Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Kemarahan Keyla


__ADS_3

Pak Dirja belum selesai menceritakan kisah masa lalunya, namun Keyla sudah berdiri sambil mengangkat tangannya, mengisyaratkan Pak Dirja untuk berhenti berbicara.


Pak Dirja langsung terdiam, dia mencoba mengangkat kepalanya yang sejak tadi terbaring di ranjangnya.


"Oh, aku paham sekarang, jadi ada pelakor di dalam keluarga kita? Dan pelakor itu adalah pengasuhku sendiri? Ayah keterlaluan!" sengit Keyla.


"Key, kau tau dulu bagaimana Ibumu? Ayah laki-laki yang membutuhkan perhatian dan penghargaan! Apa itu salah??" sergah Pak Dirja.


"Jelas salah! Di mana-mana yang namanya selingkuh itu salah! Dasar pelakor! Ibu dan anak sama saja!" seru Keyla dengan wajah yang merah padam menahan amarah.


"Jaga mulutmu Keyla! Kau tidak berhak menghakimi mereka, dan kau juga harus bisa menerima kalau Dinda itu adalah adikmu!" sentak Pak Dirja.


"Tidak akan! Dia bukan adikku! Dan aku sangat kecewa pada Ayah! Sangat kecewa!" sengit Keyla yang langsung berlari meninggalkan ruangan Pak Dirja.


Pak Dirja hanya bisa menarik nafas panjang sambil memegangi dadanya.


Setelah itu dia memencet bel yang ada di dinding dekat dengan posisi kepalanya.


Tak lama kemudian seorang perawat datang ke ruangan Pak Dirja.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya perawat itu.


"Saya sesak nafas, tolong pasangan selang oksigen!" kata Pak Dirja sambil terbatuk dengan nafas tersengal-sengal.


Dengan cepat perawat itu segera memasangkan selang oksigen pada Pak Dirja.


Ceklek!


Ken datang dan langsung tertegun melihat keadaan pak Dirja.


"Apa yang terjadi dengannya suster?" tanya Ken.


"Pasien mengalami sesak nafas, ini baru saya pasangan oksigen!" jawab suster itu.


Pak Dirja melambaikan tangannya untuk memanggil Ken, Ken lalu melangkah mendekati Pak Dirja.


"Kejar Keyla!" ucap Pak Dirja lirih, nyaris tak terdengar.


Dengan sedikit ragu, Ken kemudian menganggukan kepalanya dan melangkah keluar dari ruangan itu, berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk mengejar Keyla.


****


Matahari sudah mulai tenggelam, para tamu undangan satu persatu mulai pulang meninggalkan acara pesta pernikahan di rumah Dio.


Hingga suasana kembali menjadi sepi, Dio dan Dinda juga sudah masuk ke dalam, duduk di sofa ruang tamu, mengobrol dengan beberapa saudara dan kerabat dari Bandung.

__ADS_1


Hingga semua kerabat juga sudah pulang ke tempat mereka masing-masing.


"Din, Ibu pamit ya, semoga kau selalu berbahagia, Dio, titip Dinda untuk Ibu, Ibu mohon kau jaga hatinya, dan jangan pernah menyakitinya!" ucap Bu Lilis.


"Tidakkah Ibu ingin menginap di sini? Kenapa harus buru-buru?" tanya Dio.


"Seorang Ibu hanya akan sampai di sini mengantar anaknya yang sudah menjad miilik suaminya, kau jangan khawatir!" jawab Bu Lilis.


"Ujang akan mengantar Ibu, mulai sekarang, kalau mau pergi kemanapun, Ibu tinggal menghubungi Ujang!" kata Dio.


"Iya Nak, trimakasih!"


Dio dan Dinda menatap mobil yang di kendarai Ujang, yang membawa Bu Lilis pulang ke apartemen.


Air mata Dinda mengalir melepas kepergian Ibunya.


"Mulai hari ini Ibu akan sendirian, kasihan Ibu, dia pasti kesepian!" isak Dinda.


"Sayang, seorang Ibu akan bahagia melihat anaknya bahagia, apalagi berada di tangan seorang lelaki yang tepat, yang sangat mencintai dan menghargai anaknya!" ucap Dio sambil mengusap air mata Dinda dengan kedua tangannya.


"Tapi Mas ... aku tidak tega melihat Ibu yang kembali dalam kesendiriannya!" sahut Dinda.


"Kita akan ajak dia untuk tinggal bersama kita sayang!"


"Dia tidak akan mau!"


Dinda menganggukan kepalanya, setelah itu, Dio menuntun Dinda kembali masuk ke dalam rumah besarnya.


Beberapa orang nampak sedang membereskan dekorasi, juga sibuk menata kembali taman dan area rumah Dio.


Pak Frans dan Bu Lian nampak sedang menikmati makan malam di meja besarnya itu.


Chika ada di antara mereka, wajah anak itu berseri-seri, menandakan kalau hatinya sedang senang, mendapat hadiah yang diinginkannya, pada hari ulang tahunnya.


"Papa!" Panggil Chika sambil melambaikan tangannya saat melihat Dio dan Dinda yang berjalan masuk menuju ke ruang makan.


"Ayo sini makan sama-sama Nak, kalian pasti lapar kan, seharian ini jadi pajangan!" seru Pak Frans.


Sementara Bu Lian hanya diam saja tanpa berkomentar sedikitpun.


Dio lalu membimbing istrinya itu untuk duduk bergabung di meja makan itu.


"Bu Dinda, sekarang aku boleh kan panggil Mama?" tanya Chika.


"Hei, tentu saja boleh, kenapa kau tanya lagi Chika!" sahut Dio cepat.

__ADS_1


"Ih, Papa, aku kan tanya sama Bu Dinda, eh Mama!" cetus Chika.


"Iya Chika, panggil Bu Dinda Mama, sekarang kan Bu Dinda Mama Chika!" ucap Dinda.


"Trimakasih Mama! Aku sayang Mama!" Chika langsung menghambur memeluk Dinda.


"Trimakasih Papa, sudah kasih aku hadiah hari ini!" Chika lalu beralih memeluk Dio.


"Iya sayang, jadi Papa tidak punya hutang lagi kan sama Chika, janji Papa sudah Papa tepati!" kata Dio sambil mengecup kening Chika.


Tiba-tiba Mbak Yuyun berjalan tergopoh-gopoh, menghampiri mereka yang sedang duduk bersama di meja makan besar itu.


Wajahnya kelihatan sangat tegang, menyiratkan suatu kecemasan.


"Ada apa Mbak Yuyun?" tanya Dio.


"Anu Pak, di depan ada Mbak Keyla, dia datang sambil ngamuk-ngamuk Pak! Gimana ini?!" tanya Mbak Yuyun panik.


"Waduh! Mau apa dia datang ke sini? Padahal ayahnya masih di rawat di rumah sakit!" gumam Dio.


"Ayo kita lihat ke depan, walau bagaimana, Keyla itu kan anak sahabat ayah!" kata Pak Frans yang langsung berdiri dari posisinya.


Dia lalu berjalan ke arah depan, di ikuti oleh Dinda dan Dio, juga Bu Lian yang diam saja sedari tadi.


Keyla nampak berdiri, di depan pintu, dua orang security nampak berjaga-jaga, takut kalau-kalau Keyla bertindak anarkis.


Wajah Keyla nampak kacau, matanya merah menyiratkan kemarahan yang amat dalam.


"Ada apa Keyla? Apa yang terjadi padamu?" tanya Bu Lian yang terlebih dahulu menyapa Keyla.


"Tante, wanita itu, yang sekarang jadi menantu di keluarga kalian, adalah anak haram, dari seorang pelakor!!" sentak Keyla sambil menunjuk ke arah Dinda.


"Tutup mulutmu Keyla! Jangan bicara sembarangan pada istriku!!" sengit Dio.


"Ibunya itu, yang telah menghancurkan rumah tangga ayah dan ibuku, dan aku yakin, dia juga akan menghancurkan keluarga kalian!!" tuding Keyla.


Dinda terhenyak menerima segala caci maki dari mulut Keyla, dia tidak menyangka hal ini terjadi di hari pernikahannya.


"Jarwo, tolong bawa Keyla keluar dari sini, jangan sampai dia masuk dan mengganggu kebahagiaan putraku dan istrinya!" titah Pak Frans.


"Tunggu!!"


Tiba-tiba Ken muncul dari arah depan gerbang rumah Dio, rambut dan pakaiannya basah terkena siraman air hujan yang baru saja turun.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2