
Malam itu di sebuah kamar yang ada ada di rumah besar itu, Dio berusaha untuk kembali membuka ponselnya, untuk menelepon Dinda.
Namun sinyal di daerah itu sangat sulit sekali, dan kalaupun ada tiba-tiba akan hilang, akhirnya Dio hanya bisa mengirimkan pesan singkat saja untuk Dinda.
Setelah mengirimkan pesan kepada Dinda, Dio lalu membaringkan tubuhnya bersama dengan Chika yang sejak tadi sudah tertidur.
Dio memikirkan cara, bagaimana dia bisa secepatnya pergi dari rumah ini, rumah yang selama ini tidak pernah dia kunjungi sebelumnya.
Tiba-tiba Dio membuka di salah satu aplikasi di ponselnya, aplikasi penyewaan mobil yang dia sewa itu, kemudian dia menjelajah beranda, dan ternyata memang ada garansi untuk mobil yang rusak atau bermasalah.
Setelah Dio mengirimkan pesan singkat pada Dinda, Dia kemudian mulai menuliskan pesan singkat, pada pusat penyewaan mobil yang ada di Papua tempat di mana dia menyewa mobil itu.
Di dalam pesan singkat itu, Dio mengirimkan pesan singkat bahwa mobil dalam keadaan ban rusak dan segera dikirimkan penggantinya.
Dio tersenyum senang, setidaknya dia ada cara untuk segera pergi dari tempat itu, entah kenapa berada di rumah ini lama-lama membuat dia semakin merasakan hal yang negatif.
Sementara itu Dinda yang sejak Sore sudah menunggu dengan gelisah kepulangan suami dan anaknya sambungnya itu, tiba-tiba mendapatkan sebuah notifikasi pesan singkat dari Dio.
Dinda menarik nafas panjang, setidaknya Dio dan Chika dalam keadaan baik-baik saja, dalam pesan singkat tersebut, Dio mengatakan bahwa mobil yang mereka tumpangi dalam keadaan rusak, dan dia berusaha untuk minta mobil pengganti dari penyewaan mobil di mana dia telah menyewa mobil itu.
Dinda kemudian kembali membaringkan tubuhnya itu di atas tempat tidur di dalam kamar hotel itu, dia mulai kembali berselancar mencari-cari bacaan ringan seputar kehamilan dan rumah tangga.
Tiba-tiba ponsel Dinda berbunyi, Dinda mengambil ponselnya itu dan melihat ke layar ponselnya itu, Bu Lilis ibunya yang meneleponnya. Dinda kemudian langsung mengusap layar ponselnya itu.
"Halo ibu, ibu apa kabar, tumben meneleponku!" tanya Dinda.
"Kabar Ibu dan Ayah sehat, bagaimana keadaanmu? kalian jadi pulang ke Jakarta hari apa?" tanya Bu Lilis balik.
"Entah lah Bu, sekarang aku masih ada di kamar hotel, sementara Mas Dio dan Chika sejak pagi-pagi tadi pergi mengunjungi rumah mantan mertua juga saudara-saudaranya, dan sampai sekarang Mereka belum kembali, katanya mobilnya rusak!" jawab Dinda.
__ADS_1
"Ya sudah, kau tunggu saja, harap maklum mungkin jarak yang mereka tempuh itu sangat jauh, jadi tidak bisa diharapkan sampai dengan cepat juga!" ucap Bu Lilis.
"Iya Bu lagipula Mas Dio juga sudah mengirimkan pesan singkat, dia sedang berusaha untuk menghubungi tempat penyewaan mobil itu, supaya bisa ditukar dengan mobilnya yang rusak!" kata Dinda.
"Ya sudah deh kalau begitu, kamu istirahat ya Din, jaga kandunganmu baik-baik, jangan terlalu stres, dan bawa santai saja, Percayalah kalau semuanya akan baik-baik saja!" ucap Bu Lilis sebelum menutup panggilan teleponnya.
****
Ceklek!
Ken yang baru pulang dari kantor nya membuka pintu kamarnya itu. Keyla nampak duduk di sisi tempat tidurnya dengan wajah cemberut, Ken mengerutkan keningnya sambil menatap heran pada istrinya itu.
"Kamu kenapa Mbak key? Suami pulang bukannya disambut, buatkan minuman hangat kek, siapkan air mandi kek, atau minimal disambut dengan senyuman! Tapi ini malah muka masam yang ditunjukkan!" tanya Ken.
"Muka masam lebih baik, daripada aku suruh kamu tidur di luar Ken!" cetus Keyla.
"Hei, Ada apa denganmu sih mbak? kau selalu membuat aku bingung! aku sudah capek kerja diluar, sudah bernego dengan banyak orang, otakku berpikir keras Bagaimana cara membangun dan mengembangkan usahaku! Sekarang pulang kerumah malah disambut seperti ini dengan istri!" sungut Ken yang langsung menaruh tasnya di atas meja, dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur begitu saja tanpa berganti pakaian.
Ken sedikit terkejut dan membulatkan matanya mendengar pernyataan Keyla itu.
"Kamu ini bicara apa Mbak key? Enak saja kamu menuduhku bermain dengan wanita, Bahkan aku sudah lupa kalau aku pernah mengenal wanita lain dalam hidupku selain kamu!" sahut Ken.
"Dasar buaya! Aku benci kamu Ken! Kau ini sama saja dari dulu! Mata keranjang!" seru Keyla sambil menangis tiba-tiba.
Ken terperangah melihat sikap istrinya, yang tiba-tiba berubah itu, dari awal Keyla sudah cemberut dan begitu Ketus terhadapnya, sekarang tiba-tiba dia menangis sambil menuduhnya mata keranjang.
Ken kemudian perlahan mulai mendekati Keyla, kemudian mengusap lembut punggung wanita itu, yang sedikit terguncang karena menangis, sambil menutup kepalanya dengan bantal.
"Mbak Keyla, jangan bilang kalau ini bawaan bayi yang ada dalam kandunganmu itu!" ucap Ken.
__ADS_1
Keyla kemudian membuka bantal yang menutupi kepalanya, dan dengan wajah yang basah dia menatap wajah suaminya itu.
"Ken, tadi siang kamu makan siang di cafe bersama dengan seorang wanita kan? sekarang Katakan padaku siapa wanita itu?!" tanya Keyla.
ken nampak berpikir sejenak, setelah itu tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
Keyla makin keki dan heran, kenapa tiba-tiba Ken tertawa seperti itu wajahnya terlihat kesal.
"Kenapa kamu malah tertawa?? Memangnya ada yang lucu??" tanya Keyla kesal.
"Mbak Keyla tau dari mana kalau aku makan siang di cafe dengan seorang wanita??" tanya Ken.
"Tadi siang aku dan Bu Lilis belanja ke minimarket untuk keperluan pribadi dan membeli stok susu hamil, setelah itu kami makan di cafe di depan minimarket itu, dan aku melihatmu bersama dengan seorang wanita makan di cafe itu!" jawab Keyla.
"Ya ampun Mbak, kenapa tidak menghampiri aku, biar aku kenalin sekalian dan Mbak Keyla tau siapa dia!" kata Ken.
"Huh, berani sekali kamu kenalin aku sama dia!" sungut Keyla.
"Ya berani lah, kan Mbak Keyla istri aku, dan akan jadi calon ibu untuk anakku, wanita itu adalah rekan bisnis aku, aku sedang membangun proyek besar, lagi pula dia sudah bersuami kok, suaminya itu malah investor di perusahaanku!" jelas Ken.
"Masa sih??"
"Iya lah, kamu pasti langsung pulang kan saat melihat kami berdua, padahal kalau kamu tunggu sebentar lagi, suaminya dan rekan bisnisku yang lain menyusul kami makan siang bersama lho!" kata Ken.
Keyla terdiam, wajahnya menunduk menahan malu, karena dia sudah menuduh tanpa bukti, hanya melihat sekilas saja dia sudah berpikiran negatif Kalau Ken berselingkuh di belakangnya.
Tiba-tiba Ken memeluk Keyla dengan sangat erat, sambil menciumi seluruh wajah dan rambut Keyla, juga mengelus lembut perut Keyla yang kelihatan semakin membesar itu.
"Aku senang, akhirnya kau punya rasa cemburu juga padaku!" bisik Ken.
__ADS_1
Bersambung ...