
Pagi-pagi Dio terbangun saat mendengar suara berisik di kamarnya, rupanya Dinda sudah bangun, mandi dan kini berpakaian rapi.
Dio tertegun dan langsung bangkit dari tidurnya sambil mengucek matanya.
"Sayang, kau mau kemana? Sudah rapi sekali hari ini!" tanya Dio heran.
"Mas Dio lupa ya, hari ini kan aku sudah mulai aktif mengajar lagi Mas!" jawab Dinda.
"Mengajar lagi? Bukannya kamu masih cuti?" tanya Dio.
"Sudah satu bulan sekolah memberikan cuti, apa kata teman-temanku nanti di sekolah, kalau aku terlalu lama cuti!" sahut Dinda yang kini menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Cepat sekali!" gumam Dio.
"Mas, lagian aku kan mengajar cuma setengah hari, hitung-hitung kan menemani Chika juga!" ucap Dinda yang kini mulai duduk di sebelah Dio.
"Hmm, okelah, biar aku yang mengantar jemputmu!" ujar Dio akhirnya.
"Kalau begitu, Mas Dio mandi saja dulu, aku sudah siapkan air hangatnya, aku tunggu di bawah ya, mau bantu Mbak Yuyun siapkan sarapan pagi!" ucap Dinda sambil mengecup pipi Dio.
Dio tersenyum sambil memegangi pipinya yang baru di kecup Dinda.
Kemudian Dinda keluar dari kamar dan langsung menuju ke bawah.
Mbak Yuyun nampak sibuk menyiapkan sarapan, Dinda langsung berinisiatif membantunya.
"Wah, Bu Dinda sudah rapi nih pagi-pagi!" kata Mbak Yuyun.
"Aku sudah mulai mengajar lagi Mbak, Oya, Chika mana Mbak?" tanya Dinda.
"Tuh baru selesai pakai seragam!" kata Mbak Yuyun sambil menunjuk Chika yang berjalan ke arah ruang makan.
Dinda kemudian langsung berjalan ke arah Chika.
"Eh, pintar sekali sudah siap sekolah, mau sarapan sekarang sayang?" tanya Dinda sambil merapikan rambut Chika yang terurai.
"Mau Ma, Papa mana?"
"Papa sebentar lagi juga turun, lagi Mandi!" sahut Dinda.
Dinda langsung menaruh nasi goreng spesial yang sudah tersaji di meja makan itu ke piring makan Chika.
"Sarapan yang banyak ya, jangan lupa susunya juga di minum!" lanjut Dinda sambil menuangkan susu ke dalam gelas Chika.
"Ma, kata Bu Dita, Bu Dita kangen sama Mama!" kata Chika sambil mulai menyantap makanannya.
"Kangen? Sekarang kan Mama ke sekolah, pasti ketemu kan? Sudah bilang trimakasih belum, karena Bu Dita sering mengantar Chika pulang sekolah?" tanya Dinda.
"Sudah dong!" sahut Chika.
Dari arah kamarnya, Pak Frans muncul sambil mendorong kursi roda Bu Lian, sudah sejak kemarin Bu Lian pulang dari rumah sakit.
Mereka langsung duduk bergabung di ruang makan itu.
"Kamu mau kemana Dinda?" tanya Pak Frans.
__ADS_1
"Hari ini aku sudah mulai mengajar lagi di sekolah Ayah!" jawab Dinda.
"Asal aktifitas sekolah jangan sampai menghambat program untuk memiliki momongan, kadang kalau terlalu lelah, akan sulit untuk bisa segera hamil!" timpal Bu Lian.
"Iya Bunda, mengajar itu bukan pekerjaan yang melelahkan, Bunda jangan khawatir!" jawab Dinda.
Tak lama Dio sudah muncul dari atas tangga, sudah dengan pakaian rapi, siap mengantar Dinda dan Chika ke sekolah.
Dio segera duduk bergabung dengan mereka sambil mulai menyantap sarapannya.
"Ayo Pa, makannya cepetan! Nanti aku telat sekolah!" cetus Chika tiba-tiba.
"Iya iya, sabar dong sayang, nanti Papa bakalan ngebut deh, biar tidak telat!" sahut Dio.
"Jangan Mas, masa ngebut sih, ayo Chika ambil tasnya, kita tunggu Papa di mobil ya, pamit dulu sama Opa dan Oma!" kata Dinda.
Setelah Chika dan Dinda pamit, mereka kemudian berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di garasi rumahnya itu.
Lima menit kemudian, Dio datang terburu-buru dan langsung masuk ke dalam mobil, lalu mulai menyalakan dan mengendarai mobilnya itu keluar dari gerbang rumah dan menuju ke sekolah.
"Nanti pulang sekolah, Papa akan jemput kalian lagi!" kata Dio.
"Yess!" seru Chika senang.
"Memangnya Mas Dio tidak ke kantor?" tanya Dinda.
"Gampang, bisa di atur, aku kan boss nya!" sahut Dio.
"Hmm, sombong!" cetus Dinda.
"Mau apa lagi Mas? Waktuku tinggal sepuluh menit lagi!" sergah Dinda.
"Peluk dong, cium kek suaminya, belai-belai gitu!" ucap Dio.
"Ya Tuhan Mas, tadi pas di rumah sudah di cium paket lengkap, tadi juga aku sudah cium tangan dan pipi, masa kurang??" tanya Dinda sedikit sewot.
"Namanya juga pengantin baru!" cetus Dio
"Nanti siang saja ya pas pulang sekolah!" tawar Dinda.
"Tidak mau! Maunya sekarang!" rajuk Dio.
Dinda tidak ada pilihan, dari pada terlambat betulan, Dinda kembali menciumi wajah Dio sebanyak-banyaknya hingga Dio tersenyum puas.
Setelah itu, dia kembali berjalan menuju ke lobby.
Beberapa orang menatap ke arahnya.
"Ciyeeee, yang pengantin baru, mukanya beda!" goda Pak Yoga, guru olahraga raga, yang kebetulan bertemu dengan Dinda di lobby.
"Ah, Pak Yoga bisa saja!" sahut Dinda tersipu.
"Yang habis bulan madu ke Turki sepertinya mulai berubah nih auranya, secara di nikahi seorang pengusaha kaya gitu lho!" celetuk Bu Ribka yang tiba-tiba muncul di belakang Dinda.
Dinda hanya tersenyum menanggapi komentar para rekan kerjanya itu.
__ADS_1
Sebelum naik ke ruangannya, Dinda sengaja mampir ke ruang guru, selain kangen, juga Dinda tidak mau di bilang sombong, apalagi kini dia punya ruangan khusus yang lebih nyaman dan eksklusif.
Bu Dita terlihat duduk di depan meja kerjanya, tidak ikut guru-guru lain mengerumuni Dinda, bertanya soal bulan madunya di Turki.
"Wah, aku lihat di akun medsosnya Pak Dio, kalian naik balon udara, so sweet sekali! Aku kapan ya begitu!" kata Bu Ribka.
"Kamu jangan iri Bu Ribka, cari dulu pengusaha kaya sana, atau sugar daddy!" celetuk Mr. Sam.
"Dih, enak saja! Gini-gini seleraku brondong tau, tapi brondong yang kaya!" cetus Bu Ribka cemberut.
Teeeet .... Teeeet
Suara bel masuk sekolah membuyarkan guru-guru yang asyik berceloteh, mereka langsung bubar teratur dan berjalan ke kelasnya masing-masing untuk menunaikan kewajiban.
Dinda juga beranjak dan akan naik ke atas, ke ruangannya, Bu Dita hari ini nampak diam saja, tidak menegur sapa Dinda, padahal kata Chika, Bu Dita kangen sama Dinda.
"Bu Dita ..." panggil Dinda saat Bu Dita akan beranjak meninggalkan meja kerjanya.
Bu Dita menghentikan langkahnya.
"Trimakasih karena sudah mengantar Chika saat pulang sekolah!" ucap Dinda.
"Ya, sama-sama!" sahut Bu Dita yang kembali melangkah menuju ke kelasnya.
Dinda tertegun, entah mengapa dia merasa kalau sikap Bu Dita agak berubah, entah apa penyebabnya.
Dinda kemudian melangkah gontai menuju ke ruangannya.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Ponsel Dinda bergetar, Dinda lalu mengambil ponselnya itu, ada Pak Dirja Ayahnya yang meneleponnya.
Dinda menghentikan langkahnya, lalu kemudian mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Ayah!"
"Dinda, kau sudah pulang dari bulan madumu?" tanya Pak Dirja.
"Sudah Ayah!" sahut Dinda.
"Nak, main-mainlah ke rumah Ayah, saat ini keyla kakakmu sedang sakit, dia susah makan dan terus mengurung diri di kamar!" ucap Pak Dirja.
"Mbak Keyla sakit?"
"Iya Nak, Ayah bingung apa yang harus Ayah lakukan, dia tidak mau di ajak ke Dokter, katanya hanya masuk angin biasa, tapi tetap saja Ayah khawatir, karena dia sudah beberapa hari seperti itu!" ungkap Pak Dirja.
"Baiklah Ayah, nanti sepulang mengajar, aku mampir ke rumah Ayah!" kata Dinda.
"Trimakasih Nak, Ayah hanya ingin, hubungan kalian semakin erat, tanpa ada rasa saling membenci, itu saja!" lanjut Pak Dirja.
"Baik Ayah, sampai ketemu nanti!" ucap Dinda sebelum menutup panggilan teleponnya.
Bersambung...
****
__ADS_1