Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Ambil Rapot


__ADS_3

Malam itu Dinda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya Setelah dia selesai menyusui Juna.


Bagi Dinda, menyusui Juna adalah suatu perjuangan, selain air susunya tidak terlalu banyak produksinya, Dinda juga belum terlalu ahli memposisikan mulut bayi Juna di dadanya, makanya kini dada Dinda sakit dan lecet, bahkan sampai dia demam hanya karena dadanya bengkak.


"Sayang, tadi bunda memberikan botol ini dan alat pompa ASI, kata Bunda daripada kesulitan untuk menyusu, lebih baik dipera saja dengan alat ini!" kata dia sambil menyodorkan beberapa botol dan sebuah alat pompa ASI pada Dinda.


"Terima kasih Mas, aku pasti akan mencoba memerah ASI ku, tapi aku mau mencoba berusaha lagi, supaya Juna bisa menyusu langsung tanpa melalui botol!" sahut Dinda sambil menerima alat pompa asi itu dan melihat lihatnya.


"Tapi kan kamu kasihan Din, lihat saja dadamu sampai lecet dan bengkak begitu, terus kamu demam lagi! Pasti sangat melelahkan bukan!" Kata Dio.


"Iya Mas, namanya juga aku baru belajar dari seorang ibu, harap maklum lah, kalau aku masih belum terbiasa!" ucap Dinda.


"Iya sayang, Aku maklum kok, sekarang mumpung Juna sedang tidur lebih baik kamu istirahat deh, nanti tiba-tiba Juna bangun seperti biasa nggak ada tenaga!" Kata Dio.


Dinda kemudian menaruh alat pompa ASI itu ke atas meja yang ada di samping ranjangnya, kemudian dia mulai untuk memejamkan matanya, memanfaatkan waktu, karena Juna sedang tertidur pulas.


Tok ... Tok ... Tok


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka.


"Siapa Mas?" tanya Dinda yang kembali membuka matanya.


"Ssst, sudah, teruskan tidurmu, biar aku yang buka pintunya!" sahut Dio yang langsung bangun dari posisinya dan berjalan ke arah pintu kamarnya, kemudian dia langsung membuka pintu kamarnya itu.


Dio sedikit terkejut manakala melihat Chika sudah berdiri di depan pintu itu.


"Chika?? Kamu belum tidur? Ada apa?" tanya Dio.


"Aku cuma mau ingatkan, besok aku ada pembagian rapot di sekolah, Papa dan Mama datang ya, jangan lupa!" jawab Chika.

__ADS_1


"Oh, iya sayang, Papa hampir lupa, padahal kan sudah di umumkan ya, Baiklah Nak, besok Papa akan datang ke sekolah untuk mengambil rapotmu!" kata Dio sambil mengelus rambut Chika.


"Tapi aku maunya Papa dan Mama yang datang, jangan Papa sendiri, adik Juna di ajak!" ujar Chika.


"Chika, Adik Juna kan masih kecil, kasihan kalau di ajak, Papa saja ya, biar mama dan adik Juna di rumah!" sahut Dio.


Wajah chika terlihat kecewa, dia tetap berdiri, tidak beranjak dari tempatnya.


"Pokoknya aku mau besok Papa, Mama dan Adik Juna datang ke sekolah, titik!" seru Chika sambil berlari meninggalkan Dio.


Dio termangu menatap kepergian putrinya itu, sejak lahir nya Arjuna, Chika nyaris terabaikan, padahal dulu Chika selalu menjadi prioritas.


Akhirnya dengan langkah gontai Dio kembali masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya.


Dio kemudian berbaring di sebelah Dinda yang matanya masih belum terpejam karena menunggu Dio.


"Itu tadi Chika ya Mas? Chika Kenapa Mas?" tanya Dinda.


Dinda nampak terdiam beberapa saat lamanya, dia juga menyadari karena kesibukannya terhadap Arjuna yang baru lahir itu, Dinda sampai kesulitan waktu untuk berbagi dengan Chika.


Biasanya dulu dia sering mengobrol, bermain bersama, bercanda bahkan mengerjakan tugas sekolah bersama-sama.


Namun kini setelah Arjuna lahir, waktu Dinda seperti habis tersedot oleh Arjuna yang kadang rewel, yang kadang beberapa jam sekali minta menyusu, dan sampai saat ini pun dia masih kesulitan untuk menyusui Arjuna, ditambah lagi dadanya yang bengkak dan membuat Dia sedikit meriang, dan kondisi itu sangat tidak nyaman untuk Dinda yang baru pertama kali menjadi seorang ibu yang sesungguhnya, setelah melahirkan anaknya.


"Bagaimana menurutmu Mas? apakah kita kabulkan saja keinginan Chika? Besok kita ke sekolah bersama-sama dengan mengajak Arjuna!" tanya Dinda.


"Aku sih tidak masalah, tapi bagaimana denganmu? Apakah kau tidak kerepotan membawa Juna ke sekolah? Apalagi kan Arjuna masih kecil, belum juga berusia 1 bulan!" jawab Dio.


"Aku merasa bersalah pada Chika, belakangan ini aku memang sibuk dengan Arjuna, bahkan aku tak sempat untuk menemani Chika belajar dan bermain, kalau kau mengijinkan, besok aku ingin ikut bersamamu mengambil raport Chika!" ucap Dinda

__ADS_1


"Baiklah sayang, sudah malam, sebaiknya kita tidur, besok kita siap-siap untuk ke sekolah Chika, dia pasti senang, kalau kita sama-sama mendampingi dia untuk mengambil raportnya!" Kata Dio sambil mulai menyelimuti Dinda.


****


Pagi hari itu Chika terlihat senang, ketika melihat Papanya dan Mamanya juga adiknya, tengah bersiap-siap untuk mendampinginya mengambil rapot di sekolah.


"Ini kalian pada mau ke mana? Kok bawa Arjuna segala?" tanya Bu Lian tiba-tiba yang muncul di belakang mereka, yang sedang berjalan ke arah garasi mobil.


"Papa dan Mama juga adik Juna mau ikut aku, hari ini kan aku ambil raport oma, kata ibu guru nilai aku bagus makanya aku mau ajak Papa dan Mama sekalian aku mau kenalin adik Juna sama temen-temen aku!" jawab Chika.


"Tidak! Arjuna tidak boleh ikut! Dia masih kecil, umurnya juga belum satu bulan tidak boleh keluar kemana-mana!" sergah Bu Lian.


"Bunda, jarak dari rumah ke sekolah Chika itu cuma dekat, lagipula kami kan pergi naik mobil, pasti aman dong bunda, tidak apa-apa Arjuna diajak, supaya Kakak Chika senang, lagipula ambil rapotnya kan tidak lama cuma sebentar kok!" ujar Dio.


"Tapi tetap saja, Arjuna tidak boleh ikut, kalau tidak kalian saja yang pergi sana, sini Juna sama oma!" kata Bu Lian yang langsung mengambil Arjuna begitu saja dari gendongan Dinda.


"Oma jahat!!" seru Chika sambil menangis, kemudian Ia berlari ke arah luar rumahnya.


Bang Jarwo yang melihat Chika hendak keluar dari gerbang langsung mencegahnya dan memegang tangannya, dengan cepat Dio langsung menangkap Chika dan menggendongnya.


"Chika, jangan seperti ini sayang! Bukankah Chika sudah rapi mau ke sekolah, ayo kita berangkat sekarang!" kata Dio yang sedang menggendong Chika itu, lalu berjalan ke arah mobilnya.


Chika masih menangis sambil mengusap matanya yang basah.


"Papa, aku ingin Adik Juna ikut, waktu itu aku janji sama teman-temanku kalau aku punya adik, kalau nanti Adik Juna tidak ikut, nanti aku dikira bohong kalau aku punya adik!" kata Chika sambil menangis.


"Bunda Lihat, Chika hanya ingin menunjukkan pada teman-temannya kalau dia punya adik, itu tidak akan melukai Arjuna sama sekali, aku mohon izinkan sebentar saja Arjuna pergi bersama kami, Bunda tidak usah khawatir, kami sebagai orang tua bisa menjaga anak-anak kami dengan baik!" ucap Dio sambil menoleh kearah Bu Lian yang masih berdiri sambil menggendong Arjuna.


Bersambung....

__ADS_1


*****


__ADS_2