
Malam itu Dinda dan Dio bercinta dengan begitu indah dan intim, di sertai dengan guyuran air hujan yang tiba-tiba turun membasahi bumi.
Dengan suara rintiknya yang terdengar seperti suara musik yang merdu dan syahdu, yang menemani aktivitas mereka malam itu.
Dio nampak berpeluh, padahal suasana begitu dingin, hembusan angin malam masuk melalui celah jendela kamar itu.
Pada saat Dio sudah mencapai pelepasan hasratnya, dia kemudian mulai terkulai lemas, Dinda juga merasakan hal yang sama, berada di posisi atas membuat milik Dio terasa menancap dengan sangat dalam, hingga terasa menembus hingga ke dalam rahimnya.
Perut Dinda menegang, rasanya begitu keras, Dinda berbaring sambil menarik nafas panjang dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
"Kenapa sayang?" tanya Dio.
"Perutku keras sekali, sepertinya bayi kita tegang di satu tempat, apa karena kita terlalu bersemangat malam ini!" Jawab Dinda.
"Bukankah biasanya juga seperti itu? kau selalu di atas bukan sejak tujuh bulan kehamilan mu?" ujar Dio.
"Kamu benar Mas, tapi kan biasanya kita melakukannya biasa saja, santai dan dengan sangat perlahan, tapi entah mengapa malam ini rasanya kita seperti berpacu!" ucap Dinda.
"Ah, kamu yang bersemangat, aku kan hanya mengimbangimu saja!" kata Dio sambil tersenyum mengoda.
"Ah, Mas Dio bisa saja, bukankah Mas dio yang mengajak duluan?" Dinda nampak tersipu.
"Ya ya, aku kalah, aku memang yang mengajakmu, sekarang kita tidur ya, istirahat, besok pagi aku harus bangun dan berangkat ke kantor!" ucap Dio sambil mulai memejamkan matanya, membiarkan saja tubuh polosnya begitu saja.
"Mas Dio ini, dasar tak tau malu!" gumam Dinda sambil membersihkan bagian tubuh Dio sebelum dia menyelimuti tubuh polos suaminya itu.
Tak lama kemudian mereka mulai memejamkan mata mereka, di sertai dengan suara rintikan air hujan yang turun malam itu.
****
Saat pagi hari, Dinda terbangun saat merasakan ada yang basah di bawah tubuhnya.
Dinda kemudian mulai bangkit dari tidurnya, dan menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Matanya melotot saat dilihatnya tempat tidur itu sudah basah, dan ada ada bercak darah.
__ADS_1
"Aaarrrgghh Mas Dio!" jerit Dinda.
Dio yang masih tertidur pulas itu, langsung kaget terperanjat saat mendengar teriakan Dinda, spontan dia langsung melompat dari tempat tidurnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Dio panik.
"Itu Mas, basah! Darah!" sahut Dinda sambil menunjuk ke arah tempat tidurnya.
Mata Dio melotot saat melihat tempat tidur yang basah dengan bercak darah, wajah Dio langsung berubah menjadi cemas dan khawatir.
"Kita kerumah sakit sekarang!" seru Dio yang langsung menyambar pakaiannya dan dengan cepat-cepat memakainya.
Setelah itu Dio langsung menggendong Dinda turun ke bawah menuju ke mobilnya, tanpa memperdulikan Dinda yang belum berganti Pakaian, masih mengenakan pakaian tidur tanpa pakaian dalam.
"Hei, kamu mau kemana Dio?!" tanya Bu Lian yang kebetulan sudah ada di ruang keluarga, duduk sambil membaca buku.
"Ke rumah sakit!" sahut Dio singkat.
Bu Lian nampak mengerutkan keningnya, heran melihat Dio yang menggendong Dinda dan langsung pergi begitu saja.
Dio sampai tidak ingat harus mengatakan pada Bu Lian dan dia juga lupa pamit pada Chika, saat ini ada dipikirannya adalah Dinda dan keselamatan bayinya.
****
Sementara itu, Chika yang sudah bersiap dan rapi mengenakan seragam nampak heran, karena Mama Papanya sudah tidak ada, sudah pergi dari sejak pagi-pagi tadi.
Dengan wajah lesu Chika duduk di ruang makan itu, tidak berselera menyantap sarapan yang kini sudah ada di hadapannya itu.
"Ayo Non Chika, sarapannya dimakan, tuh sudah tinggal 15 menit lagi, nanti non Chika terlambat masuk sekolah, tuan besar sudah menunggu tuh di garasi, mau antar non Chika!" kata Mbak Yuyun.
"Kok sepi sih Mbak, pada kemana orang-orang?" tanya Chika.
"Tadi sih Mama Papanya Non sudah pergi pagi-pagi, tapi Mbak tidak tau kemana perginya!" sahut Mbak Yuyun.
"Hmm, payah deh semua, aku jadi malas makan!" kata Chika.
__ADS_1
Tiba-tiba Bu Lian masuk ke ruang makan dan langsung duduk di sebelah Chika.
"Chika, ayo habiskan sarapan mu, setelah itu kita berangkat!" kata Bu Lian.
"Memangnya Oma mau antar aku sekolah? Biasanya Oma di rumah tidak pernah mengantar aku, kan aku biasa diantar papa!" tanya Chika.
"Hari ini Oma dan Opa yang akan mengantar Chika ke sekolah, karena Papa sedang mengantar Mama ke rumah sakit, sepertinya tidak lama lagi adiknya Chika akan lahir!" jawab Bu Lian.
"Beneran Oma? Kalau begitu aku tidak usah masuk sekolah saja, aku mau ke rumah sakit mau lihat adik bayi aku lahir!" seru Chika bersemangat.
"Chika harus tetap sekolah! Kalau tidak Nanti papa Dio pasti akan marah! Lagipula adiknya Chika kan belum lahir sekarang, karena Mama Chika masih harus diperiksa oleh dokter!" kata Bu Lian. Wajah Chika berubah kecewa.
Akhirnya mau tidak mau Chika menganggukkan kepalanya, dan dia pun berangkat ke sekolah pagi ini diantar oleh Pak Frans dan Bu Lian.
Setelah dari sekolah Chika, Pak Frans dan Bu Lian langsung menuju ke rumah sakit tempat dimana Dio membawa Dinda ke sana.
Sebab tadi Dio sudah mengabari Ayah dan Bundanya, bahwa Dinda sekarang dirawat di rumah sakit, karena air ketubannya sudah pecah, Kemungkinan tidak lama lagi Dinda akan melahirkan.
****
Sementara itu itu Dio kini sedang duduk di samping Dinda yang sedang terbaring di salah satu kamar VIP di rumah sakit itu.
Dokter mengatakan bahwa air ketuban Dinda sudah pecah, padahal Dinda belum waktunya melahirkan, prediksi HPL Masih sekitar 2 minggu lagi, Namun ternyata air ketuban Dinda sudah keburu pecah, dan mau tidak mau Dinda harus melahirkan bayinya dalam waktu dekat.
Seorang dokter dan Seorang perawat masuk untuk mengecek kondisi Dinda, serta detak jantung bayi yang ada di dalam kandungan Dinda.
"Istri saya Mengapa bisa sampai seperti ini dokter? Padahal kemarin-kemarin dia masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba pagi-pagi air ketubannya bisa pecah seperti itu?" tanya Dio.
"Pak Dio, semalam itu kalian bercinta terlalu Dahsyat dan kuat, hingga membuat lapisan air ketuban terkoyak, tapi sudahlah, sekarang yang kita pikirkan adalah supaya Bayinya bisa lahir dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun!" jelas dokter.
Dinda dan Dio saling berpandangan menahan rasa malu, semalam itu mereka memang melakukan hubungan yang berbeda dari biasanya, sehingga membuat Dinda lebih cepat kontraksi, dan saat ini pun, Dinda sudah mulai merasakan perutnya yang mulas, akibat kegiatan mereka semalam yang penuh gairah itu.
Bersambung...
****
__ADS_1