
Dinda terbangun dari tidurnya, tubuhnya terasa luluh lantak tak bertenaga, setelah semalam Dio berhasil menembus pertahanannya, dan akhirnya Dinda benar-benar telah memberikan mahkota berharganya itu pada Dio, suaminya yang sangat dia cintai saat ini.
Dinda mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar, Dio sudah tidak ada di sampingnya.
Tumben, tidak biasanya Dio bisa bangun begitu pagi setelah semalam dia bertempur begitu hebat.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Dio masuk sambil membawa satu gelas susu hangat.
"Good morning Sayang, sudah bangun?" ucap Dio sambil melangkah dan duduk di samping Dinda, lalu meletakkan gelas susu itu di atas meja kamar.
"Mas Dio sudah bangun? Tumben, tidak capek?" tanya Dinda.
"Tidak sayang, sengaja aku bangun lebih pagi, untuk membuatkan susu hangat untukmu, kau pasti lelah kan semalam itu melayaniku!" jawab Dio.
"Ehm, iya Mas, badanku terasa remuk semua, kau ganas seperti singa!" ujar Dinda. Dio tertawa.
"Maaf sayang, maklum saja singanya kelaparan karena sudah lama sekali dia tidak makan, ayo minumlah, supaya tubuhmu kembali bugar!" ucap Dio sambil mengambilkan susu hangat itu dan membantu Dinda untuk meneguknya.
Dinda meneguk susu hangat itu hingga habis tak tersisa.
"Aku jadi tidak enak, biasanya istri yang akan melayani suami, membuatkan sarapan atau minuman hangat, trimakasih ya Mas!" ucap Dinda.
"kamu jangan sungkan pada suamimu sendiri sayang, aku tau, istriku masih perawan, pasti sangat sakit untuk yang pertama kali, apalagi ... punyaku kan cukup besar, tapi aku yakin lama kelamaan kau akan terbiasa dan malah ketagihan!" goda Dio.
"Mas Dio mesum!" cetus Dinda, wajahnya memerah menahan malu.
"Pagi ini aku mandikan ya, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu!" bisik Dio.
"Ah, aku bisa mandi sendiri Mas, jangan berlebihan!" tukas Dinda.
"Please ... aku sangat ingin, menurut Dokter, bercinta di pagi hari akan meningkatkan stamina dan kinerja otak!" kata Dio.
"Hmm, modus!"
"Ayolah sayang, semalam itu kan cuma sekali main, aku tidak tega melihat wajahmu yang meringis menahan sakit, siapa tau saja kalau di dalam air, rasa sakitnya akan berkurang!" ajak Dio.
Dinda tertegun, tubuhnya yang terasa remuk redam saja belum hilang, pagi ini Dio kembali mengajaknya untuk bercinta, seperti yang semalam mereka lakukan.
Namun di sisi lain, Dinda juga tidak ingin mengecewakan suaminya itu, kalau dia menolaknya, apalagi pancaran mata Dio menunjukkan kalau dia sedang sangat ingin.
__ADS_1
"Ehm, tapi Mas Dio janji ya, pelan-pelan masukinnya, perihnya masih terasa tau!" kata Dinda.
"Oke sayang, ayo!"
Dio lalu mulai kembali mencumbui Dinda, melakukan banyak sekali pemanasan, supaya Dinda terangsang dan tidak terlalu sakit seperti semalam.
Dio kemudian mulai mengangkat Dinda yang kini telah polos itu ke kamar mandi, lalu membaringkannya di bathtub yang sudah terisi oleh air hangat.
Dio kemudian ikut masuk ke dalam bathtub itu, mereka saling menyabuni satu sama lain.
"Mas ..."
"Ya sayang!"
"Sebelum besok kita berangkat ke Turki, aku ingin pergi ke rumah Ayah Dirja!" ucap Dinda.
"Untuk apa? Bukankah kemarin kamu baru bertemu dengannya?" tanya Dio.
"Aku ingin bertemu dengan Mbak Keyla!" jawab Dinda.
"Apa? Ingin bertemu Keyla? Tapi untuk apa?" tanya Dio lagi.
Tangannya masih lincah menggerayangi tubuh Dinda yang kini di penuhi sabun.
"Baiklah sayang, aku akan mengantarmu!" kata Dio.
"Terimakasih ya Mas, tapi nanti Mas Dio tunggu di mobil saja, jangan masuk, aku tidak enak dengan Mbak keyla!" lanjut Dinda.
"Memangnya kenapa? Kamu pasti cemburu ya!" goda Dio.
"Dih, siapa yang cemburu, aku hanya ingin menjaga perasaannya Mbak Keyla saja kok! Dasar GR!" sungut Dinda.
"Kalau kamu beneran cemburu, aku malah senang, itu artinya kau benar-benar sayang padaku!" bisik Dio.
"Untuk apa aku cemburu Mas, aku minta kamu tunggu di mobil karena aku hanya ingin mengobrol dengan Awww!!" Tiba-tiba Dinda menjerit saat ada benda yang mulai masuk ke dalam tubuhnya.
"Lanjutkan sayang, supaya kamu tidak tegang seperti semalam, nikmati saja, pasti enak kok!" bisik Dio sambil menciumi leher Dinda.
"Dasar singa nakal! Masuk tidak bilang-bilang, sebel!" sungut Dinda.
Namun lama kelamaan, Dinda menikmati permainan Dio, hingga dia mencapai kenikmatan pada puncaknya. Dio tersenyum senang.
__ADS_1
****
Setelah selesai sarapan pagi, Dio dan Dinda mengantar Chika ke sekolah, setelah itu mereka menuju ke rumah Pak Dirja, sesuai dengan keinginan Dinda sebelum besok berangkat ke Turki.
Rumah Pak Dirja nampak sepi, hanya ada seorang asisten rumah tangga yang sedang menyiram tanaman di taman depan.
Dinda yang berjalan dari mobil Dio yang terparkir di depan rumah Pak Dirja, langsung datang ke rumah Pak Dirja itu.
Sementara Dio tidak turun, hanya menunggunya di dalam mobil.
"Selamat pagi Pak, Mbak Keyla ada?" tanya Dinda pada seorang security yang berjaga di samping gerbang rumah itu.
"Ada, tuh lagi duduk melamun di depan teras!" kata Security itu sambil menunjuk Keyla yang terlihat duduk melamun di depan teras rumahnya.
Dinda menganggukan kepalanya, setelah itu dia melangkah perlahan menghampiri Keyla.
Keyla nampak terkejut saat melihat kedatangan Dinda yang tiba-tiba itu.
"Mau apalagi kau datang ke sini? Mau memamerkan kemenanganmu yang telah berhasil menikahi Dio dan mengambil posisi Ayahku??!" sengit Keyla.
"Maafkan aku Mbak Keyla, bukan itu maksud kedatanganku!" tukas Dinda yang masih berdiri di hadapan Keyla.
"Lalu apalagi?? Dari pada kamu kembali membuatku stress, lebih baik kamu pergi saja dari hadapanku!" sentak Keyla.
"Mbak, semua terjadi itu, bukan karena keinginanku, tapi karena takdir, kita tidak bisa memilih pada siapa kita mau di lahirkan dan siapa Ayah kita!" ucap Dinda.
"Aku sudah hancur, tidak ada harapan apapun, lebih baik kamu pergi dari rumahku, karena jujur saja, aku sangat membenci kamu!" seru Keyla.
Dinda terhenyak, hatinya sangat sedih mendengar ucapan yang keluar dari mulut Keyla, walau bagaimana Dinda menyadari, ada darah yang sama di antara dirinya dan keyla.
"Walaupun Mbak Keyla membenci aku, tapi aku tidak pernah sedikitpun membenci Mbak Keyla, karena Mbak Keyla itu adalah kakakku!" tegas Dinda.
"Aku tidak sudi punya adik dari seorang pelakor!" sentak Keyla.
"Mbak Keyla boleh menghina aku, tapi jangan hina Ibuku!" kata Dinda dengan suara yang mulai meninggi.
"Memang betul kok, kalau Ibumu itu pelakor, dia yang sudah merusak kebahagiaan Mamaku, keluargaku!!" sengit Keyla yang terlihat mulai emosi.
Tiba-tiba Pak Dirja muncul dari dalam rumahnya itu, setelah di dengarnya ada suara keributan di teras.
Bersambung ....
__ADS_1
****