Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Pulang Ke Apartemen


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dinda sudah bangun dari tidurnya, kepalanya sedikit pusing, karena semalam dia kurang tidur, setelah menelepon Ibunya.


Sampai saat ini, Bu Lilis masih bersikeras tidak memberitahukan Dinda, siapa nama Ayah Dinda.


Bukan karena Bu Lilis ingin menutupi identitas Ayah Dinda, Bu Lilis hanya tidak mau, kalau kehadiran Dinda nanti justru akan semakin menyakiti dirinya dan Dinda, jika Ayah Dinda tau tentang Dinda


Setelah mandi dan berpakaian, Dinda kemudian keluar dari kamar itu, bermaksud membantu Mbak Yuyun menyiapkan sarapan pagi.


Suasana rumah itu masih sepi, mungkin Dio dan Chika juga belum bangun, karena hanya mereka saja penghuni rumah besar ini.


"Eh, Bu Dinda sudah bangun? Bu Dinda mau minum teh atau susu?" tanya Mbak Yuyun saat melihat Dinda yang berjalan ke arahnya.


"Jangan repot-repot mbak, aku malah mau membantu buat sarapan!" sahut Dinda.


" Waduh, jangan Bu! Nanti kalau Pak Dio tahu saya dimarahi ini! masak calon nyonya mau bantu di dapur sih?" sergah Mbak Yuyun.


"Lho Memangnya kenapa Mbak? semua perempuan itu kan memang harus ke dapur! kalau tidak pernah menginjakkan dapur malah aneh!" kata Dinda.


"Dindaaa!!"


Tiba-tiba terdengar suara Dio memanggil dari lantai atas, Dinda dan Mbak Yuyun saling berpandangan.


"Tuh kan Bu Dinda, sudah sana temui Pak Dio, urusan dapur dan sarapan biar jadi urusanku saja!" kata Mbak Yuyun.


Mau tidak mau Dinda beranjak dari tempatnya, dan perlahan naik ke lantai atas menuju ke kamar Dio.


Setelah sampai di depan kamar Dio, Dinda langsung membuka pintu kamar itu perlahan.


Dio nampak masih berbaring di tempat tidurnya, sementara matanya sudah terbuka lebar menandakan kalau dia sudah bangun.


"Kau dari mana saja sayang? Lama sekali datang ke kamarku!" tanya Dio cemberut.


"Kalau Mas Dio butuh aku kan bisa telepon ke ponselku, Kenapa harus teriak-teriak?" tanya Dinda balik.


"Sorry, aku hanya refleks saja, aku kira kau sudah jadi istriku! aku lupa kalau status kita belum menikah!" sahut Dio yang sontak membuat wajah Dinda kembali bersemu merah.


"Jadi apa yang harus aku lakukan untukmu Mas?" tanya Dinda.


"Bagaimana Sayang, apakah ibumu jadi datang ke Jakarta? Atau aku yang harus kesana?" tanya Dio.

__ADS_1


"Hari ini Ibu mau datang ke Jakarta Mas, makanya aku harus kembali ke apartemen, karena aku sudah memberikan alamat apartemen itu pada ibu!" jawab Dinda.


"Oh, oke, syukurlah calon Mertuaku datang lebih cepat, siang ini kau ke apartemen di antar Ujang ya, tadi aku sudah menelepon dia supaya dia datang!" Kata Dio.


"Terserah deh Mas, kita turun ke bawah yuk, sini aku bantu jalan pelan-pelan, tidak enak aku berada di kamarmu, nanti ada setan lewat lagi!" ujar Dinda yang merasa sangat canggung berada di kamar Dio.


Dio tertawa mendengar ucapan Dinda yang terlihat begitu polos dan menggemaskan bagi Dio itu.


"Memangnya kalau ada setan lewat kenapa? kau takut? Aku malah berharap banyak Setan lewat di kamar ini!" sahut Dio sambil tertawa.


"Nyebelin!!"


"Tapi suka kan??"


Akhirnya Dinda membantu Dio bangun dari tempat tidurnya, dan memapahnya berjalan selangkah demi selangkah menuruni tangga, menuju ke bawah.


Dio tidak lagi duduk di kursi roda, dia sudah bisa berjalan walaupun tidak bisa cepat, karena masih ada rasa nyeri dari tulangnya yang masih terdapat banyak pen di dalamnya.


Setelah sampai di bawah, mereka langsung menuju ke ruang makan dan duduk di sana.


Dinda mengambilkan Dio sarapan, juga segelas susu hangat untuk Dio.


"Siap Bu Guru!"


"Kalau begitu aku pamit dulu ya Mas, takutnya Ibu keduluan sampai!" ucap Dinda.


kebutuhan si Ujang, sopir keluarga Dio juga sudah datang dan menunggu di garasi depan.


"Oke, sini peluk dan cium dulu!" kata Dio.


"Jangan nanti Chika lihat!"


"Dia belum bangun, pokoknya itu wajib hukumnya ya, apalagi kalau kau sudah jadi istriku, pagi, siang dan malam wajib cium!" ujar Dio.


Tidak mau berdebat, Dinda kemudian dengan cepat langsung mengecup kedua pipi Dio, setelah itu dia bergegas melangkahkan kakinya menuju ke garasi depan.


****


Pagi itu Dinda diantar oleh si Ujang, supir keluarga Dio menuju ke apartemen.

__ADS_1


Ujang ini masih terlihat muda, usianya mungkin sekitar 20 tahunan, dan gerakannya teramat sangat gesit.


Tak lama mereka sudah sampai di parkiran apartemen itu, setelah mobil berhenti dan terparkir, Dinda kemudian turun dari dalam mobil itu.


"Saya akan menunggu di sini Bu, kalau ibu ada perlu apa-apa, atau mau diantar ke mana, tinggal kontak saya, ini nomor telepon saya!" kata Ujang sambil menyodorkan secarik kartu.


Dinda mengambil kartu itu sambil menganggukkan kepalanya.


"Oke, tapi sebaiknya kau pulang saja ke tempat Pak Dio, kan saya sudah sampai disini!" ujar Dinda.


"Wah jangan Bu, saya bisa kena semprot Pak Dio! Lagi pula tadi Pak Dio bilang, kalau tugas saya adalah mengantar jemput Bu Dinda!" sergah Ujang.


"Hmm, ya sudahlah terserah, kalau begitu saya naik dulu ya!"


Ujang menganggukan kepalanya, kemudian Dinda segera berjalan menuju ke lobby.


Pada saat Dinda sampai di lobby, dia melihat sosok Ibunya sudah duduk di bangku lobby itu, sambil memegang ponsel. Dinda buru-buru datang menghampirinya.


"Ibu! Cepat sekali Ibu sampainya!" kata Dinda yang langsung duduk di samping Ibunya.


"Iya dong, Ibu kan naik kereta!" sahut Bu Lilis.


"Kalau gitu yuk kita naik sekarang!" ajak Dinda.


Bu Lilis menganggukan kepalanya, mereka kemudian naik ke atas denga menggunakan lift.


Bu Lilis tercengang melihat apartemen mewah yang Dinda tempati, mulutnya ternganga dan nyaris dia tidak bisa berkata apa-apa.


Bu Lilis sama sekali tidak menyangka kalau Dinda akan mendapat fasilitas Apartemen semewah ini.


"Jadi sekarang kau tinggal di sini nak? Dinda, Apakah kau sudah menyesuaikan dengan Dio, kalian itu berbeda Lho, ibu takut kamu tidak bisa mengimbangi Dio!" ucap Bu Lilis.


"Tadinya aku juga berpikir seperti itu Bu, tapi sepertinya nya Mas Dio serius dan bersungguh-sungguh ingin meniti masa depan bersama denganku!" ungkap Dinda.


Bu Lilis hanya menganggukkan kepalanya, dan berharap dalam hatinya kalau putrinya itu akan menemukan kebahagiaannya, meskipun dia akan menikahi orang kaya dan tidak bernasib seperti dirinya dulu.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2