Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Tabir Misteri


__ADS_3

Dio perlahan meraba daun yang menempel di tembok Ujung taman belakang rumahnya itu, daun-daun yang menempel tidak semua adalah daun yang asli, ada beberapa daun yang terbuat dari plastik atau sintesis yang menyerupai aslinya.


Ketika Dio menyibakkan dedaunan itu di dalam temaram cahaya lampu taman, nampak sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati, pintu itu terlihat sudah sangat tua dengan gagangnya yang terlihat berkarat.


Dio semakin dalam menyibakkan dedaunan itu, sehingga matanya semakin jelas melihat apa yang ada dihadapannya kini.


Suara petir terdengar menggelegar, disertai dengan kilatan-kilatan yang menyambar kian kemari, dengan gemuruhnya air hujan yang terus mengalir dengan deras seolah tercurah dari langit memuntahkan semua isinya.


Dio bergidik, tidak mungkin dia maju untuk membongkar sendiri pintu itu, dalam keadaan cuaca buruk seperti ini, otaknya cukup jernih untuk berfikir, dia kemudian kembali melangkah menuju ke rumahnya.


"Pak Dio dari mana hujan-hujan begini?" tanya Mbak Yuyun.


"Mbak, tolong buatkan dua gelas minuman hangat, setelah itu antarkan ke kamarku!" sahut Dio tanpa menjawab pertanyaan Mbak Yuyun.


Setelah itu Dio langsung melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya tanpa menoleh lagi.


Mbak Yuyun nampak termangu menatap kepergian Dio yang malam ini dia terlihat begitu aneh, kemudian dengan cepat Mbak Yuyun membuatkan minuman hangat sesuai dengan apa yang Dio pesan.


Setelah sampai di kamar, Dinda nampak masih terbaring dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, sepertinya wanita itu masih terlihat takut, perlahan Dio melangkah dan mendekati Dinda dan menyentuh punggung wanita itu dengan lembut.


"Sayang, ini aku!" bisik Dio.


Dinda menyibakkan selimut yang menutupi wajahnya itu.


"Mas Dio, bagaimana? Apa kamu sudah menemukan sesuatu?" tanya Dinda.


"Kamu benar Din, ada pintu rahasia di ujung tembok belakang taman, selama aku tinggal di sini, aku tidak pernah tau pintu apakah itu!" jawab Dio.


"Berarti benar Mas, ada sesuatu yang misteri di rumah ini yang kamu sendiri tidak tahu! Mas lebih baik kita fokus mencari Jika saja abaikan dulu masalah pintu itu aku benar-benar khawatir!" kata Dinda.


"Din, apakah mungkin Chika ada hubungan dengan pintu rahasia itu? Apakah mungkin pelakunya adalah orang yang sama dengan pelaku yang ada hubungannya dengan pintu itu?" tanya Dio.


"Aku tidak tau Mas, bisa jadi juga sih, itu berkaitan!" jawab Dinda.

__ADS_1


"Sayang, sudah larut malam, tidurlah,


kita siapkan tenaga untuk besok lagi!" kata Dio.


"Aku masih kepikiran Chika!"


"Jangan khawatir, polisi akan bertindak, aku sudah membuat laporan, dan mereka akan mengawasi, aku juga sudah sewa Intel, pokoknya kau istirahat saja dengan tenang!" ucap Dio.


Dinda menganggukan kepalanya, setelah itu dia mulai merebahkan kepalanya di dada Dio, mencoba untuk memejamkan matanya, kendati sangat sulit untuk bisa segera terpejam.


Sementara di luar sana, hujan turun semakin deras, dengan suara petir yang menggelegar bersahut-sahutan.


****


Sementara itu, Keyla sudah sampai di sebuah lokasi, yang di bagikan oleh penelepon tidak di kenal.


Sebuah gudang tua, yang terletak di pinggiran kota Jakarta, sekeliling gudang itu di penuhi oleh drum drum bekas, suasana terlihat begitu sunyi dan mencekam.


"Mbak, lebih baik urungkan saja niatmu untuk membuat jebakan, aku takut akan keselamatanmu, kita pulang saja!" kata Ken.


"Ya bukannya begitu Mbak, lihat sendiri suasananya serem pake banget, mana tau di sini banyak penunggunya, kita pulang saja Mbak!" bujuk Ken.


"Tidak Ken, aku penasaran, siapa dalang di balik ini semua, kau sembunyi saja di mobil, ingat kesepakatan kita sebelumnya!" tegas Keyla.


"Okelah Mbak, tapi ingat, kau harus hati-hati, ada anakku di dalam perutmu itu, pokoknya ponselmu di pastikan harus aktif!" kata Ken menyerah.


"Aku tau!"


"Kalau ada kesulitan, langsung hubungi aku!"


"Iya bawel!"


"Eh, tunggu Mbak, sini cium aku dulu, supaya kamu punya kekuatan lebih!" Ken tiba-tiba menarik tangan Keyla.

__ADS_1


Mau tidak mau, Keyla menuruti Ken, untuk mempersingkat waktu, dia segera mencium pipi dan bibir suaminya itu, untuk mendapatkan energi.


Setelah itu, Keyla yang mengenakan jaket kulit segera keluar dari dalam mobilnya.


Perlahan dia masuk ke dalam gudang tua yang terlihat sangat sepi dan lengang itu.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrrt


Tiba-tiba ponsel Keyla bergetar, Keyla langsung mengusap layar ponselnya itu.


"Halo!"


"Halo, kamu masuk ke dalam, pokoknya kalau kamu ketahuan membawa teman, aku tak akan melepaskanmu, setelah di dalam, aku akan memberi tahukan mengenai kerjasama kita!" kata suara laki-laki di sebrang telepon.


"Oke!"


"Bagus, sekarang masuklah!"


Dengan dada bergemuruh kencang, Keyla mulai memasuki gudang tua yang terlihat sangat lembab dan kotor itu.


Cahaya lampu jalan menerangi ruangan gudang tua yang Ayahnya banyak yang bocor itu.


Suasana begitu hening dan mencekam, Keyla hanya bisa mendengar suara langkah kakinya sendiri, sesungguhnya dia juga merasa sangat takut, namun dia harus menyelamatkan Dio dan keluarganya dari sebuah ancaman besar.


Di dalam gudang itu ada sebuah ruangan lain yang tertutup, mirip seperti sebuah kamar.


Keyla perlahan mulai berjalan ke arah ruangan yang tertutup itu, dan mulai mencoba untuk memegang gagang pintunya.


Ternyata pintu ruangan itu tidak terkunci, Keyla mendorongnya perlahan.


Matanya membola, saat Keyla masuk dan melihat apa yang kini ada di hadapannya itu.


Bersambung ...

__ADS_1


*****


__ADS_2