Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Menghadapi Bersama


__ADS_3

Dinda membiarkan saja Dio memeluk tubuhnya dengan erat, selama masih ada batasan-batasan yang wajar.


Dinda menyadari, mabuk hanyalah tempat pelampiasan kegundahan hati Dio, pada dasarnya Dio bukan orang yang dengan sengaja mau menghancurkan dirinya sendiri.


Terbukti dia sangat penyayang keluarga, bertanggung jawab dan sangat perhatian, terutama pada Chika dan dirinya, meskipun awalnya terlihat begitu cuek.


"Sudah Pak, tenangkan dirimu dan pejamkan matamu, aku akan menemanimu di sini!" bisik Dinda.


Dio menganggukkan kepalanya, kendati tangannya masih memeluk erat Dinda, seolah takut kehilangan.


Tak lama kemudian Dio nampak terkulai dan tertidur dalam pelukan Dinda.


Setelah di pastikan kalau Dio benar-benar tidur pulas, Dinda perlahan mulai beranjak dan menyelimuti Dio dengan selimut.


Setelah itu Dinda melangkah ke kamar dan membaringkan tubuhnya di sana, sudah hampir subuh, dan Dinda baru merasa benar-benar mengantuk.


****


Cup!


Dinda terperanjat saat sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya.


Matanya terbuka perlahan, cahaya sinar mentari mulai masuk menerpa wajahnya, sementara Dio sudah duduk tersenyum di hadapannya.


"Good Morning sayang!" ucap Dio.


"Pak Dio? Apa yang Pak Dio lakukan??" tanya Dinda panik sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Dio nampak tertawa terkekeh.


"Kau pikir aku melakukan apa padamu? Berbuat mesum??" sahut Dio.


"Pak Dio sudah sadar kan? Bisa saja Pak Dio memanfaatkan saya, karena saya ketiduran! Ini kan apartemen Bapak!" ujar Dinda.


"Silahkan kau periksa saja tubuhmu, apa ada yang sakit, atau ada yang lecet, atau ada yang ..."


"Stop! Jangan di teruskan!" potong Dinda cepat.


"Oke!"


"Sekarang minggir Pak! Saya mau mandi atau akan terlambat datang ke sekolah!" sergah Dinda.


"Sekolah?? Kau pikir ini hari apa? Ini hari Sabtu sayang, bukankah sekolah libur??" tanya Dio tersenyum.


"Oh, iya ya, ini hari Sabtu, aku lupa!" sahut Dinda sambil menepuk jidat nya sendiri.

__ADS_1


Dio tersenyum sambil terus menatap Dinda tanpa berkedip, Dinda jadi semakin salah tingkah.


"Sekarang tunggu apa lagi? Kenapa Pak Dio masih di sini? pulanglah ke rumah Pak! Chika pasti akan mencarimu!" lanjut Dinda.


"Biasanya kalau hari libur begini, Chika akan bangun siang, setelah itu dia pasti akan menonton film kartun kesayangannya!" sahut Dio.


"Lalu, Pak Dio mau apa sekarang??" tanya Dinda.


"Membawamu datang pada orang tuaku!" jawab Dio.


"Apa? Kau jangan bercanda Pak! Aku belum siap!" tukas Dinda.


"Bersiaplah, aku akan menunggumu, dan aku juga sudah membuatkan sarapan untukmu!" ucap Dio.


"Bukan itu, aku belum siap bertemu dengan kedua orang tuamu!" lanjut Dinda.


"Pegang tanganku dan jangan kau lepaskan lagi, kita akan menghadapi bersama, walaupun aku tau mereka belum yakin, siapa tau dengan langsung melihatmu datang bersamaku, mereka bisa yakin, kalau kau adalah pilihan yang tepat!" ungkap Dio.


"Tapi ..."


"Jangan membantah, aku tidak suka di bantah!"


Dio lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur, tak lama dia sudah kembali dengan membawa sepiring nasi goreng buatannya.


"Aku belum mandi dan sikat gigi Pak, tidak terbiasa bangun tidur langsung sarapan!" tukas Dinda.


Mau tidak mau Dinda membuka mulutnya, meskipun dia sangat tidak terbiasa, namun percuma dia membantah, toh Dio juga tidak akan berhenti.


"Dulu aku juga melakukan ini pada mendiang istriku, meski aku tau tidak ada cinta dalam hatinya, tapi aku tulus melakukannya!" ungkap Dio.


"Beruntungnya mendiang istri Pak Dio, tapi sayang dia harus pergi meninggalkan kalian begitu cepat!" sahut Dinda.


"Sudahlah, itu hanya serpihan masa lalu, dulu aku tidak pernah berhasil mendapatkan hatinya, makanya aku sangat takut, aku tidak bisa mendapatkan hatimu!" ucap Dio.


Dio terus menyuapkan satu suap ke Dinda, dan satu suap ke mulutnya sendiri, mereka makan sepiring berdua.


Meskipun risih, Dinda membiarkan saja apa yang Dio lakukan terhadapnya.


"Kemarin aku sudah bicara pada Ayah dan Bundaku, mengenai keinginanku untuk melamarmu!" ucap Dio.


"Lalu?"


"Jujur Bunda ku kurang menyetujuinya, dan aku merasa sangat kecewa, makanya aku sangat ingin membawa mu ke hadapannya, menunjukan pada mereka kalau aku benar-benar serius terhadapmu!" ungkap Dio.


"Inilah yang aku takutkan, mereka pasti tidak akan menyukaiku, aku tau diri aku siapa, tidak bisa sebanding dengan Pak Dio!" ucap Dinda lirih.

__ADS_1


"Sssst, hatiku tidak pernah salah memilih, Aku hanya butuh kau percaya padaku, itu saja!" sahut Dio.


"Tapi Pak ..."


"Ssst, jangan membantah, setelah ini kau mandi, aku akan menunggumu di depan ya, kau jangan takut, aku tidak akan sedikitpun menyentuhmu, aku menjunjung tinggi sakral nya pernikahan!" bisik Dio sambil meletakkan piring yang telah kosong itu ke atas meja.


Kemudian Dio menyodorkan segelas air putih pada Dinda, membantunya untuk meneguknya perlahan.


"I Love you ..." ucap Dio sebelum bangkit dan beranjak keluar kamar.


Dinda kemudian langsung bangun dari posisinya, mengambil handuknya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


****


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Dio, entah mengapa jantung Dinda seolah tidak berhenti berdebar keras.


Sesungguhnya dia sangat takut, takut menghadapi kenyataan pahit, saat bertemu dengan kedua orang tua Dio.


Walaupun Dio meyakinkannya untuk menghadapi berdua segala rintangan yang ada, tapi tetap saja rasa takut itu selalu datang menghampirinya.


"Kau kenapa sayang?" tanya Dio.


"Pak, bisa tidak kita tunda saja ke rumah Pak Dio, aku belum siap Pak!" jawab Dinda lirih.


"Belum siap? Kau masih meragukan aku??" tanya Dio.


"Bukan begitu Pak, tapi ..."


"Kalau kau benar-benar sayang padaku dan Chika, kau tidak akan pernah mundur!" ucap Dio.


Tak lama mereka sudah sampai di depan rumah besar Dio, Bang Jarwo security nampak membukakan pintu gerbang.


Setelah memarkirkan mobilnya, Dio mengandung tangan Dinda melangkah masuk ke dalam rumah itu.


"Pak Dio baru pulang??" tanya Mbak Yuyun yang terlihat sibuk membereskan ruang makan.


"Iya Mbak, Ayah dan Bunda kemana?" tanya Dio balik.


"Tuan dan Nyonya besar sudah pulang ke Singapura pagi-pagi sekali tadi, Pak Dio di telepon tidak bisa-bisa!" jawab Mbak Yuyun.


"Apa? Sudah pulang ke Singapore?" tanya Dio terkesiap.


"Iya Pak, selepas subuh tadi mereka berangkat!" jawab Mbak Yuyun.


Dio dan Dinda lalu saling berpandangan.

__ADS_1


Bersambung....


*****


__ADS_2