Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Sebuah Jebakan


__ADS_3

Ken membimbing Keyla untuk duduk dan bersandar di sofa yang ada di ruangan itu, sambil mengusap keringat dingin yang terus membasahi tubuh Keyla.


Ken juga kemudian mengelus-elus punggung Keyla untuk menenangkan wanita itu, Ken sepertinya tahu Keyla baru mendengar satu kabar yang sangat mengejutkan, entah itu apa, namun Ken tidak ingin terburu-buru untuk menanyakannya.


"Bi Titi, Tolong ambilkan air putih untuk Mbak Keyla!" seru Ken.


Tak lama Bi Titi sudah datang dengan membawa satu gelas air putih.


Ken lalu membantu Keyla untuk meneguk air putihnya itu.


"Sekarang ceritakan padaku, Sebenarnya apa yang terjadi padamu Mbak, Kau kenapa bisa sampai seperti ini, Ayo Ceritakanlah padaku, Bukankah aku ini suamimu? Aku yang bertanggung jawab atas hidupmu Mbak!" ucap Ken dengan lembut.


"Ken, aku tadi baru saja menerima telepon, ada orang yang tidak dikenal menelpon aku, dan dia mengajakku kerjasama untuk menghancurkan Dio!" kata Keyla perlahan.


"Apa? menghancurkan Dio? Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia sangat ingin sekali menghancurkan Dio? Setahuku orang itu tidak pernah punya musuh!" sahut Ken.


"Aku tidak tahu Ken, Dan dia mengira kalau aku punya dendam dan sangat benci terhadap Dio! Sepertinya dia sudah lama mengenal aku dan Dio, dan dia juga tahu kalau aku memang pernah membenci Dio karena sudah menolak aku!" ujar Keyla.


"Apa ini ada kaitannya dengan hilangnya Chika??" tanya Ken.


"Aku juga punya perasaan begitu Ken, aku merasa kalau ini ada kaitannya dengan hilangnya Chika, ada orang yang ingin menghancurkan keluarga Dio!" jawab Keyla.


"Mbak, kau harus hati-hati, jangan mau dilibatkan dengan masalah seperti ini, lebih baik cari aman saja!" kata Ken.


"Ken, aku tau, selama ini aku sangat tidak suka Dio dan Dinda bersatu, tapi bukan berarti aku mau mereka hancur!" ujar Keyla.


"Lalu Mbak Keyla mau apa??"


"Aku mau berpura-pura bekerjasama dengan orang itu, ya, hanya berpura-pura!" kata Keyla.


"Tidak Mbak, itu sangat berbahaya, aku tidak mau kamu jadi korban, ingat, kamu sedang mengandung anakku!" sergah Ken.


"Tapi Ken, siapa tau dengan begitu kita bisa mengungkap siapa dalam di balik hilangnya Chika?" sahut Keyla.


"Mbak Keyla? Sejak kapan kamu jadi perduli dengan orang lain?? Biasanya kau hanya memikirkan dirimu sendiri?!" tanya Ken bingung.


Keyla terdiam, dia mengakui selama ini dirinya bukanlah sosok yang baik di mata orang lain.


Seringkali orang lain hanya melihatnya sebagai Keyla yang egois dan mau menang sendiri, dia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang baik, namun belum terlambat untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.


"Sejak aku mau belajar menerimamu sebagai suamiku Ken, sejak aku mau belajar menerima Takdirku dan belajar bersyukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan padaku!" ucap Keyla.


"Wuiih, keren sangat istriku! Sejak kapan menjadi bijak begini?? Ini patut dirayakan!" seru Ken senang.


"Sudah jangan lebay! Lebih baik kau bantu aku untuk rencana selanjutnya!" sergah Keyla.


"Rencana selanjutnya??"


"Ya, rencana membuat jebakan pada orang yang tak di kenal tadi, aku akan membalas pesan singkatnya dan janjian untuk bertemu dengannya, sesuai dengan apa yang di katakannya tadi!" jelas Keyla.


"Tapi Mbak ..."


"Sudah Ken, pokoknya kau ikuti saja permainanku, kamu boleh menjagaku di belakang, tapi ingat, jangan sampai ketahuan, dan satu lagi, jangan bilang siapapun tentang rencanakan ini!" kata Keyla.


"Pokoknya aku akan ikutin Mbak keyla, aku tidak rela ada yang menyakiti Mbak key, aku ... aku sayang banget sama Mbak keyla!" ucap Ken.

__ADS_1


Keyla tersenyum lalu menarik dagu Ken dengan tangannya. Kemudian dia mengecup lembut bibir Ken dengan bibirnya.


"Trimakasih sudah sayang padaku!" balas Keyla.


Tiiiit .... Tiiit


Terdengar suara notifikasi dari pesan singkat di ponsel Keyla.


Ada pesan singkat dari orang tak di kenal itu, salah satunya adalah share lokasi di mana mereka berada.


"Bodoh! Mereka pikir aku akan ikut permainan mereka, mereka belum tau saja, aku bukan Keyla yang dulu lagi!" gumam Keyla dengan senyum sinisnya.


Ken berdecak kagum sambil menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Keyla benar-benar sudah berubah, Keyla yang dulu dikenalnya sebagai wanita yang egois dan mau menang sendiri, juga keras kepala kini justru ingin memberantas kejahatan, demi membela keluarga Dio dan Dinda, Ken benar-benar kagum dan terkesiap melihat perubahan sikap istrinya itu.


"Ken, ayo bersiap lah, kita berangkat sekarang!" seru Keyla tiba-tiba.


"Oke Mbak, jangan lupa, bawa ponsel yang selalu terhubung dengan nomorku, supaya aku bisa terus memantau Mbak Keyla!" sahut Ken.


Keyla dan Ken akhirnya bersiap-siap menuju ke lokasi yang sudah dibagikan oleh orang tak dikenal itu.


Sebelum mereka pergi, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya, atau kemungkinan kemungkinan buruk yang akan terjadi terhadap mereka.


Ken juga sudah pasang kuda-kuda dan dia sudah menyiapkan nomor telepon polisi jikalau ada sesuatu yang terjadi diluar kendalinya.


Setelah mereka bersiap-siap, Keyla kemudian menyetir mobilnya, seolah-olah ken tidak ikut, sementara Ken yang duduk di belakang kemudi sambil berjaga-jaga.


****


Sementara itu di tempat kediamannya, Dinda nampak gelisah dan cemas.


Melihat putrinya gelisah, Bu Lilis juga merasa cemas, selain mencemaskan Chika yang tak kunjung pulang, Bu Lilis juga mencemaskan kesehatan Dinda, karena sejak kejadian itu Dinda Jadi tidak teratur makannya, dan dia nyaris tidak memperhatikan dirinya sendiri.


Bu Lilis mengelus dada melihat kekawatiran putrinya itu, dia sadar bahwa Chika sudah dianggap Dinda sebagai anak kandungnya sendiri, Bahkan dia menyayangi Chika lebih daripada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil Dio yang memasuki gerbang dan berhenti di depan garasi rumahnya itu.


Tanpa menunggu lama, Dinda segera berjalan cepat ke arah depan rumahnya itu, menyambut kedatangan suami dan ayahnya.


"Mas Dio, bagaimana? Apakah sudah ada kabar mengenai Chika? Tapi kenapa kalian hanya datang berdua saja? Dimana Chika berada?" tanya Dinda beruntun.


"Sudahlah sayang, kau tidak usah khawatir, aku sudah membuat laporan kepada pihak kepolisian mengenai Chika, sehingga mereka juga berjaga-jaga mengawasi setiap daerah, dan aku juga sudah menyebarkan foto Chika di seluruh media sosial yang aku punya, kau tenang saja, dulu saja ibumu pernah ditemukan hanya karena media sosial, masakan Chika tidak?" jawab dia Mencoba berusaha untuk menenangkan Dinda.


"Tapi Mas, ini sudah sangat malam aku khawatir sekali dengan Chika Bagaimana makannya? Bagaimana dia istirahat? Aku benar-benar khawatir Mas!" ungkap Dinda sambil menangis dalam pelukan Dio.


"Tenangkan dirimu sayang, Percayalah semuanya akan baik-baik saja! Aku banyak mempunyai relasi, dan mereka semua juga sedang berusaha untuk membantu agar Chika bisa segera ditemukan!" ucap Dio sambil mengelus lembut punggung Dinda.


"Kalau begitu Ayah pulang saja dulu ke rumah Ya, sepertinya ayah lupa minum obat untuk hari ini!" kata Pak Dirja tiba-tiba.


tiba-tiba dari arah gerbang, Bang Jarwo nampak membuka pintu gerbang dan masuklah seorang wanita yang adalah Bi Titi dengan menggunakan ojek, Bi Titi dengan cepat langsung menghampiri Pak Dirja yang masih berdiri di depan teras rumah Dio.


"Pak Dirja, saya disuruh Mbak Keyla Untuk mengantarkan obat ini, katanya tidak apa-apa Kalau Pak Dirja mau menginap di sini, asalkan Bapak jangan lupa minum obat!" kata Bi Titi sambil menyodorkan bungkusan obat-obatan milik Pak Dirja.


Setelah memberikan Pak Dirja obat-obatan, Bi Titi kembali menaiki ojeknya dan kembali pulang ke rumah.


Pak Dirja menarik nafas lega, setidaknya Bi Titi sudah mengantarkan obat-obatan untuk nya dan dia bisa menginap malam ini di rumah Dio.

__ADS_1


Malam semakin larut, suasananya menjadi Hening dan mencekam, ditambah hujan yang mulai Turun Perlahan membasahi bumi.


Semua orang sudah masuk kamar masing-masing, tidak tau apa mereka bisa tidur atau tidak termasuk Dinda dan Dio.


Mereka juga sudah berada di kamar mereka, namun pada malam ini, mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing, ada rasa cemas dan khawatir memikirkan Chika yang kini entah berada dimana.


Dinda yang gelisah, kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan kearah balkon, melihat turunnya hujan yang kini mulai semakin besar.


Tiba-tiba mata Dinda menangkap tembok ujung yang ditutupi oleh daun-daun hijau tanaman merambat, yang Dinda temukan adalah sebuah pintu yang tak terlihat oleh mata.


Dari kejauhan Dinda seperti melihat ada orang yang sedang membuka pintu itu, tapi karena lebatnya hujan, Dinda tidak dapat mengenal seseorang itu, tapi tiba-tiba dadanya bergemuruh dengan cepat.


Dinda mulai berpikir, apakah ada orang yang berniat jahat terhadap keluarga ini, kalau itu benar, lalu apa motifnya? Dinda terus mengamati pintu rahasia itu dari balkon kamarnya, berusaha membuka matanya lebar-lebar untuk melihat lebih jelas lagi, ada sosok yang mengenakan jas hujan dengan memakai penutup kepala, karena sosok itu tidak bisa dikenali oleh Dinda, Siapakah dia.


"sayang, tutuplah pintu balkonnya, angin malam tidak baik untuk kesehatan mu! Masuklah kedalam dan berbaringlah supaya tubuhmu hangat!" Panggil Dio.


Dinda menoleh kearah suaminya itu, lalu berjalan mendekatinya dan mulai berbaring disebelahnya.


"Mas, ada yang aku mau tanyakan padamu, Apakah kamu tahu mengenai sebuah pintu yang ada di ujung tembok belakang dekat taman rumah ini?" tanya Dinda.


Dio nampak terkejut mendengar pertanyaan Dinda, dia langsung bangkit dan duduk lalu menatap wajah Dinda dengan amat dalam.


"Apa kau bilang? pintu? pintu yang mana? Kenapa kau baru katakan itu sekarang!" tanya Dio beruntun.


"Pada waktu aku jalan-jalan mengelilingi taman dan kolam renang, secara tidak sengaja aku melihat ada yang aneh di tembok paling ujung dekat taman itu, rumputnya berbeda dengan rumput yang menempel di tembok, itu tanaman palsu dan ternyata dibalik tanaman itu ada seperti pintu yang tidak kelihatan kalau tidak didekati atau disentuh!" jawab Dinda.


Dio tertegun beberapa saat lamanya, keningnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu, Dio sama sekali tidak menyangka, sejak dulu dia tinggal di rumah ini, dia tidak pernah tahu kalau ada pintu lain selain pintu gerbang utama yang setiap hari dijaga oleh Bang Jarwo.


"Sayang, Apakah kamu serius dengan perkataanmu itu? Benarkah ada pintu rahasia yang tersembunyi dan tidak terlihat dengan mata telanjang? Kalau begitu aku akan melihat pintu itu sekarang!" Kata Dio yang kemudian langsung berdiri dari tempat tidurnya itu.


"Jangan Mas! Di luar hujan begitu lebat, dan tadi aku barusan melihat seperti ada orang yang baru masuk dari pintu itu ke rumah, tapi aku tidak tahu siapa dia, karena dia memakai jas hujan dan wajahnya juga tertutup, Aku benar-benar tidak tahu! Bahkan dia laki-laki atau perempuan pun aku tidak tahu!" sergah Dinda yang merasa takut jika Dio meninggalkannya sendirian di kamarnya.


"Dinda, kau istirahat saja di kamar, biarkan aku turun ke bawah untuk mencari tahu, Sebenarnya ada apa di dalam rumahku sendiri! please Dinda, kau tidak usah takut dengan apapun, kamar ini aman untukmu! Kau tinggal tutup pintu balkon, juga gordennya, setelah itu kau tidurlah, kenakan selimut dan Pejamkan matamu!" ucap Dio.


"Baiklah Mas, tapi berjanjilah kau tidak akan lama pergi ke bawah, aku akan menunggumu disini! dan hati-hati, Jangan bertindak gegabah, karena musuh kita ini tidak kelihatan, dan kita tidak bisa menebak apapun!" sahut Dinda sambil menangkupkan wajah Dio dengan Kedua telapak tangannya.


Dio mengangukan kepalanya, setelah itu dia berjalan perlahan keluar dari kamarnya dan mulai menuruni tangga.


Seperti biasa pada malam-malam sebelumnya, rumah itu kelihatan sepi dan lengang tidak ada tanda-tanda orang yang masih berkeliaran, mereka semua sudah masuk kedalam kamarnya masing-masing.


Pak Dirja tidur di salah satu kamar tamu yang kosong, dan arah kamar Mbak Yuyun juga terlihat sepi dan gelap, yang menandakan kalau penghuni kamar itu sudah tertidur nyenyak.


Dio kemudian mengambil payung dan senter, dia berniat akan berjalan menuju ke ujung tembok yang dikatakan Dinda ada sebuah Pintu Rahasia yang tersembunyi.


Dia sangat penasaran, sebenarnya apa yang ada di balik pintu itu, setahu Dio, tidak ada pintu dimanapun, karena Dio sudah merancang itu, tembok rumahnya yang tinggi itu, sementara di balik tembok itu, sepertinya menembus satu jalan protokol yang sangat besar, dan semuanya itu, tembok rumah dio di desain dengan sangat rapat dan tinggi, hingga tidak ada satu orang pun yang berhasil atau bisa melaluinya karena memang itu sangat tinggi sekali tingginya kira-kira 10 meter.


Dio terus berjalan perlahan melintasi derasnya hujan, taman itu lumayan gelap, hanya ada satu penerangan dari arah lampu tanaman di dekat kolam renang, jadi Dio mulai menyalakan senternya supaya dia tidak jalan kesandung.


Pada saat Dio sudah sampai di tembok ujung, dia menghentikan langkahnya, mengamati apa yang dikatakan Dinda, karena bisa jadi semuanya itu hanyalah halusinasi, karena selama ini Dinda tidak pernah cerita apapun selain malam ini, yang mengenai sebuah Pintu Rahasia.


Bersambung...


*****


Sekedar info, cerita ini akan tamat di bulan depan ya guys ...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya selalu, terimakasih ...


__ADS_2