
Dinda membantu Mbak Yuyun dan Bu Lilis menata meja makan untuk makan siang.
Sudah sejak tadi Dio berangkat untuk menjemput Chika ke sekolah.
"Sudah Bu Dinda duduk saja, nanti capek, kata Pak Dio kan Bu Dinda tidak boleh kerja berat!" kata Yuyun.
"Kerja berat apa sih Mbak, orang cuma menata meja saja kok!" tukas Dinda.
"Yuyun benar Din, kesehatanmu itu lebih penting lho, sudah sana, lebih baik kamu duduk, sebentar lagi suami dan anakmu datang!" timpal Bu Lilis.
Akhirnya Dinda menuruti kata Ibunya, dia tidak mau berdebat lebih panjang lagi, apalagi Dio dan Chika sebentar lagi pasti datang.
Ting ... Tong ...
Tiba-tiba bel pintu rumah Dio berbunyi, Mbak Yuyun langsung dengan cepat menuju ke arah depan untuk membukakan pintu.
Tak lama kemudian Pak Dirja datang sambil membawa sekantong makanan.
Bu Lilis sangat terkejut melihat kedatangan Pak Dirja, begitu juga sebaliknya.
"Lilis?? Kau ada di sini?" tanya Pak Dirja terperangah.
"Iya Pak, menengok Dinda!" jawab Bu Lilis.
"Kamu kemana saja Lis? Kenapa kamu terkesan menghindariku? Kenapa?" tanya Pak Dirja.
"Sudahlah Pak, kita sudah tua, mau apa lagi?" sahut Bu Lilis.
"Justru karena kita telah sama-sama tua, kita pasti akan saling membutuhkan, karena anak-anak tidak selalu ada untuk kita!" ucap Pak Dirja.
Dinda hanya termangu memandang kedua orang tuanya, yang bahkan tidak pernah terikat dalam suatu pernikahan.
__ADS_1
"Bu, biarkan saja Ayah di sini, sesekali kita emang perlu bersama!" ucap Dinda.
Mereka kemudian mulai duduk di ruang keluarga.
Pak Dirja dan Bu Lilis nampak canggung, selain mereka dulunya adalah majikan dan pengasuh, terlalu lama tidak berkomunikasi membuat mereka bahkan seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
"Ayah dan Ibu mengobrol saja, aku mau ke depan, duduk di teras sambil menunggu Mas Dio dan Chika!" kata Dinda yang sedikit merasa sungkan berada di antara kedua orang tuanya itu.
Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Dinda langsung beranjak meninggalkan mereka menuju ke teras depan.
Pak Dirja dan Bu Lilis saling diam, dan saling menunggu untuk berbicara.
"Lis, anak-anak sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri, tidakkah kau merasa kesepian?" tanya Pak Dirja.
"Kesepian? Aku bahkan sejak dulu merasa kesepian, apalagi sejak Dinda kuliah dan bekerja di Jakarta, aku sudah terbiasa dengan kesendirianku!" jawab Bu Lilis.
"Kenapa kita tidak bersama saja, menghadapi masa tua kita bersama-sama, aku sendiri, kamu juga sendiri!" ungkap Pak Dirja.
"Oke, aku juga tidak minta sekarang, tapi paling tidak, hatimu sudah terbuka untukku!" ucap pak Dirja.
Sementara itu Dinda masih duduk menunggu di teras depan rumahnya, tidak biasanya Dio dan Chika begitu lama pulang, ini bahkan sudah hampir jam 1 siang, tapi mereka belum juga nampak pulang ke rumah.
Dinda terus duduk menunggu, dia juga tidak berniat kembali masuk ke dalam rumah, dia memberi kesempatan ayahnya dan ibunya untuk saling berbicara, mungkin di usia mereka yang sudah senja, mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain.
Dinda juga tidak bisa melarang ibunya atau ayahnya untuk bisa bersama, walau bagaimana mereka adalah orang tua kandungnya, meskipun Dinda dilahirkan tanpa ada ikatan pernikahan.
Tak lama kemudian, Bang Jarwo nampak membuka pintu gerbang rumah itu, mobil Dio sudah masuk dan kini terparkir Di pelataran Rumah yang luas itu.
Kemudian dengan langkah riang Chika yang baru turun dari mobil nampak berlari lari menghampiri Dinda yang masih duduk di teras menunggu mereka.
Sementara Dio juga jalan di belakang Chika kemudian dia langsung duduk di sebelah Dinda.
__ADS_1
"Maafkan kami sayang, pulang Agak terlambat, tadi jalanan begitu macet, ada kecelakaan di Jalan!" ucap Dio sementara Chika sudah berlari masuk kedalam rumah.
"Tidak apa-apa Mas, didalam sedang ada Ayah Dirja, Dia sedang mengobrol dengan ibu, aku sengaja disini menunggu kalian, supaya mereka tidak merasa risih dengan kehadiranku!" kata Dinda.
"Dinda, kalau menurutku sebaiknya ibu dan ayah Dirja kita berikan kesempatan untuk bersama, mereka sama-sama sendiri dan membutuhkan teman satu dengan yang lain!" ucap Dio.
"Aku sih terserah mereka saja, mereka sudah sangat dewasa untuk memutuskan sesuatu, aku pikir yang membuat mereka berat itu adalah Mbak Keyla, Mas tau sendiri kalau mbak Kayla itu sangat tidak menyukai ibu dan aku?" tanya Dinda.
"Aku rasa sekarang Keyla sudah berubah, apalagi sekarang ada Ken yang jadi suaminya mereka juga pasti tidak akan keberatan jika ayah Dirja memikirkan kebahagiaannya sendiri bersama dengan ibumu!" jawab Dio.
"Kenapa Mas Dio begitu yakin?" tanya Dinda.
"Aku sangat yakin, karena cinta yang terpendam pada masa lalu, yang tidak bisa diungkapkan, mungkin saat inilah mereka bisa saling mengungkapkan!" jawab Dio.
"Oh begitu ya, Lalu bagaimana dengan cinta masa lalumu dengan Jessica? apakah mungkin di masa yang akan datang bisa saling mengungkapkan?" tanya Dinda.
Dio agak terkejut mendengar pertanyaan Dinda.
"Kamu ini bicara apa sayang? kenapa kau kaitkan masalah ayah dan ibu dengan Jessica? Ya jelas berbeda lah!" sahut Dio, dia mulai gusar karena kembali Dinda mengingatkannya pada Jessica, Padahal dia juga sudah berusaha untuk tidak mengingat lagi.
"Maaf Mas, kalau begitu kita masuk kedalam yuk, barangkali ayah dan ibu sudah lapar dan ingin makan bersama, kasihan Chika juga pasti lapar dari pulang sekolah belum makan!" ajak Dinda.
"Baiklah sayang, Berjanjilah untuk tidak lagi mengungkit masa lalu, saat ini yang kini berdiri di hadapanmu ini adalah suami yang hanya memiliki satu istri dalam hidupnya, kamu boleh pegang kata-kataku!" ucap Dio.
"Iya Mas, dan aku harap sudah tidak ada lagi nama Jessica di dalam hatimu, sehingga tidak lagi keluar dari mulutmu saat kau memejamkan matamu!" balas Dinda.
Dio menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian dia maju dan menggandeng tangan Dinda untuk melangkah masuk kedalam rumahnya itu.
Bersambung ....
*****
__ADS_1