
Setelah melalui sedikit perdebatan dengan Dio, akhirnya Bu Lian mengizinkan Arjuna ikut ke sekolah Chika bersama dengan Dinda dan Dio, untuk mengambil raport Chika.
Chika terlihat begitu gembira, dalam benaknya dia sudah merancangkan sesuatu untuk memamerkan adik kesayangannya itu, pada semua teman-temannya Di Sekolah.
"Chika, kamu kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri? Ayo cerita sama Papa dan Mama!" tanya Dinda yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku Chika yang berbeda dari biasanya.
"Aku sudah tidak sabar deh, pengen ketemu teman-teman di sekolah, terus aku mau bilang kalau adikku sudah lahir, Dia sangat lucu dan tampan, juga menggemaskan! teman-temanku pasti iri padaku!" jawab Chika bersemangat.
"Oh begitu toh! Baiklah kalau begitu, nanti Chika boleh memperkenalkan adik Juna sama teman-teman Chika, dan adik Juna pasti sangat bangga, karena kakaknya sangat sayang sekali pada adiknya!" kata Dinda.
Chika tersenyum senang, apa yang dia pikirkan dan rencanakan selama ini berhasil, akhirnya Chika berhasil juga memamerkan adiknya itu pada semua teman-teman sekolahnya, pasalnya Chika sudah berseloroh pada semua teman-temannya, kalau akan dia punya adik.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sekolah Chika, setelah dia memarkirkan Mobilnya di parkiran yang sudah mulai dipenuhi oleh para orang tua murid, yang akan mengambil raport hari Ini, Mereka kemudian turun dan berjalan ke arah lobby sekolah.
Chika nampak antusias, Dia berjalan paling depan, seolah ingin menunjukkan ke semua orang, bahwa kedua orang tuanya lengkap beserta dengan adiknya, Chika menebarkan senyum kepada semua orang yang ditemuinya hari ini.
Setelah melewati lobby, mereka kemudian berjalan naik ke atas menuju ke kelas Chika.
Di depan kelas sudah ada bangku yang sengaja di susun untuk para orang tua murid yang mengantri mengambil raport.
Mereka masuk secara bergiliran bertemu dengan wali murid untuk mengambil raport dan sedikit berkonsultasi mengenai perkembangan anak didik di sekolah.
"Wah sekarang Chika sudah punya adik! Senang betul kelihatannya!" kata Mama putri, Mamanya teman Chika satu kelas, pada saat mereka sama-sama mengantri di depan kelas.
"Iya dong tante, sekarang aku punya Papa dan Mama lengkap dan punya adik juga, lihat deh adik aku lucu kan, ganteng lagi!" sahut Chika sambil menunjuk adiknya yang sedang dalam pangkuan Dio itu.
__ADS_1
"Wah Bu Dinda apa kabar nih, Sudah lama tidak melihat Bu Dinda! Bagaimana rasanya menjadi istri dan Ibu? Sepertinya Bu Dinda sudah lupa nih, kalau pernah jadi guru di sini!" Timpal Mama Edo, mamanya temannya Cika juga, yang sama-sama ikut mengantri di depan kelas itu.
"Kabar saya baik bu, saya hanya menikmati bagian saya saja menjadi istri dan seorang ibu, tetap saya menjadi seorang guru bagi anak-anak saya!" jawab Dinda.
"Padahal waktu Bu Dinda jadi wali kelas di sini, anak-anak kita pada berubah ya, sayang Bu Dinda tidak lama mengajar di sini! Seandainya saja Bu Dinda masih menjadi guru, pasti banyak murid murid nakal yang akan berubah seperti Chika dulu!" lanjut mamanya Putri.
"Betul Bu, padahal dulu Chika nakalnya ampun ampun deh, pernah didemo orang tua murid, bahkan hampir dikeluarkan dari sekolah! tapi cuma sama Bu Dinda Chika bisa berubah!" celetuk Mama Edo lagi.
"Bu Dinda bukan saja berhasil memikat hati Chika, bahkan Papanya Chika pun jadi terpikat sama ibu Dinda, gara-gara Bu Dinda berhasil menaklukan anaknya!" timpal salah satu orang tua murid yang duduk tidak jauh dari mereka.
Dinda hanya tersenyum menanggapi celotehan para ibu-ibu itu, dia menyadari posisinya kini sama dengan mereka, para orang tua murid, kini Dinda juga Berada di posisi sebagai orang tua murid.
Dulu Dinda Berada di posisi sebagai seorang guru yang menghadapi orang tua murid.
"Jessica Dacosta!"
Dinda dan Dio kemudian berdiri bersama dengan Chika kemudian mereka masuk ke dalam kelas itu.
Seorang wali kelas, yang bernama nama ibu Indah, duduk di bangku sambil tersenyum melihat kedatangan kedua orangtua Chika yang lengkap itu, bersama dengan adik kecilnya.
Mereka kemudian duduk berhadapan untuk saling berkonsultasi mengenai perkembangan belajar Chika di sekolah.
"Selamat pagi ibu Dinda, Pak Dio, Wah lengkap sekali keluarga Chika datang, dulu Bu Dinda pernah mengajar di sekolah ini, Seharusnya saya banyak belajar dari Bu Dinda!" kata Bu Indah.
Bu Indah adalah guru baru di sekolah itu, dia baru mengajar selama satu semester menjadi wali kelas Chika.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan belajar Chika di sekolah Bu? Apakah dia punya kendala atau masalah khusus di sekolah?" tanya Dio to the point.
"Oh tidak Pak Dio! Justru selama setahun belakangan ini, Perkembangan Chika maju pesat, saya dapat laporan dari wali kelas sebelumnya, bahkan semester ini Chika meraih peringkat 1, ini adalah satu prestasi yang luar biasa, pada dasarnya Chika itu anak pintar dan sangat cepat menangkap pelajaran!" jawab Bu Indah.
"Apa Bu Indah? Chika juara satu? Benarkah?" tanya Dinda nyaris tak percaya.
"Ya benar dong Bu, masa saya bohong sih! Nih raportnya Chika, semua nilainya di atas rata-rata, bahkan ada beberapa mata pelajaran yang nilainya nyaris sempurna!" jawab Bu Indah sambil membuka raport Chika dan menunjukkan nilai-nilai yang tertera di dalam raport itu.
Dinda dan Dio terkesiap melihat nilai-nilai yang tertera di dalam raport Chika, dulu Chika nilainya tidak terlalu fantastis, bisa mengikuti pelajaran saja dan lulus, itu sudah bagus, tapi kini semua nilai Chika berubah drastis.
Bahkan Chika meraih juara satu di kelasnya, ada rasa haru yang menghampiri hati Dio, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah mereka selesai berkonsultasi, Diio dan Chika juga Dinda kemudian keluar dari kelas itu, dengan bangganya Chika mengatakan pada semua orang kalau dirinya juara satu.
Semua orang yang ada di situ menyalami Chika, wajah Chika terlihat sangat berbinar dan gembira.
Hingga pada saat mereka kembali berjalan menuju ke arah parkiran, tak henti-hentinya senyum Chika merekah di wajahnya yang saat itu terlihat kemerahan.
"Karena Chika sudah menjadi juara satu, dan sudah membanggakan papa dan mama juga adik Juna, papa akan memberikan Chika hadiah!" Kata Dio.
"Yeaaay! Hadiah apa Pa?" hanya chika antusias.
"Sekarang, apa yang kita inginkan papa akan memberikannya sebagai hadiah, Katakan saja apa keinginan Chika, dan itu adalah hadiah untuk Chika! " jawab Dio.
Chika mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di keningnya, seperti orang yang sedang berpikir, berpikir apa yang dia inginkan selama ini dan akan diwujudkan oleh Papanya sebagai hadiah.
__ADS_1
Bersambung....
****