Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Dinda Sakit


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, pagi itu Dinda tidak dapat bangun lebih pagi dari biasanya.


Tubuhnya terasa remuk redam, semalam baru saja terjadi pertempuran hebat antara Dio dan Dinda, hanya karena ramuan yang salah, yang di berikan oleh Fitri.


Entah mengapa tubuh Dinda jadi tak bertenaga, tulang-tulangnya terasa remuk redam, yang lebih sakit adalah bagian inti dari kewanitaannya, karena Dio melakukannya lebih dari lima ronde dalam semalam.


"Mas ..." panggil Dinda lirih.


Dio masih nampak berbaring di sampingnya dengan tubuhnya yang masih polos.


Mendengar suara istrinya, Dio mulai membuka matanya perlahan.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Dio.


Sinar matahari pagi nampak masuk melalui celah jendela kamar yang besar itu.


"Mas, aku lemas sekali, aku tidak bisa bangun pagi, maafkan aku ya, belum menyiapkan pakaian, air hangat dan sarapan untukmu!" ucap Dinda.


"Ssst, tidur saja lagi, hari ini kamu tidak usah masuk mengajar dulu, nanti aku yang akan bilang ke kepala sekolah!"


"Tapi Mas ..."


"Jangan membantah lagi aku tau kamu pasti sangat lelah, semalam aku telah bertindak seperti singa lapar yang berkali-kali menerkamnya mangsanya!" ujar Dio.


"Sejak dulu kamu memang kayak singa Mas!"


Dio kemudian beranjak bangkit dari tempat tidurnya, dengan tanpa malu berjalan polos di hadapan Dinda menuju ke kamar mandi.


Beberapa saat lamanya Dio membersihkan dirinya, kemudian keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang hanya di lilitkan di pinggangnya saja.


"Kamu istirahat saja sayang, aku ijin mengantar Chika ke sekolah, sekalian ketemu sama kepala sekolah, soal kamu yang sakit dan tidak bisa mengajar!" kata Dio yang kini duduk di sisi tempat tidurnya itu.


"Iya deh Mas, trimakasih ya Mas!"


"Nanti aku suruh Mbak Yuyun membawakan kamu sarapan, pokoknya kamu jangan kemana-mana, istirahat saja seharian ini!" bisik Dio sambil mengecup kening Dinda.

__ADS_1


Setelah Dio rapi berpakaian, dia segera keluar dari kamarnya, kemudian turun dan langsung menuju ke ruang makan.


Chika nampak sudah menunggunya di ruang makan tersebut.


"Kok tumben Mama tidak turun Pa? Biasanya Mama sudah sibuk bantuin Mbak Yuyun!" tanya Chika.


"Mama lagi sakit, biarin dia istirahat, Chika di antar Papa ya!" sahut Dio sambil mulai menyantap sarapannya yang sudah tersedia di meja makan.


"Yah, Mama sakit apa sih? Kemarin masih main dan bercanda kok sama aku!" tanya Chika.


"Mama kecapean sayang, sudahlah, cepat habiskan makananmu, setelah ini kita berangkat!" sahut Dio.


"Memangnya Mama habis ngapain kecapean? Kan dari kemarin cuma duduk doang, tidak kerja yang bikin capek!" tanya Chika lagi. Dio mulai kesal.


"Ampun deh, kamu kepo amat sih, Mama capek itu karena semalam melayani Papa untuk membuat adik buat kamu, paham?!" sahut Dio keceplosan.


"Apa? Buat adik bayi??"


"Upss, sorry, lupain saja kata-kata Papa, sekarang kita berangkat yuk!"


Chika hanya terlihat bengong sambil mengerutkan keningnya dan mengetukkan telunjuknya di keningnya, memikirkan ucapan Papanya itu.


****


Di tempat kediaman Pak Dirja, Keyla sudah terlihat rapi berpakaian, setelah dia selesai mandi sehabis bangun tadi.


Ken masih terlihat tidur meringkuk di sofa, hanya dengan sebuah bantal dan selembar selimut yang menutupi tubuhnya.


Sebenarnya Keyla kasihan juga melihat Ken, walau bagaimana dulu mereka pernah bersahabat dan sangat dekat, kini Ken dengan ikhlas mengesampingkan ego nya, demi sebuah rasa tanggung jawab.


Ken membuka matanya saat mendengar ada suara langkah kaki keyla yang hendak keluar dari kamar itu, Ken langsung bangun dan duduk di sofa tempatnya tidur tadi.


"Kamu mau kemana Mbak Key?" tanya Ken.


"Suka-suka aku dong mau kemana, rumah rumah aku kok!" sahut Keyla.

__ADS_1


"Tapi kan sekarang aku suami mu Mbak, wajar kan kalau aku tanya istriku mau kemana!" ujar Ken.


Keyla tertawa mendengar ucapan Ken.


"Suami?? Aku bahkan malu menganggap kamu sebagai suamiku, sudahlah Ken, kau di rumah aja baik-baik temani Ayah, aku mau keluar, cari angin, refreshing!" ujar Keyla yang langsung melangkah keluar dari kamarnya.


Ken buru-buru melipat selimutnya dan menyusul Keyla keluar.


"Mbak Keyla! Tunggu Mbak!" panggil Ken.


"Cukup Ken! Kau urus saja dirimu sendiri, bukankah kita sudah sepakat kan? Kalau pernikahan ini hanya sementara sampai bayi ini lahir!" tegas Keyla sambil menoleh ke arah Ken.


"Oke, tapi Mbak Keyla harus ingat, di perut Mbak Keyla itu ada anakku, jadi aku berhak melindungi anakku dari apapun, jadi, aku akan ikut kemanapun Mbak Keyla pegi!" sahut Ken.


"Ken! Kamu menyebalkan! Aku tidak mau kamu buntuti, paham!?" sengit Keyla.


"Ken benar Nak, tidak pantas lagi kamu pergi sendirian kemanapun, walau bagaimana, Ken itu suamimu sekarang!" kata Pak Dirja yang tiba-tiba sudah berjalan ke arah mereka.


"Tapi Ayah, aku tidak suka di kekang seperti ini, aku ingin bebas!"


"Keyla, ini masih pagi, kamu makanlah dulu bersama dengan suamimu, juga Ayah, Bi Titi sudah menyiapkan banyak sekali sarapan!" lanjut Pak Dirja.


Mau tidak mau Keyla menuruti keinginan Ayahnya itu, satu-satunya orang yang dia segani hanyalah Ayahnya.


Mereka kemudian mulai melangkah ke ruang makan, di meja makan itu, tersedia banyak sekali makanan.


"Key, wanita yang sedang mengandung, perlu makan makanan yang sehat dan bergizi tinggi, supaya bayi kalian kelak sehat dan pintar!" kata Pak Dirja.


Keyla diam saja, dia langsung menyantap makanannya itu, sesungguhnya dia tidak perduli mengenai bayi yang tidak diinginkannya itu.


"Ayah, mulai hari ini aku akan menjaga anak Ayah, juga calon cucu Ayah!" ucap Ken.


"Ken, Ayah bangga padamu, kamu bisa berubah, bukan Ken seperti yang Ayah kenal dulu, Ayah titip keyla padamu, Ayah yakin kamu bisa membimbing dan menjaga dia!" kata Pak Dirja dengan tatapan hangat pada Ken, yang kini telah menjadi menantunya itu.


Bersambung...

__ADS_1


****


__ADS_2