Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Menyelamatkan Dinda


__ADS_3

Wajah Dinda memucat, tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan wanita yang menyerupai mendiang istri Dio, Mama kandung Chika.


Wanita itu semakin mendekat, keringat dingin mulai membasahi tubuh Dinda.


Dinda semakin ketakutan, Kini dia berada di ujung balkon berpegangan dengan pembatas besi, dia sudah tidak bisa lagi melangkah mundur.


"Sekarang katakan, apa maumu?" tanya Dinda sedikit gemetar.


Wanita itu tertawa menyeringai, dari raut wajahnya penuh dengan dendam.


Padahal Dinda tidak pernah mengenal wanita itu, Dinda tidak habis mengerti, apa yang membuat wanita itu begitu dendam terhadapnya.


"Kamu mau tahu apa keinginanku? Aku ingin kamu mati! Sehingga semua hak waris yang dimiliki oleh suamimu itu jatuh ke tangan Chika, karena dia yang lebih berhak daripada kamu dan calon anakmu itu!" jawab wanita itu sambil menunjuk ke arah perut Dinda.


"Tidak! sebenarnya siapa kau? Aku tidak pernah mengenalmu! kita tidak pernah punya urusan sebelumnya!" seru Dinda dengan mengumpulkan segenap keberanian.


"kau memang tidak perlu tahu siapa aku! Itu tidak penting! Yang penting aku berhasil melenyapkanmu! Sehingga kamu tidak menguasai seluruh harta Dio!" sahut wanita di hadapan Dio itu.


"kenapa dari tadi kau hanya membahas harta dan harta saja? sebenarnya siapa dirimu? Aku yakin kau bukan mamanya Chika, mamanya Chika sudah meninggal dan aku pernah ke makamnya!" sengit Dinda.


Wanita itu kembali tertawa menyeringai, dan dia melangkah makin mendekat.


Dinda semakin takut, takut wanita itu akan mendorongnya ke bawah, sehingga dia jatuh dari balkon.


Karena takut, Dinda memejamkan matanya, tidak berani membayangkan apa yang terjadi selanjutnya, wanita yang ada di hadapannya itu seperti menyimpan kemarahan yang dilampiaskannya kepada Dinda.


Buuughhh!!!


Tiba-tiba terdengar suara hantaman yang sangat keras, tepat di hadapan Dinda.

__ADS_1


Dinda terkejut dan langsung membuka matanya dengan lebar.


Wanita yang ada dihadapan Dinda ini tersungkur, dengan kepala yang mengalirkan darah, di belakangnya sudah ada Dio yang berdiri sambil memegang sebuah balok kayu yang cukup besar.


"Mas Dio! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukul dia sampai seperti itu? Kalau dia mati Bagaimana?!" tanya Dinda panik.


Dinda langsung berlari memeluk Dio yang berdiri dengan nafas tersengal-sengal.


"Dinda, kamu tidak apa-apa? Tadi pada saat aku naik ke atas, aku sangat terkejut melihat kau ada di ujung balkon, dengan wanita iblis yang ada di hadapanmu ini, dia hendak membunuhmu! Sebelum dia bertindak, aku yang terlebih dahulu menghabisinya!" Kata Dio.


"Mas, ayo cepat bawa dia ke rumah sakit! Kalau dia sampai mati, kamu bisa dituduh sebagai pembunuh! Aku tidak mau kamu di penjara Mas! ayo cepat bawa dia ke rumah sakit sekarang!" seru Dinda sambil mengguncang-guncangkan bahu Dio dengan kedua tangannya.


Seperti tersadar, Dio kemudian dengan cepat mengangkat wanita itu, dibantu oleh Dinda dan langsung turun ke bawah menuju ke ke garasi mobilnya.


Pak Dirja dan Bu Lilis yang kebetulan sedang ada di lantai satu, teramat sangat terkejut melihat apa yang mereka lihat itu, Dio membopong seorang wanita dengan luka yang mengalirkan darah dari kepalanya.


"Panjang ceritanya Ayah! yang pasti dia adalah otak dibalik semua kejadian ini, bisakah Ayah menemaniku untuk membawa dia ke rumah sakit sebelum dia mati?" tanya Dio balik.


Pak Dirja menganggukkan kepalanya kemudian mereka segera meletakkan wanita itu di jok Tengah mobil Dio, untuk segera dilarikan ke rumah sakit.


Kemudian dia berjalan mendekati Dinda yang masih berdiri termangu, seperti orang bingung yang tidak mengerti apapun.


"Dinda, Kau jaga di rumah baik-baik, Jangan memikirkan banyak hal, ingat bayi yang ada di dalam kandungannya ini, dia lebih berharga daripada Apapun kau di rumah temani Chika, bersama dengan Ibu! aku akan mengurus semuanya, kau jangan khawatir!" ucap Dio sambil mengecup kening Dinda.


"Iya Mas, hati-hati! Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu! jangan pernah lepas dari ponselmu, karena aku akan sering menelponmu!" sahut Dinda.


Dio menganggukkan kepalanya, setelah itu dia langsung bergegas masuk kedalam mobilnya, Pak Dirja sudah menunggu di sana, bersama dengan wanita yang kini tak sadarkan diri itu, dengan luka di kepalanya yang terus mengalirkan darah.


Setelah itu Dio langsung melajukan mobilnya itu keluar dari rumahnya menuju ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Dinda yang masih termangu, tetap diam membisu, sepertinya semuanya ini seolah mimpi, namun ini bukanlah mimpi tapi sebuah kenyataan, kemudian Dinda segera menuju ke kamar Chika.


Chika nampak tertidur dengan lelap wajahnya kelihatan lelah.


Dinda kemudian duduk di sisi pembaringan Chika, berniat untuk tidur disampingnya, tak lama kemudian Bu Lilis masuk ke dalam kamar Chika, dia juga ikut Duduk menemani Dinda di sana.


"Ibu, Sebenarnya apa yang telah terjadi di rumah ini? kenapa aku tidak tahu apapun?" tanya Dinda.


"Dinda, kami semua tidak mau kamu cemas dan khawatir, apalagi kamu sedang hamil muda, perasaan cemas bisa membuat tensi naik dan itu tidak baik untuk perkembangan janin mu!" jawab Bu Lilis.


"Tapi aku perlu tahu Bu, kenapa kalian semua menyembunyikannya dari aku? bukan Kah aku berhak tahu Seburuk apapun itu??" tanya Dinda.


"Ya, sekarang kau memang harus tahu, tapi Ibu harap kamu jangan cemas, karena mungkin semuanya ini akan berakhir sudah tidak ada lagi masalah di keluarga ini setelah ini!" ucap Bu Lilis.


"Katakanlah sekarang padaku Bu!" kata Dinda.


"Dinda, di rumah ini ada penyusup dan kau tahu suster Anna, suster yang direkomendasikan oleh teman baikmu itu, dia adalah orang jahat yang menyusup ke rumah ini!" ujar Bu Lilis.


"Apa Bu? suster Anna? kok bisa? sahabatku sendiri yang merekomendasikan dia untuk bekerja disini!" kata Dinda nyaris tak percaya.


"Asal kamu tahu Din, sekarang suster Anna itu sudah kabur dan ditangkap polisi, dan kini dia ada di tahanan! Kalau kau mau menginterogasinya ibu akan antar Besok kau ke penjara, sedangkan temanmu itu, Dio sudah berusaha untuk menghubunginya, tapi tidak pernah diangkat teleponnya, entah ada cerita Apa dibalik ini semua!" jelas Bu Lilis.


Dinda terhenyak mendengar penjelasan Bu Lilis, dia sama sekali tidak menyangka kalau di rumahnya ini begitu banyak masalah, entah apa yang diinginkan mereka, bahkan Dinda sendiri pun hampir kehilangan nyawanya kalau Dio tidak datang tepat pada waktunya.


Dinda menarik nafas panjang, dia menyandarkan tubuhnya di bantal yang ada di belakangnya, kemudian mengelus perutnya dan menarik nafas beberapa kali berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Bersambung ....


****

__ADS_1


__ADS_2