
Dinda bergegas kembali berjalan ke arah pintu apartemen itu, dan dengan perlahan dia membuka pintunya berharap kalau kali ini bukan hal yang membuat dia terkejut seperti tadi.
"Taraaa!!"
Tiba-tiba Chika sudah berdiri di depan pintu apartemen itu bersama dengan Dio.
Sekilas Dinda melirik jam yang ada di dinding waktu baru menunjukkan pukul 6 sore, namun Dio dan Chika datang lebih awal.
"Lho, kalian cepat sekali datangnya, aku bahkan belum siap apa-apa!" ujar Dinda.
"Papa sudah tak sabar Bu! Dia malah sudah siap dari jam 3 tadi, mana berapa kali di depan cermin terus, sisiran terus, senyum-senyum terus, kayak orang gila!" jelas Chika.
"Hush Chika! Jangan bikin Papa malu dong!" sergah Dio sambil menutup mulut Chika.
"Iiih, Papa! Beneran juga!" cetus Chika.
"Sudah, yuk masuk, di dalam ada Ibu dan Asti, makanan juga sudah siap sih!" ajak Dinda.
Dio dan Chika kemudian masuk ke dalam apartemen itu, dan mereka langsung duduk di sofa ruangan itu, duduk bergabung dengan Bu Lilis yang masih duduk di situ.
Dio langsung menyalami Bu Lilis, Begitu juga dengan Chika.
"Akhirnya Bu, saya bisa menepati janji saya waktu itu pada ibu akan melamar Dinda!" ucap Dio.
"Iya nak, ibu juga tidak menyangka kalau ucapan itu akan jadi kenyataan!" jawab Bu Lilis.
Dio kemudian mulai mengeluarkan semua Amplop coklat yang sangat tebal, kemudian disodorkannya ke arah Bu Lilis.
"Saya tidak tahu bagaimana cara melamar seorang wanita Bu, saya juga tidak sempat untuk membuat seserahan atau apapun, Terimalah ini sebagai pinangan saya atas Dinda, dan saya minta maaf atas ketidak hadiran orang tua saya, karena mereka sedang ada di Singapura!" ucap Dio.
"Jadi, Apa rencana kalian selanjutnya? Nak Dio kan sudah meminta pada ibu baik-baik, lalu bagaimana tahapan selanjutnya?" tanya Bu Lilis.
"Saya akan langsung menikahi Dinda Bu atas izin ibu, dan lebih cepat lebih baik, karena saya juga tidak ingin berlama-lama menahan diri!" jawab Dio.
"Pak Dio tidak tahan apa tuh?" celetuk Asti tiba-tiba.
"Ada deh, namanya juga laki-laki!" sahut Dio.
__ADS_1
"Oh ya mas, Asti ini adalah agen asuransi, Mas Dio pasti tahu asuransi nomor satu di negeri kita, kalau mau, Mas Dio ikut bergabung asuransinya Asti ya, buat proteksi masa depan!" kata Dinda.
"Hmm, sebenarnya aku dan Chika sudah punya banyak asuransi, tapi tidak apa-apa, aku akan tambah lagi asuransinya untuk aku, Chika, Dinda dan Ibu!" jawab Dio.
"Apaa??" Asti terbelalak dan hampir pingsan.
Asti sudah membayangkan kalau dia mengambil premi tinggi ditambah dengan Dinda dan ibunya pasti dia akan menjadi top agent dan komisinya juga pasti besar.
"Waah, trimakasih Pak Dio, segera saya buatkan ilustrasinya!" kata Asti dengan wajah berbinar.
"Lho, kok malah membicarakan asuransi, ayo kita makan dulu, nanti makanannya keburu dingin!" tukas Bu Lilis.
Bu Lilis segera beranjak dari duduknya dan menyiapkan meja makan yang sudah tersaji banyak makanan itu.
Kemudian Dio dan Chika langsung menuju ke meja makan untuk santap malam mereka, disusul oleh Asti dan Dinda.
"Din, trimakasih ya, sudah buka jalan buat asuransiku!" bisik Asti.
"Sama-sama As!"
"Tidak sia-sia aku ikut bantuin kamu, aku bakal dapat komisi besar nih!" lanjut Asti sambil duduk di bangkunya.
"Bu Dinda, tadi dibawah aku ketemu sama tante Keyla, terus tante Keyla nangis, kasihan deh bu, masa tante Keyla tarik-tarik tangan Papa!"ujar Chika.
"Oya?"
"Iya Bu, malah tadi tante Keyla mau minta Papa anterin pulang, tapi Papa tidak mau!" lanjut Chika.
"Hmm, belum-belum sudah banyak godaan, sebenarnya Nak Dio dulu pernah punya mantan pacar tidak?" tanya Bu Lilis.
"Saya tidak pernah pacaran Bu, dan saya juga tidak punya mantan, saya langsung dijodohkan dengan orang tua saya dengan mendiang istri saya, dan sekarang istri saya sudah meninggal!" jawab Dio.
"Masa sih Nak Dio tidak punya pacar? Nak Dio ganteng begitu pasti Banyak yang naksir dulu, jangankan dulu, sekarang pun banyak yang mengejar kelihatannya!" tanya Bu Lilis lagi.
"Ibu bisa saja, saya ini susah jatuh cinta Bu, kecuali dengan anak ibu, seandainya dari dulu saya ketemu anak ibu, pasti sekarang dia sudah lama jadi istri saya!" jawab Dio.
"Oh ya nak jadi kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Bu Lilis.
__ADS_1
"Minggu depan Bu!" jawab Dio mantap.
"Apa? Minggu depan? Apa tidak terlalu cepat?" tanya Bu Lilis.
"Tidak Bu, minggu depan adalah hari ulang tahun Chika dan saya ingin pada saat dia ulang tahun, dia sudah punya Mama!" jawab Dio.
Bu Lilis kemudian beralih ke arah Dinda yang masih terlihat asyik menyantap makanannya.
"Bagaimana Din? Apakah kau sudah siap lahir batin menikah dengan Dio dan menjadi istrinya, juga menjadi Mama buat Chika?" tanya Bu Lilis.
"Siap Bu!" jawab Dinda. Bu Lilis nampak menarik nafas lega.
"Jadi mulai sekarang, ibu tinggal di sini ya bersama dengan Dinda, untuk keluarga besar Dinda yang lain yang ada di Bandung, boleh di adakan acara pesta di sana, mudah-mudahan kaki saya bisa segera pulih kembali!" ucap Dio.
"Baiklah kalau memang kalian sudah mantap, sebagai orangtua ibu hanya mendukung, semoga dilancarkan jalannya, sebelum kalian menikah Ibu akan mengajak Dinda untuk bertemu dengan ayah kandungnya!" kata Bu Lilis.
"Ayah kandung? Ibu tau dia di mana?" tanya Dio.
"Ibu akan datang ke alamatnya yang lama, mudah-mudahan saja dia masih hidup, dan masih tinggal di sana!" jawab Bu Lilis.
"Saya akan bantu Bu, u tuk mencari beliau!" kata Dio.
"Trimakasih Nak Dio, ayo makannya di tambah lagi, banyak ini lho!"
"Oya Pak Dio, mengenai asuransinya, besok saya akan kirimkan ilustrasinya ya, pokoknya Pak Dio harus mengambil premi besar, supaya kesejahteraan keluarga Bapak terjamin!" timpal Asti.
"Siap!" sahut Dio.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Tiba-tiba ponsel Dio bergetar, Dio kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam saku jasnya.
"Ayahnya Keyla menelepon, sebentar ya, dia adalah sahabat orang tua saya, mungkin ada hal penting yang akan di sampaikan!" ucap Dio.
"Silahkan Nak!"
Dio kemudian mulai berdiri dan mengusap layar ponselnya itu.
__ADS_1
Bersambung...
****