
Jovi masih memeluk Nathan dikarenakan kondisi boat yang masih belum stabil dan ia takut terjatuh.
“Kenapa aku tiba-tiba merasa gugup dan berdebar seperti ini saat berada di dekatnya ?” Jovi mencoba menenangkan dirinya agar tidak gugup. “Kenapa detak jantung Jovi dua kali lebih kencang daripada detak jantungku ? Apa dia berdebar karena aku ?” Nathan berasumsi sendiri dan tersenyum dalam hati bisa berada sedekat ini dengan gadis itu.
“Maaf kak, aku tak sengaja dan refleks saja.” Jovi segera melepas pelukannya setelah boat kembali stabil seperti sedia kala. “Tak apa, aku yang minta maaf karena ceroboh dan menambah tapal batas.” Nathan menimpali dan dalam berarti tak rela gadis itu melepas pelukannya.
Mereka mengelilingi danau sampai ke ujung kemudian turun dari sana 30 menit kemudian.
“Setelah ini kita ke mana lagi, kak ?” Judith terlihat sedikit malu setelah kejadian tadi dan tak berani menatap langsung mata Nathan. “Bagaimana jika kita ke kincir angin itu saja ?” Nathan menunjuk ke arah kincir angin Belanda.
Jovi hanya mengangguk saja dan ia pun mengikuti Nathan berjalan ke manapun pria itu pergi.
__ADS_1
“Ada penjual bunga di sana ?” Nathan melihat ada seorang wanita membawa keranjang berisikan bunga dan beberapa pengunjung yang mendatanginya dengan menyerahkan beberapa lembar uang.
“Jovi kau tunggu sebentar di sini, aku ingin masuk ke sana.” Nathan menunjuk ke sebuah bangunan kemudian segera masuk ke sana.
Jovi menunggu di luar dan dia pun berjalan di sekitar tempatnya berada untuk melihat-lihat hamparan bunga berwarna-warni yang terhampar di sana.
“Bunga disini indah sekali. Sayangnya aku tak bisa membawanya pulang.” Jovi terlihat kecewa saat lihat papan kayu yang bertuliskan larangan untuk memetik bunga yang ada di sana.
“Ini untuk mu.” Nathan menyerahkan sebuket mawar merah yang ia beli pada Jovi. “Oh... terimakasih, kak.” Jovi yang memang menginginkan membawa pulang sebuah bunga terlihat berseri-seri menerima bunga itu dari Nathan tanpa pikiran apapun.
Mereka beruang kembali berjalan dan mengunjungi semua area riset yang ada di sana hingga siang hari.
__ADS_1
“Aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Apa tepat jika aku mengungkapkannya sekarang ?” Nathan menatap Judith yang sedang mencium mawar merah pemberiannya.
“Jovi ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Nathan mencoba mengawali pembicaraan sebelum mengutarakan maksud yang sebenarnya. “Ya kak, katakan saja.” balasnya singkat.
“kruuk.” belum sempat Nathan mengungkapkan perasaannya. Ia mendengar suara perut Jovi yang berbunyi nyaring.
“Ha...” Nathan tersenyum kecil mendengarnya. “Ini memang jam makan siang. Apa sebaiknya kita makan siang dulu saja ?” membatalkan mengungkapkan perasaannya dan lebih mengutamakan untuk mendahulukan perut Jovi yang lapar.
“Ohh... maaf...” Jovi terlihat malu dengan perutnya yang tak bisa diajak kompromi di saat seperti ini. “Kita kembali ke mobil dulu.” Nathan segera keluar dari area resort tapi memang kebetulan juga sudah selesai mengunjungi semua area yang ada di sana.
“Kita mau ke mana, kak ?” tanya Jovi setelah mereka berdua sampai di mobil dan duduk di sana. “Ke Hobbit Hills.” jawabnya singkat saat mengemudikan mobil tanpa memberikan penjelasan jenis resort apa itu.
__ADS_1
Jovi yang sama sekali tak tahu menahu tentang Hobbit Hills hanya mengangguk saja dengan penasaran.