Godaan Duren Impoten

Godaan Duren Impoten
Eps. 161 Posisi Perusahaan Terancam


__ADS_3

Tiga hari kemudian di pagi hari. Jovi membuka matanya dan menoleh ke samping menatap Nathan yang masih tertidur pulas di sampingnya.


“ugh....” Jovi kembali merasakan mual setelah duduk. Ia pun segera menuju ke wastafel yang ada di luar kamar begitu ingin muntah.


Hoek


Jovi memuntahkan semua isi perutnya yang kosong di pagi hari sampai ia benar-benar merasa lemas dan tubuhnya pun terlihat gemetar.


“Jovi...” Nathan segera bangun dan turun dari tempat tidur begitu mendengar suara Jovi yang muntah di luar kamar. “Kau tidak apa ?”


Jovi menggangguk pelan dengan wajah yang pucat menatap Nathan yang menghampirinya. Ia sendiri juga tidak tahu di kehamilan empat minggunya ini ia merasa semakin mual setiap harinya yang juga membuatnya tidak nafsu makan.


“Kak, kepala ku pusing.” Jovi berjalan menuju ke kursi sambil memegang kepalanya. Namun belum sampai ke kursi gadis itu terlihat sempoyongan dan akhirnya ambruk.


“Jovi... kau kenapa ?” untung saja Nathan dengan sigap menangkap tubuh Jovi.


Ia kemudian membaringkan di kursi terdekat. “Jovi... bangun... kau membuat ku takut.” Nathan melihat Jovi yang memejamkan matanya dan ternyata tak sadarkan diri.

__ADS_1


Pria itu berulang kali membangunkannya namun Jovi tetap memejamkan matanya.


“Ada apa dengan mu Jovi ?” Nathan terlihat panik tak tahu apa ya harusnya lakukan setelah mengoleskan beberapa minyak aromaterapi untuk menyadarkannya dan melakukan hal lainnya yang ternyata tidak berguna.


Nathan pun kemudian masuk ke toilet sebentar hanya untuk menggosok giginya saja kemudian berganti baju.


“Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang daripada terjadi apa-apa.” ia segera membopong tubuh Jovi dan memasukkannya dalam mobil.


Nathan mengendarai mobil menuju ke rumah sakit dengan panik.


“Suster tolong.” ucap Nathan setelah tiba di rumah sakit dan segera mencari petugas medis.


“Bagaimana dok keadaan pasien ?” tanya Nathan pada dokter yang sudah selesai melakukan perawatan.


“Tuan, pasien dehidrasi juga kurang nutrisi sehingga membuat nya lemas.”


“Oh... lalu bagaimana keadaan janinnya ?” tanya Nathan terlihat panik memikirkan buah cintanya dalam perut Jovi.

__ADS_1


“Anda tak perlu khawatir tuan. Ibu dan janinnya baik-baik saja. Kami sudah melakukan perawatan untuk mengatasinya.”


“Terimakasih dokter.” Nathan merasa lega mendengar penjelasan dari dokter.


Pria itu duduk di sana satu jam menunggu namun Jovi masih belum sadar juga. Ia pun mengambil ponselnya dan menelepon Chris menggambarkan jika dirinya berangkat siang atau mungkin tidak masuk hari ini.


“Ya tuan, aku akan menghandle semuanya hari ini.” ucap sekretaris Nathan itu ditelepon.


Di lain tempat di Champion Group terlihat Samuel Arlen, ayahnya Jovi berada di kantor hari ini. Pria itu sedang duduk di ruangannya dan memeriksa laporan terbaru perusahaan nya.


“Apa aku tidak salah lihat ? Tiga hari yang lalu perusahaan ini berada di urutan ke-7 tapi hari ini turun drastis menempati posisi ke-50.” Samuel terkejut setengah mati melihat performa perusahaan nya yang turun hanya dalam waktu tiga hari saja.


“Apa yang sebenarnya terjadi ?” pekiknya mencoba tenang dan berpikir dengan jernih di tengah ketegangan yang ada.


“Apa mungkin ini karena gugatan cerai Jovi ?” gumam pria itu pada akhirnya mencoba mencari benang merah penyebab kekacauan itu.


Tak menunggu waktu lama pria itu pun kemudian berjalan menuju ke ruangan Jovi namun ia tidak menemukan putrinya di sana.

__ADS_1


“Kenapa nomornya juga tidak bisa di hubungi ?” Samuel mencoba menelepon dan menanyakan hal itu pada Jovi namun telepon tidak tersambung.


Pria itu hanya bisa menarik nafas kasar setelah tak lama setelahnya sekretaris Jovi memberitahunya jika putrinya hari ini tak masuk kantor.


__ADS_2