinya dan menarik kakinya. “Aku tahu kaki mu masih kram dan dari tadi kau menutupinya dariku.” Nathan mempererat pegangannya sehingga Jovi tak bisa lagi menarik kakinya. “Aku yakin setelah ini kakimu akan pulih dan kau bisa berjalan kembali seperti semula.” Nathan bersi keras untuk terus memijit kaki Jovi.


“Hiss...” Jovi awalnya merintih kesakitan namun beberapa saat setelahnya ia diam karena mulai merasa nyaman di saat ia akan menolaknya kembali. “Darimana pria ini belajar memijat ?” Jovi menatap intens Nathan yang fokus memijat kakinya dengan sepenuh hati, merasakan nikmatnya pijatan Nathan.


Sepuluh menit kemudian Nathan selesai memijat Jovi.


“Bagaimana, apakah rasanya sudah baikan ?” Nathan menutup kembali cream massage dan masukannya dalam tas kemudian mencuci tangannya. Sungguh suatu hal yang jarang sekali bahkan tak pernah dilakukan oleh orang Nathan pada wanita manapun.


“Rasanya lebih enakan, aku akan mencoba untuk berjalan.”Jovi kemudian menarik kakinya dan berdiri. “Ya ajaib, kaki ku sembuh seketika.” mencoba berjalan tiga langkah di sekitar tempat duduk mereka dan rasa kram di kaki Jovi hilang begitu saja entah ke mana. “Terima kasih kak.” Jovi duduk kembali setelah berterima kasih pada Nathan.


Pria yang sebenarnya dingin tanpa ekspresi itu hanya tersenyum menanggapinya karena pijatannya berhasil mengusir kesemutan dari kaki Jovi.

__ADS_1


“Ini pesanan anda.” tak lama setelahnya pelayan datang dan mengantarkan menu pesanan mereka. “Terimakasih.” balas Nathan sebelum pelayan itu berlalu pergi dari mejanya.


“Kenapa pelayan memberiku spaghetti super duper pedas seperti ini.” Nathan mengambil sepiring spaghetti yang ada di depannya dan terlihat pedas luar biasa walaupun ia belum mencicipinya saat tercium aroma merica dan cabai. “Apa aku kembalikan saja ini dan pesan lagi pada pelayan ?” berdiri dengan membawa seporsi spaghetti super pedas.


“Kakak tidak salah pesan dan jangan kembalikan itu pada pelayan. Itu adalah pesanan ku.” Jovi segera memberitahu untuk menahan langkah Nathan. “Pesanan kita tertukar.” mengambil sepiring spaghetti original dan tidak pedas yang ada di depannya kemudian menggesernya ke depan Nathan.


“Ohh...” Nathan kembali duduk dan menyerahkan sepiring spaghetti super pedas yang di bawanya pada Jovi.


“Gadis ini apa tidak mules perutnya makan makanan pedas dengan level 10 seperti ini.” Nathan menatap Jovi yang sedang menikmati makanan super pedas itu dengan lahap dan tanpa kepedasan sedikitpun, bahkan malah ia sendiri yang merasakan kepedasan hanya melihatnya saja. “Dia benar-benar berbeda dari Qiana yang tidak suka makanan pedas sama seperti dirinya .” teringat pada kesukaan cinta pertamanya.


“Ahh segar...” Jovi menaruh piringnya yang sudah kosong kemudian meminum habis segelas jus strawberry yang ia pesan. “Bukankah tadi dia bilang tidak lapar ?” Nathan tersenyum dalam hati saat melihat apa yang diucapkan oleh Jovi dan kenyataannya yang berbeda.

__ADS_1


Satu jam kemudian mereka berdua selesai makan.


“Aku akan mengantarmu pulang sekarang.” Nathan kemudian berdiri, dan Jovi mengikutinya. Ia pun segera menuju ke mobil setelah membayar tagihannya.


Mobil yang dikendarai oleh Nathan meluncur menuju ke Villa Cempaka.


“Terimakasih kak.” hanya itu saja yang bisa Jovi ucapkan pada Nathan. “Ya, tak usah kau pikirkan.” balas Nathan dari dalam mobil menatap Jovi. Ia pun kemudian segera berbalik arah dan meluncur menuju ke rumahnya.


Tepat di saat mobil Nathan berbalik, mobil Deon datang.


“Kau keluar dengan siapa ?” tanya Deon tak melihat ada mobil Shasha di sana. “Keluar sendiri. Apa kau mau menemani ku ?” Jovi sambil menetap ke jalanan saat Dion melihat keluar pagar, dan gadis itu merasa lega karena mobil Nathan sudah hilang dari sana.

__ADS_1


“Maaf jadwal ku padat, jadi aku tak bisa keluar bersamamu.” Deon kembali menatap Jovi kemudian berlalu begitu saja meninggalkan istrinya itu.


__ADS_2