
Pada saat semua orang menoleh ke arah taman samping, tidak ada seorang pun yang melihat adanya manusia atau apa, mereka kembali menoleh ke arah Chika.
"Nak, cepat habiskan makananmu, Setelah itu Papa akan antar ke kamarmu!" kata Dio yang merasa khawatir atas apa yang di alami Chika.
"Tapi tadi aku beneran melihat Mama Pa! Tadi Mama Jalan lewat samping situ, tapi dia langsung menghilang lagi ke arah belakang!" kata Chika sambil menunjuk ke arah ke taman samping.
"Tapi kita semua tidak ada yang melihatnya sayang!" sahut Dinda.
"Iya Chika, mungkin saja Chika capek, istirahat ya, nanti Nenek buatkan susu hangat untuk Chika!" timpal Bu Lilis.
"Tapi ..."
"Sudah Chika, habiskan makananmu!" potong Dio cepat.
Dengan wajah sedih Chika kemudian kembali melanjutkan makannya. suasana di ruang makan itu jadi sedikit tegang karena kejadian yang baru saja tadi terjadi.
Padahal hari ini adalah hari yang paling membahagiakan, Namun karena satu hal yang dilihat Chika, yang mereka semua menjadi bingung, suasana berubah jadi sedikit kaku dan sendu.
Setelah jamuan makan malam selesai, Keyla dan Ken segera pamit pulang kerumah, mengingat hari sudah malam.
Sementara Bu Lilis masih membuatkan makanan ringan dan susu hangat untuk Chika. Chika kini berada di kamarnya ditemani oleh Dio dan Dinda.
"Chika, Mama dan Papa akan menemani Chika di sini sampai Chika tidur ya, jadi Chika jangan khawatir lagi, dan jangan suka melihat-lihat ke jendela luar, mungkin Chika lelah, biasanya kalau orang lelah suka melihat yang aneh-aneh!" ucap Dinda.
"Tapi Ma, Aku beneran lho lihat mama Ranti, Aku tidak bohong!" sahut Chika.
"Sudah lah Chika, kamu Jangan membantah lagi, lebih baik sekarang Chika berbaring dan mulai memejamkan mata, Papa dan Mama akan menemani disini sampai Chika benar-benar tidur!" tukas Dio.
Chika akhirnya menuruti Papanya, dia mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya itu sementara Dinda dan Dio berada di sisi kanan dan kirinya.
Tak lama kemudian, Bu Lilis masuk membawakan segelas susu hangat dan makanan ringan untuk Chika.
__ADS_1
"Sebelum tidur minum ini dulu supaya pikiran jadi tenang, dan makanlah, ini kue buatan Nenek lho namanya kue karamel!" kata Bu Lilis sambil meletakkan nampan yang di bawahnya itu di atas meja.
Dengan antusias Chika langsung meminum dan memakan makanan yang diberikan oleh Bu Lilis.
Bu Lilis benar, melalui susu hangat dan sedikit cemilan, membuat Chika senang dan melupakan apa yang baru saja terjadi dengan dirinya.
Tak lama kemudian, setelah Chika menghabiskan segelas susu nya, dan kue yang diberikan oleh Bu Lilis, Chika terlihat mengantuk.
Kemudian Chika mulai kembali membaringkan tubuhnya, dan memejamkan matanya.
Dinda dan Dio masih berada di kamar Chika, sampai anak itu benar-benar pulas tertidur.
Setelah Chika pulas tertidur, Dinda dan Dio kemudian keluar dari kamar Chika.
Bu Lilis dan Pak Dirja nampak masih duduk di ruang tamu rumah mereka, belum pulang ke rumah karena masih menunggu Dinda dan Dio.
"Ayah, Ibu, sebaiknya kalian menginap saja di sini, toh di rumah Ini kan masih banyak kamar kosong!" tawar Dio. Pak Dirja kemudian menoleh kearah Bu Lilis.
"Terserah Mas Dirja saja, tapi bagaimana dengan Keyla dan Ken? Apakah mereka tidak akan mencari kita?" kata Bu Lilis.
"Kalau untuk urusan itu, kau jangan khawatir, nanti aku yang akan menelepon Mereka, lagi pula kan disana ada Bi Titi, disini begitu banyak masalah, kita harus mendampingi Dinda dan Dio, juga Chika cucu kita!" ucap Pak Dirja.
"Baiklah kalau begitu, malam ini biar Kita menginap di sini saja!"Jawab Bu Lilis.
"Pokoknya kalau ayah dan ibu butuh apapun, kalian jangan sungkan bilang pada ada Mbak Yuyun juga suster Anna!" Kata Dio.
"Sudah kalian tenang saja! Kami sudah senang kok bersama-sama, lebih baik kalian beristirahat aja di kamar, Apalagi kan Dinda baru hamil muda, harus benar-benar dijaga dan diperhatikan, jangan terlalu lelah!" jawab Bu Lilis.
Dinda dan dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian mereka segera beranjak dari ruangan itu menuju ke atas ke kamar mereka, untuk beristirahat malam.
"Mas Dio, aku kok jadi kepikiran ya, dengan apa yang diucapkan Chika, dia sepertinya begitu yakin kalau dia benar-benar melihat Mamanya itu!" kata Dinda tiba-tiba.
__ADS_1
Dio kemudian membimbing Dinda membaringkan tubuhnya dan menyelimuti wanita itu, kemudian dia menyusul berbaring disampingnya.
"Sudahlah sayang, Chika itu hanya berhalusinasi, Mungkin dia memang benar kangen dengan mamanya, dan aku memang belum sempat mengantarkannya ke makam mamanya, sudahlah, kau jangan terlalu banyak pikiran, ingat ada calon Bayiku di dalam sini!" ucap Dio sambil mengelus-elus perut Dinda.
Ada rasa hangat dan nyaman yang Dinda rasakan, saat jemari tangan Dio mengelus perutnya dengan begitu lembut dan penuh perasaan.
*****
Sementara itu Pak Dirja dan Bu Lilis, yang memang mereka masih belum mengantuk, kemudian mereka berjalan ke arah taman dekat kolam renang di pekarangan rumah Dio yang luas itu.
Sambil menikmati bertabur nya bintang di langit dan hembusan semilir angin malam yang bertiup menerpa tubuh mereka.
Mereka duduk di bangku taman itu, sambil saling berangkulan menatap indahnya bulan yang saat itu memang sedang Purnama.
"Lilis, rasanya aku seperti mimpi, bisa menyentuh dan memelukmu seperti ini, ini adalah saat-saat yang paling aku nantikan bertahun-tahun lamanya!" ucap pak Dirja.
"Iya Mas, aku juga tidak pernah menyangka sebelumnya, kalau Dinda akan benar-benar memiliki Ayah yang seutuhnya, dulu aku pikir Dinda akan selalu menjadi anak haram!" jawab Bu Lilis.
"Jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi sayang, itu akan membuat aku kembali merasa bersalah! Saat ini kita sudah bahagia, anak-anak kita juga bahagia dengan pasangan mereka, nikmat mana lagi yang kau dustakan?" bisik pak Dirja sambil mengecup lembut kening Bu Lilis.
"Ah, Mas Dirja bisa saja membuat aku merinding, sudah lah Mas, malu sudah tua!" sahut Bu Lilis tersipu.
"Umur boleh tua sayang, tapi jiwa kita akan selalu muda selamanya!" kata Pak Dirja.
Tiba-tiba Bu Lilis membulatkan matanya, saat dia melihat sesuatu yang bergerak di taman belakang ke arah ke dapur.
"Mas, apa itu Mas??" pekik Bu Lilis sambil menunjuk ke arah taman belakang itu.
Bersambung ....
****
__ADS_1