Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Mencari Ibu


__ADS_3

Dio baru saja tiba di basement apartemen, dia langsung memarkirkan mobilnya.


Dinda buru-buru turun karena hari sudah malam, dia takut kalau Ibunya mengkhawatirkannya.


"Mas Dio mau langsung pulang atau mampir?" tanya Dinda.


"Mampir dong sayang, kan mau ketemu calon mertua!" sahut Dio.


"Tapi kenapa Mas Dio tidak turun dari mobil?" tanya Dinda.


"Kan ada password nya!"


"Password?"


"Iya, password kalau turun dari mobil!"


"Jangan bercanda deh Mas, ini sudah malam!" sungut Dinda.


"Ya sudah, tinggal jalankan saja password nya, gitu saja kok repot!"


"Password nya apa sih Mas?" tanya Dinda.


"Cium!" sahut Dio.


"Ya ampun Mas, sudah malam masih sempat-sempatnya becanda! Ya sudah, aku naik duluan!"


Dinda langsung melangkah pergi meninggalkan Dio karena kesal.


Dio juga langsung buru-buru mengejar Dinda.


"Din! Cium dikit doang! Pelit amat!" seru Dio.


Dinda terus berjalan ke arah lobby dan langsung menuju ke lift, tidak mempedulikan teriakan Dio yang memanggilnya.


Dio langsung masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka pintunya itu.


"Sekarang deh ciumnya!" kata Dio merajuk.


"Jangan kayak anak kecil deh Mas, malu!" cetus Dinda.


"Malu kenapa? Toh sebentar lagi kita suami istri sungguhan!" sahut Dio.


"Mas, dulu di awal, Mas Dio itu jutek, dingin, arogan, kenapa sekarang berubah 180 derajat begini sih Mas??" tanya Dinda sambil menoleh ke arah Dio.


"Karena aku jatuh cinta, kau tau kan, cinta itu berjuta rasanya, dan saat aku jatuh cinta, baru aku menyadari kalau cinta itu begitu indah!" jawab Dio.


Dinda diam saja, tanpa menjawab ucapan Dio, laki-laki di sampingnya kini tengah mabuk cinta, jadi wajar saja kalau perkataannya berubah jadi melankolis.


Hingga mereka sampai di depan apartemen, Dinda langsung membuka pintunya.


Suasana di apartemen itu begitu sunyi dan sepi, lampu juga masih padam, padahal ini sudah malam.


"Ibu!" panggil Dinda.


Tidak ada sahutan dari dalam.


Dinda langsung memeriksa setiap sudut apartemen, namun Ibunya tidak di temukan di manapun, Dinda mulai cemas dan panik.


"Mas Dio! Ibu hilang Mas!" seru Dinda histeris.

__ADS_1


"Tenang sayang, barangkali Ibu sedang berjalan-jalan di sekitar apartemen karena bosan, kau coba telepon saja ke ponselnya!" usul dio sambil merangkul Dinda.


Dinda langsung menghubungi Bu Lilis, namun terdengar suara ponsel di sudut sofa, ponsel Bu Lilis.


"Mas, Ibu tidak bawa ponsel, bagaimana ini Mas?" tanya Dinda makin panik.


"Oke, jangan panik sayang, sekarang kita turun ke bawah, kita tanyakan pada security di bawah, dia pasti melihat Ibumu kalau memang ibumu sedang pergi!" jawab Dio.


Dinda menganggukan kepalanya, mereka kembali ke bawah dan langsung menuju ke pusat informasi di bawah.


"Pak, ini foto Ibu saya, apakah Bapak melihat dia keluar dari sini?" tanya Dinda pada security yang berjaga di situ.


Si security nampak berpikir saat mengamati foto Bu Lilis.


"Ibu ini kayaknya keluar sejak sore deh, tapi saya tidak tau kemana arahnya!" kata Security itu.


"Mas Dio, ayo kita cari Ibu Mas, aku khawatir, apalagi Ibu tidak bawa ponselnya, ini Jakarta Mas, Ibu tidak terlalu paham jalan di Jakarta!" ucap Dinda, air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


"Jangan menangis sayang, kita cari pelan-pelan ya, sudah, ada aku bersamamu, kau jangan cemas!" bisik Dio sambil menghapus air mata Dinda dengan kedua tangannya.


Dio kemudian menuntun Dinda kembali menuju ke basement, tempat mobilnya terparkir.


"Kita mau cari Ibu kemana Mas?" tanya Dinda.


"Lewat media sosial!" jawab Dio.


"Media sosial?"


"Kau tau Din, Kekuatan media sosial itu seperti apa, kita tinggal pasang foto Ibu, lalu kita share dan viralkan!" jelas Dio.


"Memangnya Mas Dio punya akun media sosial?" tanya Dinda.


Dio lalu mengeluarkan ponselnya sebelum dia mengemudikan mobilnya.


Kemudian dia membuka akun medsos nya dan menunjukannya pada Dinda.


"Mas, itu serius follower kamu 10 juta?? Kok tidak ada satupun yang kamu follow??" tanya Dinda.


"Karena sebenarnya aku tidak menyukai dunia medsos, hanya formalitas saja, tapi sekali aku posting, mereka akan dengan cepat merespon!" jawab Dio.


"Aku baru tau, kau cukup terkenal di dunia maya!"


"Tapi aku suka dunia nyata, sekarang aku akan posting foto Ibumu, tidak kurang dari 12 jam, aku jamin Ibumu akan di temukan!" ucap Dio.


"Terimakasih Mas!" Dinda reflek menggenggam tangan Dio.


"Kasih aku ciuman hangat, maka aku akan sangat bersemangat dan antusias!" ucap Dio.


Dinda lalu maju dan mengecup sekilas bibir Dio.


"Duh, betapa manisnya rasa bibirmu sayang, membuat aku menjadi candu, lagi dong!" kata Dio.


"Tidak Mas, lebih baik cari Ibu saja dulu, supaya aku menjadi tenang!" tukas Dinda.


"Hmm, Baiklah!"


Dio mulai memposting foto Bu Lilis, dan menyebarkannya, dalam waktu singkat, bermunculan respon dari seantero dunia maya.


Tidak sampai sepuluh menit, ponsel Dio berdering, Dio langsung mengusap layar ponselnya itu.

__ADS_1


"Halo!"


"Halo selamat malam, membaca postingan anda, kami ingin menginformasikan kalau Ibu Lilis saat ini berada di kantor polisi, daerah kembangan, mohon pihak keluarga untuk segera Menjemputnya!" kata suara di sebrang.


"Apa?? Kantor polisi??"


"Benar Pak, untuk keterangan lebih lanjut silahkan Bapak datang langsung!" jawab si penelepon itu.


"Baik, saya akan ke sana sekarang juga, pastikan Ibu mertua saya dalam keadaan baik!" ujar Dio.


"Siap Pak, trimakasih!"


Tak lama sambungan telepon pun terputus.


"Ibu di kantor polisi Mas? Kok bisa??" tanya Dinda bingung.


"Tenang sayang, sekarang kita akan kesana untuk menjemput ibu!" jawab Dio.


Kemudian Dio langsung mengemudikan mobilnya keluar dari apartemen itu dan langsung menuju ke kantor polisi yang di maksud.


Perjalanan ke kantor polisi membutuhkan waktu sekitar setengah jam, karena posisinya yang lumayan jauh.


Hingga Dio pun sampai di kantor polisi itu, dan dengan tidak sabar mereka langsung turun dari dalam mobil mereka.


"Ibu!!" seru Dinda saat melihat ibunya duduk sambil mengobrol dengan salah seorang anggota polisi.


Dinda langsung berlari sambil memeluk Ibunya.


"Ibu kenapa bisa sampai ke kantor polisi sih?? Memangnya Ibu mau kemana? Kenapa tidak menunggu aku??" tanya Dinda beruntun.


"Maaflan Ibu Nak, Ibu hanya ingin memastikan kalau alamat Ayah mu dulu masih ada, ternyata sudah berubah menjadi gedung tinggi!" jawab Bu Lilis.


"Rumah di Jakarta, kalau sudah bertahun-tahun memang pasti akan di gusur Bu, karena kan jaman semakin maju!" timpal Dio.


Setelah segala urusan dengan polisi beres, Dio kemudian membawa Dinda dan ibunya kembali pulang ke apartemen.


"Lain kali Ibu jangan bertindak gegabah, semua orang repot karena Ibu, bahkan Mas Dio sudah memposting gambar Ibu ke semua penjuru, ternyata Ibu malah di kantor polisi!" sungut Dinda.


"Sayang, jangan marah pada Ibumu, dia punya alasan kuat untuk melakukan itu, kalau bukan karena ponsel ketinggalan, pasti sudah beres!" tukas Dio.


Drrrt ... Drrrt ... Drrt


Ponsel Dio kembali bergetar, rupanya Pak Dirja yang meneleponnya.


Dio lalu segera menepikan mobilnya di pinggir jalan itu.


"Halo Om!"


"Dio, baru aja Om lihat postinganmu di media sosial, katakan pada Om, dari mana kau kenal dengan wanita yang kau posting itu??" tanya Pak Dirja.


Dio bingung dan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Pak Dirja itu.


Bersambung ...


*****


Halo gus...


Jangan lupa like, Komen dan votenya ya ... yuk dukung Author yuk ..

__ADS_1


__ADS_2