Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Menjelang Kedatangan Dio


__ADS_3

Sore itu, Bu Lilis dan Dinda memasak di apartemen, karena malam nanti Dio akan datang ke apartemen itu.


Asti, sahabat Dinda, juga terlihat ikut membantu mereka.


"Din, kamu serius nanti malam Pak Dio akan datang untuk langsung melamar kamu? Dia datang sama siapa?" tanya Asti.


"Kayaknya sih Dia datang sendiri, soalnya orang tua-nya sedang ada di Singapura, tapi ayahnya sudah mengizinkan Mas Dio untuk datang melamar ke sini!" jawab Dinda.


"Wah baru kali ini ada acara lamaran sendirian, tapi ngomong-ngomong beneran orang tuanya Pak Dio itu sudah menerima kamu jadi calon menantu mereka?" tanya Asti.


"Mudah-mudahan sih, kalau Ayahnya Mas Dio sih tidak ada masalah, cuma Bundanya Aku tidak tahu deh, tapi sudahlah, aku percaya saja Mas Dio pasti akan bisa mengatasi segalanya!" jawab Dinda.


Tiba-tiba, Bu Lilis yang sejak tadi membereskan meja makan dan ruangan tamu, datang mendekati Asti dan Dinda yang asyik mengobrol di dapur itu.


"Din, sudah siap semua belum? Ini sudah sore sekali lho, kalau sudah selesai, taruh di meja makan semua makanannya Ibu sudah siapkan!" tanya Bu Lilis.


"Sudah Bu, sayur dan ayam gorengnya sudah matang semua tinggal disajikan saja di meja, sudah Ibu istirahat saja biar nanti aku dan Asti yang menata meja makan!" jawab Dinda.


"Iya Tante, mendingan Tante istirahat saja, gantu baju dan dandan, pakai baju yang cantik, kan mau ketemu calon mantu!" timpal Asti.


"Ah kamu nih, tapi bener juga sih, kalau begitu Itu ibu tinggal ya Din!" kata Bu Lilis sambil beranjak menuju ke kamar.


"Dinda, jangan lupa lho, pokoknya kamu harus bujukin Pak Dio untuk masuk asuransi, kalau perlu kamu harus minta keluargamu juga diasuransikan, supaya aku dapat komisi besar!" ucap Asti sambil menata makanan yang tersaji di meja makan itu.


"Iya As, mungkin aku akan bilang sama Mas Dio untuk ikut asuransi kamu, tapi aku tidak bisa meminta kalau aku juga ikut diasuransikan, ya Aku nggak enak lah!" sahut Dinda.


Ting ... Tong


Tiba-tiba bel dari pintu apartemen itu berbunyi, Dinda tertegun, tidak mungkin Dio datang secepat ini.


Kemudian dengan cepat Dinda segera berjalan menuju ke pintu apartemen dan membukanya perlahan.

__ADS_1


Dinda membulatkan matanya saat melihat siapa orang yang datang ke apartemen itu, dia adalah Keyla, dan Dinda sama sekali tidak menyangka kalau Keyla akan datang di saat Dio akan datang nanti malam.


"Mbak Keyla??"


"Din, boleh aku masuk?" tanya Keyla.


"Oh, ayo, silahkan masuk Mbak!"


Keyla kemudian masuk dan duduk di sofa ruangan itu, sementara Asti hanya melongok dari dapur.


"Ada apa Mbak Key? Kok tau aku tinggal di apartemen ini?" tanya Dinda.


Keyla terdiam mendengar pertanyaan Dinda, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi mendung, matanya terlihat sendu, tidak seperti Keyla yang biasanya.


"Din, kamu sudah berapa lama kenal dengan Dio?" tanya Keyla.


"Belum lama sih Mbak, belum juga setahun!" jawab Dinda.


"Maafkan aku Mbak Keyla, Aku bukan bermaksud mengambil Mas Dio dari Mbak Keyla, pertemuanku dengan Mas Dio juga secara kebetulan, dan Mbak Keyla dengar sendiri kan, kalau Mas Dio bersungguh-sungguh padaku!" jawab Dinda.


"Din, cinta itu kan bisa tumbuh Seiring berjalannya waktu, itu semua tergantung padamu, kalau kau pergi dari Dio, toh juga sakitnya cuma sebentar!" ujar Keyla.


"Apa maksud Mbak Keyla??"


"Bolehkah, aku meminta Dio padamu? Kau tau Ayahku sangat menginginkan aku menikah, apalagi usiaku tak lagi muda, aku sangat tidak ingin mengecewakan Ayahku!" ungkap Keyla, matanya mulai berkaca-kaca.


Dinda terdiam, tidak menyangka kalau Keyla akan berkata seperti itu padanya.


"Kau masih muda Din, kau masih punya banyak kesempatan untuk mendapatkan laki-laki sesuai dengan impianmu!" lanjut Keyla.


Tiba-tiba Bu Lilis keluar dari kamar dan langsung menghampiri Dinda, dan Keyla yang sedang mengobrol, kemudian dia langsung duduk bergabung dengan mereka.

__ADS_1


"Dinda, tadi secara tak sengaja Ibu mendengar obrolan kalian, Kenapa wanita ini tiba-tiba datang lalu mengatakan hal seperti itu?" tanya Bu Lilis.


"Bu, ini urusanku, aku harap Ibu tidak ikut campur!" tukas Dinda.


"Yang jadi urusanmu juga adalah urusan Ibu, apalagi ini menyangkut pernikahanmu, jangan sampai dia menghancurkan segalanya!" cetus Bu Lilis.


"Maaf Tante, aku tidak bermaksud untuk ..."


"Sekarang lebih baik kau pergi dari sini, karena sebentar lagi calon suami Dinda akan datang, dan jangan pernah bermimpi menjadi pelakor rumah tangga anakku nanti!" seru Bu Lilis.


"Tapi Tante ..."


"Carilah laki-laki yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, tapi jangan pernah punya niat merebut milik urang lain!" potong Bu Lilis cepat.


Keyla tidak menjawab lagi, akhirnya dia segera beranjak dari tempatnya dan tanpa menoleh lagi dia segera keluar dari apartemen itu.


"kok ibu bicara seperti itu? Kan kasihan dia Bu, dia datang baik-baik sekarang dia malah pergi begitu saja!" ujar Dinda.


"Bibit pelakor memang harus segera di basmi Din, sudah, ganti baju sana, sebentar lagi calon mu akan datang!" Kata Bu Lilis.


"Ready!!" Seru Asti dari arah dapur.


Dinda kemudian buru-buru mengganti pakaiannya.


Ting ... Tong ...


Kembali bel dari pintu apartemen itu berbunyi.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2