
Deon menghampiri Jovi yang masih berdiri mematung di sampingnya menatap mobil kedok orang tuanya yang sudah meluncur dari villanya.
“Jovi, aku sama sekali tak menyangka ternyata kau pintar mengambil hati orang tuaku.” Deon berbalik menatap Jovi. “Tapi ingat hanya kali ini saja kau boleh merengek pada mereka dan jangan berharap untuk selanjutnya kau masih bisa merengek kembali pada mereka.” Deon memegang dagu Jovi dan akan meremasnya.
“phaaak !” Jovi menanti tangan pria itu dengan keras karena merasa najis di sentuh oleh pria kotor seperti dia.
“Aku tidak merengek pada mereka. Jika memang benar aku merengek aku pasti akan meminta lebih dari itu.” Jovi menyangkal karena merasa dirinya benar. “Bukan aku yang meminta pada mereka. Tapi mereka yang memberikannya padaku.” menatap Deon cepat ke matanya tanpa rasa takut sama sekali. “Akui saja kau kalah dari ku. Orang tua mu lebih memilih diriku daripada dirimu.” Jovi menepuk bahu Deon kemudian pergi begitu saja meninggalkan pria itu.
“Argh....sakit... bagaimana dia bisa menepuk ringan bahu ku saja rasa nya seperti meremas nya saja.” Deon menyentuh bahu kirinya yang terasa nyeri.
Dua jam kemudian terlihat Jovi yang selesai berkaraoke seorang diri di kamar menyanyikan sepuluh lagu hingga suaranya mulai serak.
“Jam berapa sekarang ?” Jovi berhenti sebentar dan mematikan mic yang di pegang nya kemudian melihat ke arah jam yang tergantung di dinding. “Deon sudah berangkat jam segini. Sebaiknya aku sudahi sesi karaoke kali ini.” menaruh kembali yang masih dipegangnya dan membereskan semuanya.
__ADS_1
Selesai beberes, dia pun berganti baju dan mengambil dompetnya mengintip isinya.
“Kartu itu masih aman berada di sini.” Jovi tersenyum kecil melihat kartu kredit pemberian ayah mertuanya yang masih tersimpan rapi dalam dompetnya.
Ia pun kemudian segera keluar rumah sambil meraih kunci mobilnya menuju ke garasi.
“Broom...” tak lama kemudian terlihat mobil kuning itu meluncur keluar dari Villa Cempaka di jalan raya. “klak.” mobil Jovi kemudian berhenti di sebuah swalayan.
“It's shopping time.” Gadis itu tersenyum lebar berjalan masuk ke swalayan dengan langkah kaki yang ringan mengayun.
Ia pun berhenti di stand tas wanita dan melihat-lihat.
“Ini dan ini... bagus yang mana ?” Jovi mengambil dua tas yang menurutnya bagus dan terlihat bingung mau memilih yang mana. “Yang ini saja.” akhirnya ia pun mengembalikan satu tas lainnya dan menyerahkan satu tas yang ia pilih pada pelayan yang ada di sana.
__ADS_1
Jovi kembali berjalan menuju ke stand sepatu wanita.
“Model terbaru sepertinya yang ini.” Jovi langsung mengambil sepasang sepatu dan mencobanya. “Tolong yang ini tapi ukuran 39.” menyerahkan pada pelayan karena sesuai dengan seleranya dan tak memilih lagi.
Selesai memilih sepatu ia pun berhenti di stand pakaian.
“Pakaian kerja ku sudah lama dan aku butuh yang baru.” Jovi melihat-lihat kemudian langsung mengambil 10 pasang pakaian sekaligus dan mencobanya di ruang ganti. “Tolong bungkus ini.” Jovi menyerahkan tujuh pasang pakaian pada pelayan dan mengembalikan tiga pasang pakaian lainnya ke gantungan.
Jovi kemudian pergi ke kasir untuk membayar semua barang belanjaannya.
“Silahkan nona untuk pembayarannya.” kasir menyerahkan EDC pada Jovi dan gadis itu menggesekkan credit card nya. “Terima kasih nona.” kasir mengambil kembali EDC lalu menyerahkan semua belanjaan Jovi.
Di kantor terlihat ayahnya Deon sedang duduk di ruangan kerjanya.
__ADS_1
“Ding.” pria itu segera mengeluarkan ponselnya setelah mendengar ada notifikasi pesan yang masuk untuknya. “Ha... Jovi kau sudah menggunakan kartunya rupanya. Mungkin Deon tak memberi mu kartu apa pun sehingga kau memborong seperti ini.” tersenyum membaca laporan credit card nya. Ia pun menaruh kembali ponselnya ke meja dan melanjutkan kerjanya.
Sepuluh menit kemudian Jovi terlihat keluar dari Swalayan dengan menenteng banyak tas belanjaan dan masuk ke mobil kuningnya.