Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Kondisi Dio Dan Chika


__ADS_3

Pak Dirja yang kebetulan mampir di sebuah cafe untuk meneguk secangkir kopi, tertegun saat dia sudah selesai dan berjalan ke arah parkiran.


Jalanan itu terlihat sangat macet, padahal sebelumnya lancar-lancar saja.


Sebelum Pak Dirja mengendarai mobilnya, Dia berjalan ke arah depan ingin tahu apa yang menyebabkan kemacetan yang begitu parah.


Sayup-sayup terdengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan, dan di sebelah kiri jalan itu itu ada orang-orang yang sedang berkerumun.


Pak Dirja baru menyadari bahwa baru saja terjadi kecelakaan. Dia kemudian berjalan ke arah kiri jalan bermaksud untuk melihat kecelakaan tersebut.


Saat melihat mobil yang terbalik, Pak Dirja terbelalak, Karena dia sudah sangat mengenal siapa pemilik mobil itu.


Dengan cepat dia langsung menyeruak masuk diantara kerumunan orang melihat dari dekat korban kecelakaan itu.


"Ya Tuhan! Nak Dio!" pekik Pak Dirja sambil mencoba mengeluarkan Dio yang baru saja kecelakaan itu.


" Hei! kenapa kalian semua hanya menonton?! Ayo bantu saya mengeluarkan kan mereka dari mobilnya! Setelah itu cepat bawa ke rumah sakit!" titah Pak Dirja.


Beberapa orang laki-laki mulai membantu Pak Dirja untuk mengeluarkan Dio dan Chika yang terjepit di dalam mobilnya tersebut.


Darah mulai bercucuran di tanah, dengan cepat Pak Dirja berlari mengambil mobilnya dan menghalau kemacetan lalu lintas itu.


Beberapa orang menggotong Dio dan Chika yang terkapar masuk ke dalam mobil Pak Dirja.


Sekitar 20 menit mereka sudah sampai di rumah sakit, Dio dan Chika langsung dilarikan ke UGD.


Pak Dirja duduk di depan ruang UGD dan dia mulai mengeluarkan ponselnya.


"Halo, Key, maaf Ayah sepertinya akan pulang larut, Dio dan Chika kecelakaan, Ayah harus menunggu mereka, kasihan orang tuanya di Singapura!" kata Pak Dirja saat menelepon Keyla putrinya.


"Apa? Dio kecelakaan, aku datang ke sana ya, aku ingin tau keadaan mereka!" jawab Keyla dari sebrang telepon.


"Lebih baik kau diam rumah saja Key, ini sudah malam!" tukas Pak Dirja.


"Tidak Ayah, aku ingin sekali melihat mereka, lagi pula Ayah juga butuh teman kan?!"

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu Ayah tunggu, hati-hati ya Nak!" ucap Pak Dirja sebelum menutup ponselnya.


Seorang dokter keluar dari ruang UGD, Pak Dirja kemudian berdiri dan berjalan menghampiri dokter itu.


"Bagaimana kondisi mereka dokter?" tanya Pak Dirja.


"Kalau anak perempuannya hanya terdapat luka lecet di beberapa bagian tubuhnya, namun kondisi ayahnya lumayan parah, karena ada beberapa tulang kaki yang retak, juga ada luka sobek di pelipisnya sepanjang 7 cm!" jelas dokter itu.


"Lakukan yang terbaik untuk mereka dokter, mereka adalah kerabat saya!" ujar Pak Dirja.


"Baik Pak, kami akan melakukan semampu kami untuk merawat mereka, Apakah keluarga korban tidak ada ada yang datang?" tanya dokter itu.


"Orang tuanya sedang ada di Singapura dok, tapi saya akan mengabari mereka supaya mereka lekas datang!" jawab Pak Dirja.


Sang dokter menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera bergegas pergi meninggalkan Pak Dirja yang kembali duduk di depan ruang UGD di itu.


****


Sementara itu di apartemennya, Dinda duduk gelisah menunggu kedatangan Dio dan Chika.


Sudah tiga kali Dinda menghubungi Dio melalui ponselnya, tapi tidak bisa tersambung, Dinda mulai gelisah.


'Kemana sih duda genit itu? Tumben amat dia ngaret segini lama!' gumam Dinda.


Dinda kemudian mulai beranjak dan memakan puding, yang ada di dalam kulkas di dapur apartemennya itu.


Sekedar untuk mengganjal perutnya yang dirasa lapar, karena ini sudah lewat jam makan malam.


Dinda semakin gelisah karena waktu sudah terus beranjak malam, namun tidak ada kabar dari Dio.


Akhirnya Dinda memberanikan diri untuk menelepon ke rumah Dio, menanyakan pada Mbak Yuyun tentang Dio dan Chika.


"Halo!"


"Halo Mbak Yuyun, ini Dinda, mau tanya Mbak, Pak Dio dan Chika ada di rumah tidak?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Oh, Bu Dinda, Pak Dio sama Chika kan sudah jalan dari tadi, memangnya belum sampai?" tanya Mbak Yuyun balik.


"Belum Mbak, tapi bener ya mereka sudah berangkat!"


"Iya Bu, mereka sudah berangkat, mungkin mampir dulu kali Bu, beli makanan atau apa gitu!" sahut Mbak Yuyun.


"Ya sudah deh Mbak, aku tunggu saja, trimakasih ya!"


"Iya Bu Dinda, sama-sama!" sahut Mbak Yuyun yang langsung menutup teleponnya.


Dinda kembali menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan itu, entah kenapa perasaannya sangat tidak enak tapi dia juga tidak tahu bagaimana cara menghubungi Dio.


Sementara ponsel Dio susah sekali untuk dihubungi, padahal Dinda sudah berkali-kali mengirim pesan singkat, tapi tidak dibaca oleh Dio.


Untuk mengusir kegelisahannya, Dinda kemudian menyalakan layar tv, menonton acara-acara yang ada di televisi.


Pada saat Dinda membuka channel berita terkini, ada berita tentang kecelakaan lalu lintas, yang terjadi di ruas sebuah jalan protokol.


Pada saat Dinda menonton berita itu, dia sedikit terperanjat melihat mobil yang tersorot oleh kamera yang tanpa sengaja itu.


Mobil yang posisinya sudah terbalik itu adalah mobil yang biasa Dio pakai, tiba-tiba jantung Dinda berdegup dengan sangat kencang.


"Ya Tuhan! Mas Dio!" jerit Dinda sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Tanpa berpikir lagi Dinda langsung menyambar jaketnya dan keluar dari apartemennya.


Setengah berlari Dinda turun ke bawah, berniat untuk mencari ojek untuk ke rumah sakit.


Namun sejenak Dinda menghentikan langkahnya, dia tidak tahu saat ini Dio sedang ada di rumah sakit mana.


Akhirnya Dinda memutuskan untuk datang ke lokasi kecelakaan, guna mencari tahu rumah sakit tempat Dio dirawat bersama dengan Chika.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2