
Dio tertegun sejenak saat mendengar pertanyaan Dinda yang sedikit membuatnya terusik dan terkejut.
"Kenapa Mas? Kok bingung begitu, kok Mas Dio tidak bilang kalau bertemu dengan Mbak Jessica di taman?" tanya Dinda sekali lagi.
"Ehm, apakah itu penting bagimu? Dia itu hanya teman sekolah aku kok!" sahut Dio.
"Ya aku tau, walau dia wanita dewasa, namun wajahnya sangat cantik dan awet muda!" lanjut Dinda.
"Sudahlah, untuk apa kamu membahas ini malam-malam begini? Sekarang tidurlah!" Dio kembali menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Dinda dan memejamkan matanya.
Dinda tidak bisa bertanya lebih lanjut lagi, padahal dia juga belum puas mendengar jawaban Dio.
****
Pagi-pagi Dinda sudah di kejutkan dengan kedatangan teman-teman para guru di sekolah.
Banyak sekali bingkisan dari mereka. Dinda jadi merasa terharu, ternyata walaupun dia kurang akrab dengan para guru, namun mereka ada perhatian dan solidaritas yang tinggi.
"Maaf ya Bu Dinda, baru bisa jenguk sekarang, maklum sekolah tidak bisa di tinggal!" kata Pak Roni.
"Iya Bu, kan kalau cuma sendiri datang tidak enak, makanya hari ini tadi sekolah di pulang kan cepat, supaya kami bisa jenguk Bu Dinda!" timpal Bu Ribka.
"Ah, saya jadi tidak enak, merepotkan kalian saja!" sahut Dinda sungkan.
Bu Dita nampak berdiri di belakang di dekat pintu, tidak berani untuk mendekat.
"Kapan Bu Dinda di perbolehkan pulang?" tanya Mr. Sam.
"Tidak tau juga, tergantung keputusan Dokter!" jawab Dio yang sejak tadi tidak beranjak dari sisi Dinda.
"Bu Dinda, kau jangan khawatir, sekolah akan memberikan kelonggaran waktu sampai kesehatan Bu Dinda benar-benar pulih!" kata Pak Roni.
"Trimakasih Pak Roni!" ucap Dinda.
Tiba-tiba Asti, sahabatnya Dinda masuk ke ruangan itu, dia agak tertegun melihat ruangan yang ramai itu.
"Ups maaf, mungkin aku mengganggu!" kata Asti yang hendak berbalik.
"Tidak As, kemarilah!" panggil Dinda.
Asti lalu kembali melangkah mendekati Dinda.
"Ah, kalau begitu kami pamit deh Bu Dinda, mungkin masih ada yang akan menjenguk Bu Dinda!" kata Mr. Sam.
"Iya Bu Dinda, gantian!" timpal Pak Roni.
__ADS_1
"Yang penting kami sudah menjenguk Bu Dinda, dan semoga Bu Dinda lekas pulih!" lanjut Bu Ribka.
Setelah pamit dan menyalami Dinda, para guru itupun segera keluar dari ruangan itu.
Bu Dita yang masih berdiri di pojok lalu melangkah mendekati Dinda.
"Bu Dinda, semoga lekas pulih, maafkan aku ya!" ucap Bu Dita.
Tanpa menunggu jawaban Dinda, Bu Dita langsung cepat-cepat melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Hmm, kasihan Bu Dita, sekarang bahkan hibunganku dengan dia sedang tidak baik-baik saja!" gumam Dinda.
"Itu hukum sosial yang harus dia terima, karena menjadi seorang sahabat yang tidak tulus!" cetus Dio.
"Pak Dio tau dari mana?" tanya Asti kepo.
"Sejak Chika masuk SD, dia itu sudah berupaya untuk selalu mencari perhatian, guru-guru pada tau kok, sudah jadi rahasia umum!" sahut Dio.
Asti nampak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi kenapa Chika tetap nakal pada waktu itu??" tanya Dinda.
"Kamu mau tau jawabannya? Karena dia itu hanya mengincar aku, Chika tau mana orang yang tulus atau hanya pura-pura!" sahut Dio.
"Wah, berarti Chika beruntung bisa bertemu denganmu Din, bukan hanya Chika yang bisa kau taklukan, tapi Papanya juga!" goda Asti.
"Kalian lanjutkan saja mengobrol, aku mau terima telepon dari Bunda dulu!" kata Dio yang langsung merogoh ponselnya yang berdering itu, lalu melipir ke luar ruangan.
"Eh Din, boleh dong guru yang tadi kamu kenalin sama aku!" ujar Asti tiba-tiba.
"Yang mana?"
"Itu lho, yang keren tadi, macho lho dia!" sahut Dinda.
"Mr. Sam??"
"Wow, namanya keren, iya lah, yang mana lagi selain dia, hanya ada dua laki-laki kan, yang tua itu pasti Pak kepsek!" tebak Asti.
"Kamu tau tidak As, padahal maksudku semalam itu, mau menjodohkanmu dengan Mr. Sam, eh malah kamu sudah naksir duluan, mungkin kalian jodoh!" kata Dinda.
"Oya?? Wah, ayo Din! Mainkan!" seru Asti antusias, Dinda tertawa seolah lupa akan sakitnya.
Kehadiran Asti sedikit menghibur Dinda, kendati dia masih penasaran dengan sosok Jessica yang semalam menjenguknya.
Sementara Dio, yang baru saja selesai menerima telepon, hendak beranjak kembali ke ruangan Dinda.
__ADS_1
"Dio!!"
Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Dio menoleh ke belakang.
Jessica kini sudah berdiri di hadapan Dio sambil menggendong Anaknya.
"Jessi ..."
"Semalam aku sudah menjenguk istrimu, tapi kamu sudah tidur!" kata Jessica.
"Ya, aku sudah tau!"
"Istrimu cerita?"
"Iya, Jess, setelah ini aku mohon, jangan lagi datang walau hanya dengan alasan menjenguk Dinda!" ucap Dio.
"Kenapa? Dia marah ya?" tanya Jessica.
"Tidak, aku hanya belajar bagaimana menjaga perasaannya, walau bagaimana, dia pasti akan bertanya siapa dirimu, dan aku tidak mau dia cemburu!" jawab Dio.
"Baiklah, asal kamu tau Dio, sejak dulu hubungan kita memang hanya sebatas teman, tidak lebih kan!" kata Jessica.
"Yah, tapi untuk sekarang, hubungan pertemanan juga harus di batasi, maafkan aku!" ucap Dio.
"Oke, kalau begitu aku permisi, aku mau mengantar Dio ku ini terapi, trimakasih!"
Jessica kemudian melangkah pergi meninggalkan Dio yang masih berdiri termangu.
Pada saat Dio akan masuk ke dalam ruang perawatan Dinda, Asti sudah berdiri di depan pintu ruangan itu sambil menatap Dio.
"Pak Dio, tadi sedang mengobrol dengan siapa ya? Kelihatannya akrab sekali, dan kalian nampak saling menunduk!" cecar Asti.
"Oh, itu hanya seorang teman lama, tidak penting juga, kamu mau kemana?" tanya Dio.
"Mau pulang lah, kerja cari prospekan! Awas lho Pak, berani bermain di belakang Dinda sahabatku! Dulu aku mantan preman!" sahut Asti.
"Baik, kamu tenang saja!"
"Tadi aku dengar, dia menyebut anaknya Dio ku, kenapa anaknya namanya Dio?" tanya Asti lagi.
"Aku tidak tau, kenapa kau cerewet sekali!?" cetus Dio kesal.
"Hmm, Oke, kalau begitu aku pulang ya!" sahut Asti.
"Oke, trimakasih karena sudah menjenguk Dinda!" ucap Dio sambil membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya dengan cuek.
__ADS_1
Bersambung....
*****