Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Berita Tak Terduga


__ADS_3

Hari ini Chika berangkat ke sekolah di antar oleh Ujang, karena sejak pagi Dio sudah bersiap akan mengantar Dinda ke rumah sakit, sesuai dengan rujukan Dokter Dicky semalam.


Wajah Chika terlihat sedih, bukan karena Papanya tidak bisa mengantar sekolah, tapi karena Dinda yang sakit, sehingga tidak bisa lagi menemaninya bermain.


"Mama kapan sembuhnya? Aku tidak ada lawan untuk bermain puzzle!" tanya Chika.


"Mama akan segera sembuh sayang, sekarang Chika berangkat duluan ke sekolah, Bang Ujang sudah menunggu di mobil!" sahut Dio.


Setelah berpamitan dan menyalami orang tuanya, Chika lalu bergegas berjalan ke arah garasi depan untuk segera berangkat ke sekolah.


Dengan sangat perlahan Dio kemudian mengangkat Dinda dalam gendongannya, dan membawanya masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan rumahnya.


Kemudian Dio langsung meluncur meninggalkan rumahnya dan menuju ke rumah sakit.


"Aku takut Mas!" ucap Dinda lirih.


"Jangan takut sayang, kamu tidak sendirian, sekarang kan sudah punya aku!" sahut Dio.


Padahal jauh di lubuk hati Dio, dia juga punya ketakutan yang sama, dia takut akan terjadi hal yang buruk terhadap Dinda.


Dio menggenggam tangan Dinda, mencoba untuk tuk menenangkan jati istrinya itu.


"Mas, kalau ternyata ... aku sakit parah bagaimana?" tanya Dinda.


"Aku selalu ada untukmu, dalam keadaan sehat atau sakit, kau jangan khawatir!" jawab Dio.


"Tapi aku kasihan sama Mas Dio, aku takut Bunda dan Ayah menyesal karena memperbolehkan aku menikah dengan Mas Dio!" lanjut Dinda.


"Kamu itu bicara apa sih, sudahlah, jangan terlalu jauh berpikir, lebih baik tenangkan pikiranmu, kamu tau sayang, hati gembira itu bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, percayalah!" ucap Dio.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit, karena Dokter Dicky sudah merekomendasikan, jadi mereka tidak mengantar, saat masuk ke dalam ruang praktek Dokter Aryo, ahli penyakit dalam.


Dinda kemudian mulai menjalani serangkaian tes, mulai dari tes urin, darah, juga usg.


Setelah selesai, mereka lalu saling duduk berhadapan di ruang praktek Dokter Aryo.

__ADS_1


"Bagaiaman Dokter?" tanya Dio tak sabar.


"Saya harus mengatakan ini, di rahim Bu Dinda, ada semacam kista, dan ini sangat berbahaya, harus segera di lakukan operasi!" jawab Dokter Aryo.


Dinda dan Dio terhenyak dan saling berpandangan.


"Apa? Kista?" tanya Dio nyaris tak percaya.


"Iya Pak, mungkin kemarin malam Pak Dio terlalu banyak melakukan hubungan, jadi terjadi sedikit infeksi di dalam rahim Bu Dinda, karena terlalu dalamnya milik Pak Dio masuk ke dalam hingga mencederai rahim!" jelas Dokter Aryo.


Dio menunduk, ada penyesalan yang terpancar dalam wajahnya, dia menyadari miliknya yang memang besar di atas rata-rata, sehingga malah membuat Dinda sakit.


"Tapi Pak Dio jangan cemas, justru karena itu, jadi bisa di ketahui sejak dini, kalau tidak ada kasus ini, mungkin kalian tidak akan tau bahwa ada kista dalam rahim Bu Dinda!" lanjut Dokter Aryo.


"Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Dio.


"Bu Dinda harus segera di operasi, saran saya, hari ini Bu Dinda di opname, untuk segera di persiapkan operasinya, lebih cepat lebih baik!" kata Dokter Aryo.


"Baiklah Dokter, lakukan yang terbaik untuk istri saya!" ucap Dio.


"Kalau untuk kehamilan, selama rahim Bu Dinda sehat, saya rasa tidak masalah, untuk pemeriksaan lebih lanjut, nanti saya akan merekomendasikan Dokter ahli kandungan!" jawab Dokter Aryo.


Akhirnya pada hari itu juga, Dinda mulai di rawat di rumah sakit, seorang perawat mengantarkan mereka ke kamar perawatan, sebelum di lakukan tindak operasi.


*****


Di waktu yang sama, di rumah sakit yang sama, Ken dan Keyla kini sedang berada di poli kandungan, untuk memeriksakan kandungan Keyla.


Ini adalah pertama kalinya Keyla memeriksakan kandungan nya sejak dia tau kalau dia hamil.


Pada saat Dokter melakukan usg, Ken nampak takjub, melihat sesuatu yang bergerak di layar monitor.


"Kandungannya sehat, saat ini janin telah berusia 8 minggu!" jelas Dokter Mia, Dokter kandungan.


"Mbak, anak kita Mbak, anak kita!" seru Ken antusias.

__ADS_1


"Sudah tau bawel!" cetus Keyla.


"Lho, Pak Ken kok panggil Mbak sama istrinya?" tanya Dokter Mia.


"Eh, sudah kebiasaan Dok!" sahut Ken sambil menggaruk kepalanya.


"Dalam masa kehamilan, psikologis Ibu itu sangat penting untuk perkembangan janin, kalau bisa, panggilannya yang lebih romantis gitu!" kata Dokter Mia.


"Iya deh Dokter, mulai sekarang, saya akan panggil sayang!" ujar Ken.


"Jangan! Panggil biasa saja!" sergah Keyla.


"Tuh Dok, istri saya tidak mau di panggil sayang, tapi tenang saja Dik, saya akan terus berusaha!" ucap Ken.


Setelah selesai pemeriksaan, mereka kemudian duduk di kursi konsultasi.


"Saya akan berikan vitamin dan penguatan janin, ini trimester pertama, jadi sangat rawan, baik-baik di jaga Kandungannya!" kata Dokter Mia sambil menulis resep di secarik kertas.


Setelah selesai, mereka kemudian keluar dari ruangan itu, dan menunggu di depan apotek untuk menebus obat dan vitamin.


"Sayang, nanti setelah dari sini, kita belanja buah-buahan dan susu hamil ya!" kata Ken.


"Ken, please jangan panggil sayang-sayang! Geli aku mendengarnya tau!" cetus Keyla.


"Hmm, Baiklah Mbak!"


"Gitu dong, aku kan lebih tua dari kamu, kamu tuh cuma anak kemarin sore!" sahut Keyla.


"Biar cuma anak kemarin sore, tapi sudah bisa buat bayi di perut Mbak keyla!"


"Tutup mulutmu!" sengit Keyla.


Ken hanya bisa menarik nafas sambil mengelus dadanya.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2