
Dinda masih berdiri mematung tanpa tau harus berbuat apa, jantungnya bertabuh berkali-kali lipat, saat melihat tatapan mata coklat Dio yang saat ini berhasil meruntuhkan segenap kekuatannya.
Tatapan mata Dio yang penuh gairah, seolah akan memakan Dinda hidup-hidup, persis seperti tatapan singa yang kelaparan.
Perlahan Dio maju dan mendekati Dinda, di tangkupkan wajah Dinda dengan kedua telapak tangannya.
Tatapan mata itu semakin dekat, tabuhan dalam jantung Dinda semakin tak beraturan, Dinda mulai menahan nafasnya, saat Dio perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda.
Dinda tidak berani menatap, dia hanya memejamkan matanya, pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan dirinya.
"Apakah kau sudah siap, memberikan apa yang menjadi hakku sayang?" bisik Dio.
Nafas hangatnya terasa di leher dan wajah Dinda. Seluruh bulu kuduk Dinda langsung berdiri seketika.
"Tapi ... Mas Dio kan belum mandi!" sahut Dinda, masih memejamkan matanya.
"Yah kau benar, itulah sebabnya aku memintamu untuk memandikan aku, menyabuni seluruh tubuhku, hingga bersih dan wangi, lalu setelah itu ..."
"Tapi aku malu Mas, nanti kalau aku melihat punyamu bagaimana? Aku belum siap!" sahut Dinda cepat.
Dio yang akan mengecup bibir Dinda spontan tertawa mendengar ucapan Dinda.
"Ya Tuhan Dinda, memangnya seumur hidup kau tidak pernah melihat punya laki-laki?" tanya Dio.
Dinda menggelengkqn kepalanya.
"Kalau begitu, aku akan memperkenalkan senjata milikku ini padamu, ayo ikut aku!"
Tanpa menunggu jawaban Dinda, Dio langsung menggendong Dinda masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku sudah mandi Mas! Masa aku mandi lagi!!" seru Dinda.
"Tidak masalah kau mandi berkali-kali dalam satu malam, pokoknya kau harus mengenal benda ini, yang akan selalu membuatmu ketagihan dan kecanduan, dan aku pastikan, ini akan membuatmu terbayang-bayang!" sahut Dio.
Setelah itu Dio langsung menanggalkan semua pakaiannya tanpa sisa, Dinda memalingkan wajahnya karena malu, tidak berani melihat Dio yang kini polos di hadapannya.
Dio kemudian masuk ke dalam bathtub dan mulai berendam di sana, dengan air keran yang mengalir dan kini mulai membenamkan tubuhnya.
"Mendekatlah sayang, tolong sabuni seluruh tubuhku, kau jangan khawatir, kau tidak akan melihatnya langsung!" ucap Dio.
Dengan sedikit ragu, Dinda maju dan mendekat ke arah Dio, kemudian dia mulai mengambil sabun cair dan menyabuni tubuh Dio.
Dio hanya menikmati nya sambil memejamkan matanya, hingga Dinda menghentikan aktivitasnya, saat dia menyentuh sesuatu yang di rasa aneh.
__ADS_1
"Mas ..."
"Ya ..."
"Ini ada sesuatu yang keras, apakah ini ..."
"Sudah, kau lanjutkan saja sayang!" ucap Dio sambil menggigit bibirnya menahan rasa.
Tiba-tiba Dinda menarik tangannya dari dalam air bathtub itu.
"Sudah Mas, kau bilas sendiri!" kata Dinda.
"Yah, tanggung nih!" protes Dio.
Dinda langsung keluar begitu saja, dia masih shock saat memegang sebuah benda besar yang sangat keras itu.
Dio lalu buru-buru membilas tubuhnya dan kemudian langsung menyambar handuknya, tanpa menunggu lagi, dia segera keluar dari kamar mandi tanpa berpakaian, hanya sehelai handuk yang di lilitkan di pinggangnya saja.
Dinda masih duduk di tepi ranjang, dengan tubuh sedikit gemetar.
Dio langsung memeluk Dinda dari belakang dan menerkamnya, persis seperti singa muda yang kelaparan.
Lalu Dio mulai mencumbui Dinda dengan lembut, membaringkan tubuh istrinya itu, dan membuka piyama yang masih melekat di tubuhnya.
Dinda menggelepar seperti ikan yang kehabisan air, saat Dio mulai menikmati dada Dinda yang menjulang dengan indahnya.
Dinda mulai merasakan sensasi yang selama ini belum pernah dia rasakan, akankah malam ini Dio akan berhasil menembus benteng pertahanan Dinda.
"Boleh ya, aku minta sekarang? Apakah kau memberikannya dengan ikhlas untukku?" bisik Dio dengan nafasnya yang mulai tersengal-sengal.
Dinda tidak menjawab ucapan Dio, dia hanya menganggukan kepalanya sebagai isyarat kalau Dio boleh mengambil mahkota yang selama ini di jaganya.
Pada saat Dio membuka kaki Dinda, ada darah yang menetes di sana.
"Sayang, aku belum memasukkan senjataku sama sekali, kenapa kau sudah berdarah?" tanya Dio.
Dinda segera duduk dan memeriksa organ vitalnya.
"Yah Mas, kayaknya aku lagi datang bulan deh, aku lupa Mas!" kata Dinda.
"Ya Tuhan, kenapa kau datang bulan pada saat hasratku sudah di ubun-ubun? Lalu bagaimana nasib Junior ini??" tanya Dio sedikit frustasi.
"Maaf Mas!" ucap Dinda menunduk.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, sekarang kau bersihkan tubuhmu, setelah itu kita tidur ya, aku harus menahan ini hingga beberapa hari ke depan!" sahut Dio.
Akhirnya malam itu, mereka tidur hanya berpelukan saja, tanpa melakukan apapun, Dio kembali dengan susah payah mengendalikan hasratnya yang hampir saja tertumpah itu.
*****
Sementara itu, Di sebuah klub malam, Keyla nampak sedang meneguk beberapa botol minuman keras, matanya mulai memerah.
Ken hanya duduk menungguinya saja, dia membiarkan Keyla menumpahkan segala perasaannya, mungkin dengan begitu dia bisa sedikit tenang.
"Pesankan aku minuman lagi Ken!" ujar Keyla dengan suara yang sudah mulai terdengar parau.
"Tidak Mbak, kau sudah menghabiskan berbotol-botol minuman, dan kau sudah sangat mabuk!" tolak Ken.
"Ayo Ken! Kau jangan membantahku, kau tau aku ini lebih tua darimu!" seru Keyla.
"Tau Mbak, sudahlah, ini sudah malam, kita pulang saja!" kata Ken yang mulai berdiri dari tempatnya.
"Kau mau kemana Ken?" tanya Keyla.
"Membawa Mbak keyla pulang, ayo Mbak!" Ken mulai memapah tubuh Keyla keluar dari klub itu.
"Aku masih mau di sini Ken, biarkan aku minum sebanyak yang aku mau malam ini!" teriak Keyla.
Ken tidak memperdulikan teriakan Keyla, dia terus saja membawa Keyla keluar dari klub malam itu, dengan suaranya yang hingar bingar itu.
Setelah itu, Ken langsung memapah tubuh Keyla yang sempoyongan ke arah mobilnya yang terparkir.
"Kita mau kemana Ken?" tanya Keyla. Aroma minuman keras mulai memenuhi dalam mobil Ken.
"Kita pulang Mbak!" sahut Ken.
"Jangan! Aku tidak mau pulang!" tukas Keyla.
Matanya mulai terpejam dengan suara racauan yang tidak jelas dari mulutnya.
Hingga akhirnya Keyla benar-benar tertidur dengan kondisi yang benar-benar mabuk berat.
Ken lalu segera mengendarai mobilnya, menembus jalanan yang masih menyisakan gerimis itu.
Dia terus melajukan mobilnya, hingga berhenti di sebuah hotel bintang lima.
Bersambung...
__ADS_1
*****