
Baru saja Bang Jarwo dan salah satu security yang lain ingin memegang tangan Keyla, bermaksud untuk menahan nya agar dia tidak masuk dan mengacaukan suasana rumah itu, Ken dengan cepat maju dan menepiskan tangan kedua security itu.
"Jangan tahan dia! Biar dia yang jadi urusanku!" seru Ken.
Dua orang sekuriti itu pun melepaskan dan dan mundur beberapa langkah. Ken kemudian maju dan mendekati Keyla sambil berusaha memegang bahunya.
"Pergi Ken! Untuk apa kau mengikutiku dan mencampuri urusan ku?!" pekik Keyla.
"Jangan bikin malu di sini Mbak! Jaga etika sedikit! Ayo kita pulang!" Ken berusaha menarik tangan Keyla, namun Keyla malah mendorong tubuh Ken.
Sementara itu Dio langsung merangkul Dinda, melangkah masuk kedalam rumah, dan membimbingnya menuju ke kamarnya.
"Tolong kau bawa Keyla dan jaga dia! Saat ini jiwanya sedang rapuh, dia bisa melakukan hal apapun!" ujar Pak Frans terhadap Ken.
"Baik!"
"Keyla, Maafkan tante ya, saat ini Tante tidak bisa berbuat apapun untuk membela mu, tapi Tante Simpati padamu, dan Percayalah, tante akan selalu mendengar setiap keluhan mu!" timpal Bu Lian.
Tanpa menunggu lama, Pak Frans juga langsung membimbing istrinya itu untuk melangkah masuk kedalam, menuju ke kamar mereka.
Keyla nampak menangis sambil bersimpuh di depan rumah Dio, persis seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya.
Ken yang berada di tempat itu, hanya bisa membiarkan saja Keyla melampiaskan segala emosinya, menumpahkan segala tangisan dan kemarahannya.
Hingga Ken mulai memberanikan diri untuk menggenggam tangan Keyla dan membawanya pergi meninggalkan rumah itu.
Hujan semakin deras, kini pakaian ken dan pakaian Keyla basah kuyup. Dengan cepat Ken membuka pintu mobilnya, dan membawa Keyla masuk ke dalamnya, dan dia langsung mengemudikan mobilnya itu menerobos hujan yang semakin lama terlihat semakin besar.
"Kenapa kau membawaku pergi Ken? Apakah Kau juga tidak sakit hati melihat tunanganmu itu kini menjadi istri orang?!" tanya Keyla sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Percuma Mbak! Bagaimanapun aku menolak takdir, toh mereka juga sudah menikah! Mbak Keyla juga harus bisa menerima kenyataan, tidak selalu apa yang kita inginkan harus kita dapatkan!" sahut Ken.
Keyla diam saja mendengar ucapan Ken, tiba-tiba wanita itu menangis sesenggukan, entah kenapa hatinya begitu hancur, apalagi dia mengetahui kenyataan bahwa ayahnya memiliki anak dari wanita lain, itu membuatnya sangat sakit hati.
Apalagi anak itu adalah Dinda, orang yang selama ini dibencinya, karena dia merasa Dinda telah mengambil semua impian Keyla.
"Kalau mbak mau menangis menangis aja Mbak, tumpahkan semua perasaanmu di sini, setelah ini aku akan mengantarmu pulang ke rumah!" kata Ken.
"Aku tidak mau pulang Ken!" cetus Keyla.
"Lalu Mbak Keyla mau kemana?" tanya Ken.
"Bawa aku kemanapun, asal jangan pulang ke rumah!" sahut Keyla.
"Oke, bagaimana kalau kita pulang ke rumahku saja?" tawar Ken.
__ADS_1
"Akh tidak mau pulang ke rumahmu!" cetus Keyla.
"Lalu Mbak keyla mau pulang ke mana?" tanya Ken bingung.
"Ke klub malam, antarkan aku ke sana Ken!" seru Keyla.
"Tapi Mbak ..."
"Atau kalau kau tidak mau, turunkan aku sekarang juga kesini!" ancam Keyla.
"Oh, oke oke, kita ke klub sekarang!" ujar Ken.
Ken terpaksa menuruti keinginan Keyla, karena Ken sudah sangat tahu tabiat Kela, kalau dia sedang marah apa pun bisa dilakukan termasuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Ken tidak mau hal itu terjadi pada Keyla, makanya dia berusaha untuk menjaga dan melindungi Keyla semampu yang dia bisa.
****
Sementara itu Dio dan Dinda yang baru saja memasuki kamar pengantin mereka, nampak duduk di tepi ranjang yang sudah didekorasi dengan sangat indah itu.
Dada Dinda berdebar dengan hebat, Entah mengapa dia jadi merasa panas dingin, keringat mulai membasahi dahinya, padahal di dalam kamar itu udara cukup dingin.
Suara hujan yang lebat masuk terdengar melalui celah jendela kamar Dio.
"Kau kelihatan tegang sekali sayang!" ucap Dio sambil merupakan menatap wajah Dinda dengan dalam.
"Aku ... aku ... takut Mas!" jawab Dinda gugup.
"Takut apa? Aku suamimu sekarang, mulai hari ini dan seterusnya, aku akan menjadi pelindung dan penjaga hatimu, kau jangan takut lagi!" kata Dio.
"Bu-bukan takut itu!" tukas Dinda, wajahnya terlihat pucat.
"Hmm, sepertinya aku tau apa yang kau takutkan, sekarang begini, kau masuklah ke dalam kamar mandi, berendamlah dengan air hangat, setelah itu kau pakai piyama yang sudah tersedia!" ujar Dio.
"Piyama?"
"Aku sudah menyuruh Mbak Yuyun dan asisten yang lain untuk membeli banyak pakaian dan piyama untukmu, semua kebutuhan sudah aku penuhi, kau jangan khawatir apapun!" ucap Dio.
"Tapi Mas ..."
"Apa kau mau aku yang memandikanmu?" bisik Dio sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan!" sergah Dinda cepat.
"Kalau begitu kau cepatlah masuk duluan, aku akan menunggumu di sini!" kata Dio.
__ADS_1
Akhirnya Dinda berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mandi, dia mulai melepaskan pakaiannya, menanggalkannya satu persatu, dan mulai berendam di bathtub yang sudah terisi air hangat dan bunga mawar.
Sementara Dio menunggunya dengan tidak sabar, sejak tadi dia sudah menahan gejolak hasratnya.
Dio harus ekstra sabar, dia tau Dinda tidak memiliki pengalaman sama sekali, apalagi yang berkaitan dengan malam pertama.
Hampir tiga puluh menit Dinda berada di kamar mandi, hingga Dio yang lelah tidak sengaja ketiduran di tempat tidurnya.
Dinda yang sudah mandi dan berganti pakaian, tertegun melihat Dio yang ketiduran.
Dinda duduk sambil memandangi wajah tampan Dio yang sedang tertidur itu.
Tidak tega Dinda untuk membangunkannya, padahal Dio masih mengenakan balutan jas pengantinnya.
Tok ... Tok ... Tok
Tiba-tiba pintu kamar itu di ketuk dari luar, Dinda langsung berdiri dan membuka pintu kamar itu.
Chika sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Chika? Chika kok belum tidur?" tanya Dinda.
"Hehehe, itu Ma, mau lihat kamar Papa, aku senang sekarang Papa tidak tidur sendirian lagi!" jawab Chika.
"Iya sayang, Mama sekarang yang akan menemani Papa!" ucap Dinda sambil membelai rambut Chika.
"Sebenarnya aku ingin sekali tidur bareng sama Papa dan Mama, tapi kata Papa, aku tidak boleh tidur di sini!" ujar Chika.
"Ya besok-besok pasti boleh!"
"Ya sudah deh, aku ke kamar dulu ya Ma!" Chika langsung berlari kecil menuju ke kamarnya.
Dinda lalu kembali menutup pintu kamar itu, pada saat Dinda membalikan tubuhnya, Dinda terperanjat saat Dio kini sudah berdiri di hadapannya.
"Mas Dio? Su-sudah bangun?" tanya Dinda gugup.
"Sayang, aku sangat ingin, kau memandikan aku saat ini juga, aku sangat ingin!" mohon Dio.
Matanya menyiratkan kabut gairah. Tiba-tiba seluruh tubuh Dinda meremang seketika.
Bersambung...
****
Di part selanjutnya baru malam pertama beneran guys 😁
__ADS_1