
Setelah berbicara sebentar dengan Keyla, Dinda kemudian turun dan duduk bergabung dengan Pak Dirja dan Dio yang masih terlihat asyik mengobrol di ruang makan.
Dinda terlihat sedih, apalagi Keyla selalu tidak bisa bersikap manis padanya, di tambah di situ juga ada Dio, Keyla jadi merasa malu dan rendah diri.
Padahal waktu itu, hubungan Dinda dan Keyla lumayan membaik, mereka masih bisa saling berpelukan dan Dinda masih bisa memberikan support.
Namun entah mengapa hari ini Keyla terlihat sangat tak ramah, dan nampak tidak suka Dinda datang bersama Dio.
"Dinda, Ayah baru saja katakan pada Dio, bahwa pernikahan Keyla dan Ken akan di laksanakan pada hari Sabtu minggu ini!" kata Pak Dirja.
"Cepat sekali Ayah..."
"Yah, kamu pasti tau kan, Keyla sudah mengandung anak Ken, sebenarnya Ayah malu, Ayah merasa gagal menjadi urang tua, gagal mendidik anak, hingga bisa jadi seperti ini!" ungkap Pak Dirja dengan raut wajah sedih.
Dinda lalu menggenggam tangan Pak Dirja hangat.
"Jangan sedih Ayah, siapa tau melalui menikah, Mbak keyla dan Ken bisa berubah menjadi lebih baik, apalagi mereka akan jadi orang tua!" ucap Dinda.
"Trimakasih Nak, kalau bukan karena dukunganmu, entah bagaimana ini, Ayah benar-benar tidak pernah menyangka sebelumnya, ingin rasanya Ayah membunuh Ken, laki-laki bajingan yang telah merusak Keyla!" ujar Pak Dirja terlihat geram.
"Ayah, kami doakan semoga acara pernikahannya lancar, meskipun mendadak, kalau butuh apapun, jangan sungkan menghubungi aku!" ucap Dio.
"Trimakasih Nak, Ayah harap, kalian jangan membenci Keyla, meskipun tabiatnya seperti itu, dia tetap anak Ayah!" kata Pak Dirja.
"Aku tidak pernah membenci Mbak Keyla Ayah!" sahut Dinda.
"Kalau begitu, kami pamit dulu Ayah!" ucap Dio, wajahnya kelihatan kusut dan pucat, mungkin karena dia kelelahan, habis pulang dari kantor langsung ke rumah Pak Dirja.
"Baiklah, Dinda, jaga dirimu, hati-hati! Dan tolong sampaikan pada Ibumu, Ayah sangat rindu!" ucap Pak Dirja sambil berjalan mengantar mereka sampai di depan teras.
Dio kemudian menuntun Dinda masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan rumah Pak Dirja.
"Mas Dio kenapa? Pusing? Kok suntuk kelihatannya!" tanya Dinda yang sejak tadi melihat Dio yang agak pucat.
"Iya, capek Din!" sahut Dio.
"Ya sudah, nanti sampai rumah, mandi pakai air hangat, setelah itu aku pijiti punggung mu!" kata Dinda.
"Bukan cuma punggung yang pegal, kaki tangan juga!"
"Iya, kaki dan tangan, terus apalagi yang pegal Mas?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Burung!"
"Apa? Jangan aneh-aneh deh Mas, lagi capek kok malah mesum!" cetus Dinda.
"Lho, memang betul kok, burungku memang pegal sejak di kantor, kamu tau tidak kenapa? Karena dia terus berdiri bahkan sampai saat aku sedang meeting!"
"Oya?"
"Akhirnya terpaksa aku tutupi pakai jas, kalau ada yang lihat, malunya itu lho, rasanya nyut-nyutan, maka nya aku pusing sampai sekarang!" jelas Dio.
"Kenapa bisa begitu Mas?"
"Biasa Din, lagi pengen tapi tidak ada pelampiasan!"
"Lho, waktu sebelum kita nikah, kalau lagi pengen Mas Dio ngapain dong? Sama psk??" tanya Dinda melotot.
"Sembarangan! Gini-gini aku anti sama begituan, dulu sebelum nikah, aku tidak melakukan apapun, paling mimpi basah doang!" sahut Dio.
"Hmm, roman-romannya ada yang mau minta jatah nih sampe rumah!" gumam Dinda.
"Sekarang deh Din!"
Tiba-tiba Dio menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dinda melotot.
"Sayang, aku tidak tahan menunggu sampai rumah, ayo dong sekarang, Kepalaku benar-benar pusing dan ini sangat menyiksa!" ucap Dio.
Dia langsung membuka resleting celananya yang terlihat sesak sedari tadi.
Ada sesuatu yang sudah sangat siap untuk bertempur. Dinda menggigit bibirnya, ngeri-ngeri sedap membayangkan benda besar itu.
"Mas, tahan sebentar, di rumah aja ya, masa di mobil, nanti ketahuan orang, malu Mas!" bisik Dinda.
"Kenapa malu? Kan kita suami istri, ayolah sayang, please, ini sudah terlalu penuh dan siap tembak!" rajuk Dio.
"Gila Mas! Kita tidak mungkin melakukannya di sini, aku tidak mau!" cetus Dinda. Wajah Dio nampak frustasi.
"Baiklah, tapi Berjanjilah sepanjang jalan kamu elus-elus ya, suruh dia tahan sampai rumah!"
Dinda menganggukan kepalanya, dia tidak ada pilihan lain untuk meredakan hasrat suaminya yang saat ini sedang tinggi-tingginya.
****
__ADS_1
Pagi itu Dinda berjalan menyusuri koridor sekolah, berjalan menuju ke ruangan Pak Roni.
Tadi pagi sebelum Dinda berangkat, Pak Roni menelpon Dinda, dan memintanya untuk datang menghadapnya pagi ini.
Dinda kemudian berhenti sejenak di ruangan Pak Roni, pintu ruangan itu setengah terbuka.
Dinda lalu mendorong pintu itu perlahan lalu segera masuk.
"Selamat Pagi Pak Roni!" sapa Dinda.
"Duduklah Bu Dinda!" jawab Pak Roni.
Dinda kemudian duduk di hadapan Pak Roni.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Dinda.
"Bu Dinda, semalam Bu Dita menelepon saya, dia mengundurkan diri menjadi wali kelas 1A, dia memilih menjadi guru kesenian seperti semula!" kata Pak Roni.
"Apa? Mengundurkan diri? Kok bisa?" tanya Dinda.
"Itulah Bu, saya juga heran, sementara sebelum sekolah dapat guru pengganti untuk kelas satu, saya minta Bu Dinda menggantikan Bu Dita, paling tidak sampai kenaikan kelas sebentar lagi!" ucap Pak Roni.
"Oh begitu, Baiklah Pak, jadi, saya pindah lagi ke ruang guru? Tidak di ruangan konseling lagi?" tanya Dinda.
"Iya Bu, ini hanya sementara saja kok!" jawab Pak Roni.
"Tapi Bu Dita masih mengajar di sekolah ini kan Pak?" tanya Dinda.
"Masih Bu, cuma dia hanya mau pegang kelas dua ke atas, itu juga bidang studi kesenian, jadi paling dia datang seminggu tiga kali saja!" jelas Pak Roni.
Dinda terdiam, dia tau apa yang menjadi alasan Bu Dita mengambil keputusan itu.
Dinda bisa merasakan apa yang Bu Dita rasakan, pasti Bu Dita merasa malu karena perbuatannya di ketahui banyak orang, dan kini dia jadi menarik diri. Tiba-tiba Dinda jadi sedih.
"Pak Roni, walaupun Bu Dita tidak pegang kelas lagi, tapi gajinya jangan di potong ya, kasihan Pak!" kata Dinda.
"Bu Dinda, mengenai gaji, itu akan di perhitungan oleh bagian administrasi, Bu Dinda jangan khawatir, sekolah cukup adil mengenai masalah itu!" jawab Pak Roni.
"Trimakasih Pak, kalau begitu saya pamit ke ruangan, selamat pagi!"
Dinda lalu berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Bersambung ...
****