Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Kembali Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Dio melotot dan bergetar melihat bercak darah itu, tanpa bertanya lagi, Dia langsung mengangkat Dinda kembali turun ke bawah.


Padahal Dinda sudah menolak Dio, namun Dio tidak perduli, dia terus saja berjalan ke arah mobilnya yang terparkir.


Pak Dirja dan Bu Lilis terkejut melihat wajah Dio yang panik sambil menggendong Dinda.


"Ada apa?? Apa yang terjadi Dio??" tanya Bu Lilis sambil menyusul Dio yang terus berjalan hingga sampai di mobilnya.


"Bu, aku mau membawa Dinda ke rumah sakit, sepertinya dia ada pendarahan!" kata Dio cemas.


"Kalau begitu Ibu ikut!" sahut Bu Lilis yang langsung masuk ke dalam mobil.


"Ayah juga ikut, berjalan di belakang mobil kalian!" kata Pak Dirja yang langsung menuju ke mobilnya yang terparkir.


"Mbak Yuyun!! Titip Chika!" teriak Dio.


Mbak Yuyun mengangukan kepalanya sambil melambaikan tangannya.


Dio langsung melajukan mobilnya itu menuju ke rumah sakit.


Sekitar 30 menit, mereka sudah sampai di rumah sakit, Dinda langsung di larikan ke UGD.


Dokter dan beberapa perawat langsung dengan sigap memeriksa kondisi Dinda.


"Pak Dio tunggu saja di luar!" kata seorang perawat.


Dio lalu duduk di bangku depan ruang UGD di temani oleh Bu Lilis.


"Ya Tuhan, kenapa lagi Dinda, baru saja dia akan pulih!" gumam Bu Lilis cemas.


"Aku juga tidak tau Bu!" sahut Dio.


"Mudah-mudahan kondisinya tidak mengkhawatirkan, kasihan Dinda!" lanjut Bu Lilis.


Dari ujung lorong, muncul Pak Dirja yang melangkah mendekati mereka dan kini duduk bergabung dengan mereka.


Dio mulai berpikir, sebenarnya apa yang di alami oleh Dinda, apakah karena siang tadi, saat Dinda melayani Dio dengan sepenuh hati.


Tapi Dinda hanya memuaskan Dio sampai mencapai pelepasan, Dio sama sekali tidak menyetubuhi Dinda, mereka bermain di luar.


Namun Dio bingung, mengapa tiba-tiba perut Dinda sakit? Apakah karena dia terlalu banyak menelan cairannya? Rasanya tidak masuk akal.


Seorang Dokter dan seorang perawat keluar dari ruang UGD. Dio langsung bergegas menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Dio cepat.


"Pak Dio, bisa ikut saya keruangan?"


Dio menganggukan kepalanya, lalu segera berjalan mengikuti langkah Dokter ke ruangannya.


Mereka kemudian duduk dan saling berhadapan.


"Bagaimana Dokter?" tanya Dio.


"Luka bekas operasi Bu Dinda mengalami infeksi, namun kami sudah memberikannya antibiotik, itu berarti, proses pemulihannya bisa lebih panjang lagi!" jawab Dokter.


"Kenapa bisa terjadi begitu Dok? Padahal saya sudah menjalankan apa yang Dokter anjuran!" tanya Dicky.

__ADS_1


"Ini bukan karena masalah hubungan suami istri, memang kondisi perut Bu Dinda itu agak sensitif, kemarin itu kista yang di keluarkan lumayan besar, jadi masih terdapat luka yang memang belum sembuh benar!" lanjut Dokter Aryo.


"Lalu apa yang harus kami lakukan Dokter?" tanya Dio galau.


"Setelah ini Bu Dinda sudah boleh pulang ke rumah, saya akan memberikan obat tambahan, ingat Pak, Bu Dinda butuh bed rest!" jawab Dokter Aryo.


"Baik Dokter!" sahut Dio.


"Bagus, jangan lupa jika ada keluhan sekecil apapun, langsung hubungi saya!" lanjut Dokter.


"Baik!"


Setelah Dio keluar dari ruangan Dokter Aryo, dia kembali ke ruang UGD, Bu Lilis nampak sedang memaparkan Dinda jalan ke arah bangku di depan ruangan itu.


"Duduklah sayang, kamu jangan banyak bergerak, aku mau mengambil obatmu di apotek!" kata Dio.


Dinda kemudian duduk di temani oleh Bu Lilis dan Pak Dirja yang ada di situ.


Dio langsung bergegas pergi ke bagian farmasi untuk menebus obat Dinda.


"Kamu pulang saja duluan Pak, nanti Keyla akan mencarimu, biar Dinda aku yang menemaninya!" kata Bu Lilis.


"Kau ini bicara apa Lis? Dinda anakku juga, lagi pula Keyla sudah ada Ken yang selalu di sampingnya, dia sudah tak butuh aku!" sahut Pak Dirja.


"Terserah kau saja lah!" ujar Bu Lilis.


"Bu, kalau seperti ini terus, kapan aku akan bisa memberikan Mas Dio anak?" tanya Dinda tiba-tiba, wajahnya kelihatan sedih.


"Sabar Nak, kalau kamu sudah pulih, pasti kamu akan bisa segera hamil!" jawab Bu Lilis.


"Sabar Nak, akan indah pada waktunya kok!" timpal Pak Dirja.


Bu Lilis hanya bisa menarik nafas panjang sambil terus menggenggam tangan putrinya itu.


****


Sementara itu di rumah Keyla, Ken nampak sibuk memasak nasi goreng karena Keyla meminta tadi, dan Keyla hanya mau Ken yang membuatnya, bukan Bi Titi.


"Keeeenn!!" Panggil Keyla.


Ken datang tergopoh-gopoh dari arah dapur, masih dengan mengenakan celemek.


"Ada apa sih Mbak! Bisa tidak volume suaranya di kecilkan sedikit??" tanya Ken gusar.


"Sudah matang belum nasi goreng nya?"


"Ya belum lah, aku kan baru lihat tutorialnya di youtube!" sahut Ken.


"Dasar lelet! Aku sudah lapar tau!" sungut Keyla.


"Lapar?? Tadi siang kau makan begitu banyak, belum lagi cemilan dan buah, sebenarnya kamu itu manusia atau gentong sih?" tanya Ken kesal.


"Kamu lupa?? Ada bayi di dalam perutku! Jadi ini semua keinginan bayimu, apa kamu mau saat dia lahir nanti dia jadi ileran??" seru Keyla.


"Iya iya, kalau kamu terus bawel begini, kapan nasi goreng nya matang?" tanya Ken.


"Ya sudah sana lanjutkan!"

__ADS_1


Ken lalu kembali ke dapur, mengerjakan apa yang Keyla minta, meskipun dia belum piawai sama sekali membuat nasi goreng, namun demi keinginan sang jabang bayi, Ken rela melakukan itu semua.


Sekitar 15 menit, nasi goreng yang Keyla inginkan matang juga, Ken langsung meletakannya di atas meja makan.


Dengan antusias, Keyla langsung menyantap nasi goreng buatan Ken.


"Gimana Mbak? Enak?" tanya Ken.


"Lumayan lah, walaupun rasanya standar, boleh juga kamu Ken!" sahut Keyla.


"Syukurlah Mbak, akhirnya perjuanganku berhasil juga!" ujar Ken senang.


Dalam waktu singkat, sepiring nasi goreng buatan Ken habis tak tersisa, Ken tersenyum senang.


"Wow, pintar nya istriku!" puji Ken.


"Ini belum selesai, sekarang antarkan aku keluar!" kata Keyla.


"Keluar? Mau kemana lagi Mbak? Apa mau cari makanan lain, kasihan perutmu Mbak!" tanya Ken bingung.


"Aku bukan mau cari makanan Ken!"


"Lalu?"


"Aku mau cari orang gundul, setelah itu aku mau jitak kepalanya!" sahut Keyla.


"Apa?? Jangan aneh-aneh deh Mbak, aku tidak mau!" cetus Ken.


"Pokoknya kamu harus mau! Atau mau bayi kamu ngiler??" ancam Keyla.


"Aduuuuh, apa tidak ada permintaan yang lain apa Mbak, berat aku Mbak!" kata Ken frustasi.


"Oh, jadi kamu tidak mau? Oke, aku jalan sendiri!" seru Keyla yang langsung bangkit dan berjalan menuju ke arah keluar.


"Mbak! Tunggu Mbak! Jangan baper!" panggil Ken yang langsung menyusul Keyla di belakangnya.


"Ngapain kamu nyusul Ken? Sudah sana tidur saja seharian, aku mau pergi!" cetus Keyla.


"Aku ikut Mbak!"


"Katanya tadi tidak mau!"


"Ya sekarang mau, ayo!"


Ken lalu membukakan pintu mobil untuk Keyla, kemudian dia masuk dan langsung menyalakan mesin mobilnya itu.


"Sekarang kita mau kemana Nyonya?" tanya Ken.


"Cari orang gundul! Tanganku gatal ingin menjitak kepala gundul!" sahut keyla.


"Siap Nyonya!"


Ken lalu segera melajukan mobilnya itu keluar dari rumah itu, demi mengabulkan permintaan sang istri.


Bersambung ...


*****

__ADS_1


__ADS_2