
Setelah satu hari satu malam Chika dirawat di rumah sakit, kondisi tubuhnya sudah mulai membaik.
Berangsur-angsur wajahnya kini sudah mulai kemerahan, Chika kelihatan segar apalagi kini orang tuanya mendampingi dia terus.
Sementara itu, Dio masih berada di ruang ICU, Kondisinya masih sama seperti ketika pertama kali dia masuk, dia masih belum sadar.
Dan selama itu juga Keyla tidak beranjak dari posisinya dia tetap berada disampingnya untuk menemani paling tidak dia bisa memberikan kekuatan dan energi melalui kesetiaannya menunggu suaminya itu.
Pak Dirja yang bolak-balik memperhatikan Keyla mengelus dadanya, prihatin melihat kondisi anaknya seperti itu, apalagi Keyla kini sedang mengandung.
Pak Dirja yang hanya melihat dari pintu kaca, kemudian masuk ke dalam ruang ICU itu.
Dia berjalan mendekati Keyla yang masih bersimpuh di sisi ranjang Ken.
"keyla, kau pulang ya istirahat, biar Ayah yang jaga Ken di sini! Nanti kamu bisa kelelahan Keyla!" ucap pak Dirja sambil mengelus bahu Keyla.
"Tidak Ayah, aku tidak mau meninggalkan Ken sendirian di sini! Aku akan menunggu dia sampai dia sadar di sini! Lagipula bayiku selalu ingin berada dekat dengan Ayahnya!" tolak Keyla sambil menggelengkan kepalanya.
Pak Dirja menarik nafas panjang, dia sungguh tidak tega melihat kondisi anak dan menantunya seperti ini.
Akhirnya dengan langkah gontai, Pak Dirja Kembali keluar dari ruangan itu, karena di ruangan ICU tidak boleh lebih dari satu orang menunggui pasien.
Dinda yang baru menebus obat di apotek, melihat Ayahnya duduk di depan ruang ICU, kemudian berjalan ke arah Pak Dirja, Dia sangat sedih melihat ayahnya begitu sedih bahkan ayahnya itu juga nyaris tak beristirahat sejak Ken dan Chika masuk rumah sakit.
Dinda kemudian duduk di samping ayahnya itu kemudian menggenggam tangan ayahnya yang dirasa sangat dingin itu.
"Ayah, kenapa ayah tidak beristirahat? Beristirahatlah di mobil, Tidurlah sebentar, atau di ruangan Chika juga boleh, Ayah Jangan seperti ini terus, nanti ayah bisa sakit!" kata Dinda.
__ADS_1
"Bagaimana Ayah bisa istirahat Dinda, kau lihat sendiri kakakmu bahkan sejak kemarin tidak beranjak dari tempatnya, dia masih terus menunggui Ken, kau tahu sendiri kalau kakakmu saat ini sedang mengandung!" ucap pak Dirja.
"Iya Ayah aku mengerti, tapi ayah kan juga butuh istirahat, kalau semuanya sakit Lalu siapa yang akan menunggui Ken? Ayah istirahat untuk kekuatan ayah sendiri, untuk Mbak Keyla nanti aku akan coba membujuk dia supaya dia jangan terlalu lelah, kasihan bayi yang dikandungnya itu!" kata Dinda
Pak Dirja menganggukkan kepalanya kemudian dengan langkah gontai Dia berjalan menuju ke parkiran mobil untuk sejenak merebahkan tubuhnya yang lelah itu di jok mobil.
Dinda hanya bisa menatap kepergian ayahnya itu dengan tatapan sendu. kemudian setelah itu Dinda masuk kedalam ruang ICU untuk menemui Keyla, Keyla nampak masih duduk di samping Ken, tangannya menggenggam erat tangan Ken seolah tidak mau dilepaskannya lagi.
"Mbak Keyla ..."
Keyla menoleh ke arah Dinda yang kini berdiri di belakangnya.
"Apakah Ayah yang menyuruhmu datang ke sini?" tanya Keyla.
"Tidak Mbak, Ayah sedang beristirahat di dalam mobilnya, aku datang ingin mengucapkan terimakasih karena Mbak Keyla sudah menyelamatkan Chika!" ucap Dinda.
"Mbak, kita semua akan mendoakan kesembuhan Ken, aku juga sama sekali tidak menyangka kalau ada kejadian seperti ini, sampai sekarang masih belum terungkap siapa dalang di balik semuanya ini!" ujar Dinda.
"Aku tidak mau ikut campur lagi dengan urusan kalian! Aku menyesal sudah terlibat di dalamnya, sekarang lebih baik kamu pergi Din, biarkan aku sendiri yang menjaga suamiku!" kata Keyla.
"Baik Mbak, aku hanya ingin mengingatkan, Mbak Keyla juga harus memperhatikan bayi yang ada di dalam kandungan Mbak Keyla, kasihan dia Mbak!" ucap Dinda.
"Trimakasih, aku bisa menjaga diriku dan bayiku, kamu tenang saja!" sahut keyla.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit ya Mbak, permisi!" Dinda kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
Setelah Dinda dari ruang ICU, dia kemudian kembali ke kamar perawatan Chika, anak itu sedang makan disuapi oleh Dio dia duduk di atas tempat tidurnya, selang infus sudah tidak tertancap lagi di tangan mungilnya, wajahnya kini terlihat cerah dan ceria, walaupun masih ada sedikit trauma yang dia rasakan.
__ADS_1
Dio dan Dinda tidak berani bertanya-tanya lebih lanjut pada Chika, takut anak itu akan mengingat kembali kejadian buruk yang menimpanya, biarlah Chika sendiri yang menceritakannya nanti.
"Eh, Chika sudah makan, anak pintar!" ucap Dinda sambil duduk di sebelah Chika.
"Mama Dinda mau di siapin juga?" tawar Dio.
"Jangan lah, buat Chika saja, Oya Mas, katanya Chika sudah boleh pulang hati ini kan?" tanya Dinda.
"Iya sayang, dokter sudah mengizinkan Chika untuk pulang hari ini, karena kondisinya memang sudah membaik dia sudah tidak dehidrasi lagi dan sekarang makannya banyak!" jawab Dio.
"Papa, aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah! Aku tidak ingin disini, disini tidak enak, Makanannya tidak enak! Aku mau pulang ke rumah saja, aku kangen sama bonekaku!" kata Chika.
"Iya sayang, nanti setelah Chika selesai makan, kita siap-siap pulang ke rumah ya!" ucap Dio sambil mengelus rambut Chika.
Sementara Dinda mulai membereskan barang-barang yang akan dibawanya pulang.
"Mas, tadi Ibu telepon, katanya dia sudah masak masakan spesial siang ini, untuk menyambut kepulangan Chika ke rumah, sekalian syukuran sedikit, karena Chika sudah selamat!" kata Dinda.
"Iya Dinda, setelah ini kita langsung pulang ke rumah, lagipula Chika juga sudah selesai nih makannya! Setelah itu baru kita bicarakan hal yang penting lainnya, sekarang intinya Chika sudah selamat dan kembali dalam pelukan kita!" sahut Dio.
Mereka kemudian mulai bersiap-siap akan pulang ke rumah dan Dio langsung mengangkat Chika dalam gendongannya, mereka berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit menuju ke parkiran mobil.
"Papa, kasihan Bang Ujang pa! Orang-orang jahat itu sudah buang Bang Ujang ke jurang!" kata Chika tiba-tiba.
Dinda dan Dio terperangah dan mereka pun saling berpandangan.
Bersambung ....
__ADS_1