Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Chika Hilang


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, namun Chika belum juga pulang sekolah, beberapa orang sudah ditelepon dari rumah, namun tidak ada satu pun yang tahu, dimana keberadaan Chika, sampai Ujang pun juga ditelepon, tapi sampai saat ini pun, dia tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Dinda semakin gundah dan khawatir, karena membiarkan Ujang sendirian menjemput Chika, kalau tahu begitu, dia pasti akan ikut menjemput siang tadi, Dinda benar-benar menyesal.


Dari arah pintu gerbang, muncullah mobil Pak Dirja yang baru sampai, dan dia langsung memarkirkan mobilnya itu di parkiran depan rumah Dio.


Dinda langsung tergopoh-gopoh menghampiri Pak Dirja dan Bu Lilis yang baru turun dari mobil, wajahnya kelihatan pucat dan sangat cemas.


"Bagaimana Ayah? Apakah sudah ada kabar mengenai Chika? Aku benar-benar khawatir dan Ujang juga tidak dapat dihubungi!" tanya Dinda.


"Ayah sudah mutar-mutar mencari kemanapun, tapi Chika belum diketemukan, bahkan Ayah sudah memposting foto Chika di media sosial belum ada orang yang menemukan nya juga, entah pergi kemana anak itu bersama dengan Ujang!" jawab Pak Dirja.


"Kita laporkan saja ke polisi rumah itu lebih aman daripada terjadi sesuatu pada Chika atau hal yang tidak kita inginkan!" usul Bu Lilis.


"kita tidak bisa melaporkan kasus yang kejadiannya kurang dari 24 jam, lebih baik kita cari saja lewat media sosial, supaya cepat mendapatkan titik terang!" kata Pak Dirja.


"Dinda, Apakah dia sudah tahu mengenai ini? Apa dia sudah tahu kalau Chika belum pulang sampai sekarang?" tanya Bu Lilis sambil menoleh kearah Dinda yang sejak tadi nampak seperti orang kebingungan.


"Belum Bu, aku tidak tega memberitahukan kabar ini pada Mas Dio, aku takut dia akan kepikiran, apalagi saat ini dia sedang sibuk mengurus pekerjaannya, ditambah lagi ada tamu dari luar negeri, aku takut konsentrasinya akan terpecah!" jawab Dinda.


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, wajah mereka kelihatan pucat dan bingung, beberapa kali pak Dirja membuka ponselnya hanya untuk memposting gambar Chika.


Mbak Yuyun datang sambil membawakan satu nampan minuman dingin untuk mereka, juga beberapa piring cemilan, kemudian dia menaruhnya di atas meja ruang tamu itu.


Tak lama kemudian mobil Dio sudah memasuki garasi di depan rumahnya, dia langsung turun dan menghampiri mereka yang sedang duduk itu, dan dia langsung duduk bergabung dengan mereka, wajahnya kelihatan tegang, sepertinya Dio juga sudah tahu kalau jika menghilang bersama dengan Ujang.


"Dinda, kenapa kau tidak memberitahuku kalau Chika belum pulang sampai sekarang? Kenapa tidak sejak awal kamu beritahukan aku? Kalau kita terlambat pulang 1/2 jam dan kamu beritahu aku, paling tidak aku sudah menyuruh orang untuk mencari mereka, Kenapa semuanya begitu terlambat?!" tanya Dio.


"Maafkan aku Mas, aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaanmu!" jawab Dinda.


"Tapi gara-gara kau tidak ingin mengganggu pekerjaanku, kita jadi kehilangan Chika sampai sekarang! Aku bahkan tahu Chika hilang dari postingan yang dibuat oleh ayah Dirja!" Kata Dio.


Dinda diam saja tanpa berani menjawab lagi ucapan Dio, dia juga merasa sangat bersalah, kalau tahu seperti ini, dia pasti juga akan mengatakan pada Dio hal yang sesungguhnya sejak awal, Dinda sama sekali tidak menyangka, kalau Chika benar-benar tidak akan pulang Sampai dengan saat ini.


"Sudah lama Dio, kita Jangan saling menyalahkan lagi! Di sini tidak ada yang benar tidak ada yang salah, faktanya kalau saat ini Chika benar-benar belum pulang ke rumah, yang harus kita lakukan adalah segera mencarinya, sebelum dia semakin jauh dan kita tidak tahu apa yang terjadi pada anak itu!" sergah Bu Lilis.


Dio kemudian dengan cepat mengambil ponselnya, kemudian dia segera menghubungi satu demi satu semua teman dan kerabatnya, bahkan semua rekan-rekan bisnis dan koleganya.


Dia juga memposting tentang hilangnya Chika di berbagai media sosial, karena dia yakin kalau media sosial punya kekuatan tersendiri untuk mencari orang yang hilang, apalagi prosesnya begitu cepat, karena kemampuan alat digital yang begitu canggih untuk saat ini.


Warna langit sudah berubah menjadi merah ke-emasan, matahari sudah mulai turun ke tempat peraduannya.


Dinda masih duduk terpekur di sofa ruang keluarga, sambil sesekali menyeka air matanya, dia benar-benar merasa bersalah, merasa sangat Kehilangan dan juga merasa sangat menyesal.


Semua perasaan tak menentu campur aduk di dalam dirinya, sementara Dio dan Pak Dirja sudah pergi keluar dari rumah untuk mencari Chika secara manual, mereka berkeliling kota Jakarta untuk menyebarkan selebaran selebaran ke kampung-kampung atau pelosok-pelosok di tempat-tempat keramaian, hanya Bu Lilis yang menemani Dinda di rumah itu.


"Sudahlah Dinda, Kamu jangan terlalu khawatir mengenai Chika! Ingat kesehatanmu lho, apalagi sekarang Dio dan ayahmu sedang mencari Chika, lebih baik kamu istirahat saja, Kamu kan juga butuh menjaga kesehatan mu sendiri!" ucap Bu Lilis.


"Mana bisa Aku istirahat Bu, aku masih kepikiran Chika, entah dimana saat ini dia berada, semua guru-guru di sekolah bahkan sudah aku hubungi satu demi satu, tapi tidak ada yang tahu mengenai Chika, mereka hanya melihat Chika pulang sekolah bersama dengan Ujang, hanya itu Bu, selebihnya mereka tidak tahu apa-apa!" ungkap Dinda.


"Tapi tetap saja kau harus istirahat Dinda, Ayo cepat kembali ke kamarmu atau Dio nanti akan menegur Ibu karena Ibu tidak memberitahumu!" kata Bu Lilis.


Akhirnya dengan langkah gontai Dinda berjalan perlahan menuju ke kamarnya.


Kendati pikirannya pun masih terpaut pada Chika yang sampai matahari terbenam belum juga pulang ke rumah, Dinda begitu khawatir, Apakah Chika sudah makan atau belum, atau bagaimana keadaannya, dia benar-benar khawatir.

__ADS_1


Baru kali ini Dinda se khawatir ini terhadap Chika. Chika anak yang pintar dan cerdas, dia pasti akan bisa melewati ini semua.


Tapi tetap saja, Chika hanyalah seorang anak kecil biasa yang kekuatannya pun juga tidak seberapa.


Di kamarnya itu, Dinda hanya mondar-mandir kesana dan kemari, sesekali dia duduk di sofa, sesekali Dia berjalan ke balkon.


Dia benar-benar sangat gelisah, apalagi Dio yang wajahnya terlihat begitu tegang dan khawatir, Dinda menyadari bahwa Chika adalah Putri satu-satunya Dio, Dio amat menyayangi Chika melebihi apapun.


Wajar saja kalau Dio menyalahkan Dinda, dan Dinda pun benar-benar sangat menyesal.


****


Sementara itu di tempat kediamannya, Keyla juga terlihat sangat gelisah, beberapa kali dia menyibakkan tirai jendela di ruang tamu rumahnya itu.


Sejak pagi tadi sampai dengan matahari terbenam, ayahnya juga tak kunjung pulang, apalagi Keyla baru melihat di media sosial mengenai hilangnya Chika, Keyla yakin kalau Ayahnya juga ikut membantu mencari Chika.


" Mbak Keyla, Jadi tidak kita pergi keluar untuk membeli susu hamil dan cemilan buat kamu?" tanya Ken yang terlihat baru turun dari tangga. Rambutnya basah dan nampaknya dia seperti habis mandi.


"Tidak jadi lah Ken, aku mengkhawatirkan ayah, kamu sudah lihat belum di media sosial, tuh sekarang lagi viral soal hilangnya Chika Sejak pulang sekolah! Dan aku bisa bayangkan bagaimana perasaan Dio dan keluarganya kehilangan Chika!" jawab Keyla.


"Wah wah wah wah! Sejak kapan nih Mbak Keyla mulai peduli dengan keluarga Dinda? Sepertinya istriku ini sudah mulai berubah jadi orang baik!" ujar Ken.


"Sialan! Memangnya selama ini kau pikir aku orang jahat?! terlalu kau Ken!" Sungut Keyla.


"Maaf deh Mbak! Maksudku sih bukan begitu, aku hanya bahagia saja, ternyata Mbak Keyla itu punya Sisi yang baik, yang mungkin tidak diketahui oleh semua orang!" ucap Ken.


"Lebay!"


"kok lebay sih? Beneran kali Mbak! selama ini kita berteman, Mbak Keyla itu kelihatannya cuek dan jutek, dan ternyata Mbak Keyla cukup peduli juga ya dengan saudara sendiri!" kata Ken.


"Sudahlah Ken! daripada kamu banyak cincong, mendingan bikinkan aku nasi goreng lagi! aku lapar!" cetus Keyla.


"Tidak mau! Pokoknya aku mau makan nasi goreng dan harus kamu yang membuatkannya untukku!" seru Keyla.


"Iya deh! Demi istri tercinta, jangankan nasi goreng, ular goreng pun akan kubuatkan untukmu Sayang!" sahut Ken yang kemudian berlalu dari tempat itu menuju ke dapur. Keyla tersenyum senang.


Ken mulai memasak di dapur, sekarang dia sudah mulai piawai dalam hal memasak nasi goreng untuk Keyla, padahal sebelumnya dia tidak pernah sama sekali membuat masakan apapun.


Tapi sejak berstatus menjadi suami Keyla dan calon ayah dari anak yang dikandung keyla, Ken berubah menjadi kebapakan.


Sementara Keyla duduk berselonjor kaki di atas sofa, sambil berselancar di dunia maya menunggu nasi gorengnya selesai dibuat oleh sang suami tercinta.


Kring ... Kring ... Kring


Tiba-tiba terdengar suara telepon yang berdering, Bi Titi yang sedang sibuk mengangkat pakaian dari laundry berjalan tergopoh-gopoh untuk mengangkat telepon yang berdering itu.


Tak lama kemudian Bi Titi nampak berjalan kearah Keyla yang masih duduk santai di atas sofa sambil memainkan ponselnya.


"Siapa yang telepon Bi?" tanya Keyla.


"Pak Dirja Mbak, katanya malam ini dia tidak pulang, karena masih mencari Chika!" kata Bi Titi.


"Baiklah Bi, trimakasih!" ucap Keyla.


Bi Titi kemudian segera berjalan Kembali menuju ke ruang laundry untuk menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Keeeen!!!" Panggil Keyla tiba-tiba.


Ken yang sedang memasak di dapur sangat terkejut mendengar teriakan Keyla, spontan dia mematikan kompornya dan berjalan menghampiri istrinya itu dengan wajah tegang.


"Ada apa sih Mbak! Teriak-teriak Kayak orang kebakaran jenggot saja! Bisa tidak sih memanggil dengan suara pelan!?" tanya Ken.


"Ken tolong kau antarkan obat untuk ayah ke rumah Dinda! Kasihan Ayah pergi seharian, dia pergi sampai lupa minum obat!" kata Keyla.


"Terus nasi gorengnya bagaimana Mbak? Tanggung lho mbak, aku sudah racik bumbunya, tinggal masukin nasi jadi deh!" sahut Ken.


"Ya sudah deh, sekarang kamu masak dulu cepat nasi gorengnya, Setelah itu kamu langsung pergi ke rumah Dio ya kamu kasih obat untuk ayah, kasihan kata Bi Titi mungkin malam ini Ayah tidak pulang ke rumah!" kata Keyla.


"Siap Nyonya!" sahut Ken yang kemudian kembali ke arah dapur, melanjutkan aktivitasnya.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt


Tiba-tiba ponsel Keyla bergetar, Keyla kemudian melihat ada nomor yang tidak dikenal yang menelpon. Keyla mengerutkan keningnya, tidak biasanya ada orang tidak kenal menelpon di ponselnya itu, karena penasaran akhirnya Keyla mengusap layar ponselnya itu, untuk tahu siapa orang yang menemukannya.


"Halo!"


"Halo, Ini mbak Keyla? Apakah kamu masih menyimpan dendam dan kebencian pada keluarga Dio? Kalau kau masih dendam padanya, kau bekerjasamalah dengan aku!" kata orang yang tak dikenal dari seberang telepon. Keyla terperangah karena terkejut.


"Siapa kau?" tanya Keyla.


"Tidak perlu tau siapa aku! Aku tau, kamu pernah sakit hati kan dengan keluarga itu, karena impianmu untuk memiliki laki-laki itu pupus begitu saja, kalau kau bersedia bekerja sama, kau hanya tinggal bilang iya saja, dan kau datanglah menemui aku untuk pembicaraan selanjutnya!" lanjut orang itu.


Lidah Keyla tiba-tiba kelu, entah siapa orang yang meneleponnya saat itu, tapi sepertinya dia sudah sangat mengenal Keyla juga keluarga Dio.


Tiba-tiba ada yang bergemuruh di dada Keyla, seumur hidup, belum pernah dia mendapatkan tawaran seperti ini.


"Bagaimana?" tanya orang itu mengejutkan Keyla.


"Apa yang akan kau lakukan pada keluarga Dio?" tanya Keyla.


"Aku tidak bisa memberitahu mu sekarang, kalau kau mau, tunggu aku di suatu tempat, aku akan mengirimkan alamat nya melalui pesan singkat!" kata orang itu sebelum menutup panggilan teleponnya.


Tubuh Keyla bergetar setelah selesai menerima panggilan telepon dari orang tak dikenal itu.


Keyla memang pernah dendam pada keluarga Dio dan Dinda, Karena dia begitu cemburu dan keinginannya tidak tercapai, Dia pernah sangat membenci sosok Dio dan Dinda, Tapi walau bagaimana dia juga harus mengakui kalau Dinda itu adalah adiknya.


Keyla semakin bingung dan pucat, pikirannya benar-benar tidak menentu, apakah ini adalah suatu titik terang mengenai di mana keberadaan Chika yang hilang itu ataukah ini kasus yang lain lagi?


"Mbak Key, nasi gorengnya sudah matang nih, ayo silakan dimakan!" kata Ken sambil membawa sepiring nasi goreng itu ke hadapan Dinda yang masih terlihat bengong.


"Mbak! Jangan bengong! Kesambet setan lho!" cetus Ken.


Tiba-tiba Keyla berdiri dan memeluk Ken dengan sangat erat, tubuhnya sedikit bergetar.


Ken bingung dan kaget melihat perubahan sikap keyla, entah apa yang membuatnya seperti itu.


"Ada apa Mbak? Kenapa Mbak Keyla tiba-tiba berubah seperti ini? Mbak Keyla seperti habis melihat hantu saja!" tanya Ken bingung.


"Ken, aku takut Ken!"


"Apa yang Mbak Keyla takut kan? Apakah di rumah ini ada hantu? kau sampai Berkeringat dingin seperti ini! ada apa sih?!" tanya Ken semakin bingung, dia kemudian meletakkan piring nasi gorengnya itu di atas meja, lalu mengusap keringat dingin yang membanjiri seluruh wajah dan tubuh Keyla saat ini.

__ADS_1


Bersambung....


*****


__ADS_2