
Hari sudah semakin larut, waktu sudah menunjukkan jam 11 malam.
Chika sudah dipindahkan ke ruang perawatan, sementara Dio masih menjalani tindakan oleh dokter di ruang UGD, karena lukanya yang lumayan parah.
Pak Dirja masih duduk menunggunya di depan ruangan itu, kini dia ditemani oleh Keyla putrinya.
Beberapa kali pak Dirja menguap karena mengantuk, karena sudah berjam-jam lamanya Pak Dirja menunggui Dio.
"Kenapa ayah tidak segera menelepon Om Frans dan Tante Lian?" tanya Keyla.
"Ini sudah malam nak, Ayah takut mereka khawatir, apalagi tante Lian itu kan punya riwayat darah tinggi yang cukup kronis, Ayah khawatir nanti mereka akan shock kalau mendengar berita ini!" jawab Pak Dirja.
"Tapi kan mereka harus tahu juga Yah, apalagi anak dan cucu mereka kecelakaan begini, mau sampai kapan ayah berdiam diri?" tanya Keyla.
"Besok pagi saat Dio sudah dipindahkan ke ruang perawatan, baru Ayah akan telepon mereka, sekarang Ayah masih ingin menunggui Dio, dan meminta pada dokter supaya dia bisa satu ruangan dengan Chika!" jawab Pak Dirja.
Seorang Dokter kemudian keluar dari ruangan UGD, Pak Dirja buru-buru bangkit dan mendekati Dokter itu disusul oleh Keyla.
"Bagaimana kondisi Dio dokter?" tanya Pak Dirja.
"Dia masih belum sadar, kondisinya sih sudah stabil, kami baru saja menjahit luka di pelipisnya, dan malam ini dia akan dipindahkan ke ruang perawatan, untuk tindakan selanjutnya, tapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ada beberapa bagian tulang yang retak!" jawab sang dokter.
"Baik dokter, kalau begitu mohon dia disatukan ruangannya dengan Chika anaknya, Kasihan dokter, mereka tidak ada yang nungguin orang tuanya masih di luar negeri!" kata Pak Dirja.
"Baiklah, itu memang sudah kami pikirkan, kalau begitu saya permisi dulu terima kasih!" ucap dokter yang kemudian segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian, beberapa orang perawat membuka pintu ruang UGD dan mendorong ranjang Dio untuk dipindahkannya ke ruang perawatan.
Pak Dirja dan Keyla mengikutinya dari belakang, sampai mereka tiba di sebuah ruangan VIP.
Beberapa suster mulai memasangkan beberapa alat medis ke tubuh Dio, sementara di ranjang sebelahnya Chika sedang terbaring dengan selang infus yang masih menancap di tangan mungilnya.
__ADS_1
Sepertinya Chika sudah tertidur karena obat yang diberikan oleh dokter.
Pak Dirja dan Keyla duduk menunggu di sofa yang ada di sudut ruangan itu.
"Ayah, sebaiknya Ayah pulang saja untuk istirahat di rumah! Sejak sore kan Ayah pergi, dan belum istirahat sampai sekarang!" kata Keyla.
"Ayah istirahat di sini saja key, lagi pula kan kau sendirian di sini!" tukas pak Dirja.
"Tidak apa-apa aku sendirian di sini, aku kan masih muda dan sehat, kalau Ayah terlalu capek, aku takut asma ayah akan kambuh!" sahut Keyla.
"Tapi kau sungguh tidak apa-apa sendirian di sini? Baiklah kalau begitu, tapi kalau ada apa-apa kau harus segera menghubungi ayah ya?!" kata Pak Dirja.
"Beres Ayah!" sahut Keyla.
Pak Dirja kemudian bangkit dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Keyla tinggallah seorang diri dalam ruangan itu, kemudian perlahan Keyla berjalan mendekati Dio yang masih belum sadar.
"Kau jangan khawatir tampan! Aku akan menjagamu Disini!" gumam Keyla sambil mengelus pipi Dio.
Sementara Dinda saat ini masih berada di lokasi kecelakaan, Jalanan sudah mulai lengang dan sepi, mobil Dio yang terbalik juga sudah dievakuasi.
Tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang ada ada di pinggir jalan itu, Dinda lalu mendekatinya ternyata itu adalah ponsel, ponsel milik Dio yang layarnya sudah hancur.
Seketika air mata Dinda jatuh membasahi pipinya, membayangkan Bagaimana kondisi Dio saat ini, Dinda begitu cemas dan khawatir.
Kemudian Dinda berjalan ke arah warung tenda yang ada tidak jauh dari jalan itu, untuk menanyakan kondisi terakhir dari korban kecelakaan.
"Permisi Pak numpang tanya, ini yang korban kecelakaan dibawa ke rumah sakit mana ya?!" Tanya Dinda pada si penjual warung itu.
"Oh, yang tadi kecelakaan barusan? dia dibawa ke rumah sakit yang di ujung jalan sana rumah sakit paling dekat dari sini!" jawab penjual warung itu sambil menunjuk ke arah depan.
__ADS_1
Dinda menganggukkan kepalanya, karena dia tahu rumah sakit mana yang penjual itu maksudkan.
Tanpa banyak bertanya lagi, Dinda segera ke arah ujung jalan sana dengan setengah berlari, karena dia tidak sempat untuk mencari taksi atau ojek, lagipula jarak rumah sakit itu juga tidak terlalu jauh.
Sesampainya di rumah sakit, Dinda langsung menanyakan keberadaan Dio dengan suster yang kebetulan berjaga pada malam itu.
"Suster, tolong beritahu saya Di mana ruangan tempat Pak Dio dirawat!" kata Dinda.
"Pak dio yang mana ya? Di sini ada banyak sekali yang namanya Dio, dan dalam semalam tadi sudah ada lima kasus kecelakaan!" kata Suster itu pada saat Dinda menanyakan keberadaan Dio.
"Pak Dio yang baru saja mengalami kecelakaan di jalan raya sana Sus!" jawab Dinda sambil menunjuk ke arah jalan raya yang ada di depan rumah sakit itu.
"Oh, Pak Dio yang sama putrinya itu bukan ya, tadi memang ada pasien yang bernama Dio dan seorang anak kecil, saat ini mereka sedang ada di ruang perawatan di lantai 3!" jelas Suster itu.
Tanpa banyak bertanya lagi, Dinda langsung melangkahkan kakinya menuju ke lantai 3 dengan menggunakan lift.
Setelah dia sampai ke lantai 3, Dinda mulai mencari satu per satu ruangan di mana Dio dirawat.
Hingga Dinda berhenti di depan sebuah ruangan perawatan VIP yang terletak di paling ujung lorong rumah sakit itu.
Kemudian Dinda langsung masuk ke dalam ruangan itu, Dio dan Chika masih terbaring di sana, Keyla yang masih duduk di samping Dio membulatkan matanya, saat melihat kedatangan Dinda yang tiba-tiba itu.
Tanpa mempedulikan kehadiran Keyla di ruangan itu, Dinda segera menghambur dan menggenggam tangan Dio sambil menangis.
"Mas Dio! Apa yang terjadi padamu mu? Maafkan aku, kau baik-baik saja kan Mas?" ucap Dinda sambil mengecup jemari tangan dia yang terasa dingin itu.
Kemudian dia beralih ke arah Chika yang berbaring di sebelah Dio, perlahan Dinda mendekati anak itu dan membelai lembut rambutnya.
"Chika sayang, kasihan sekali kamu, maafin Bu Dinda ya, gara-gara Papa kamu ingin mengajak Bu Dinda makan malam, kalian jadi kecelakaan begini!" ucap Dinda sambil menangis.
"Oh, jadi rupanya kau yang mengajak Dio? Berarti kecelakaan ini Kaulah penyebabnya Dinda!" ujar Kela yang tiba-tiba bangkit dari Posisinya itu.
__ADS_1
Dinda menoleh ke arah Keyla, seolah baru menyadari bahwa sejak tadi Keyla ada diruangan ini.
Bersambung ....