
Malam ini begitu dingin, di luar hujan turun begitu derasnya, Dio masih berada di dalam ruangan perawatan Dinda.
Wajah Dio nampak pucat, dia sangat kurang tidur dan kurang istirahat, sejak pertama kali datang ke rumah sakit, sampai malam ini.
"Mas ..."
Dinda memanggil Dio yang sedang berdiri di depan jendela kamar itu, memandang derasnya hujan.
"Ya sayang!" Dio langsung bergegas datang menghampiri Dinda, lalu langsung duduk di sampingnya.
"Mas, kamu pulang saja, istirahat di rumah, aku tidak apa-apa di sini, ada banyak suster yang menjagaku!" kata Dinda.
"Tidak, biarkan aku di sini menunggumu, jangan sekali-kali kamu menyuruhku pulang, aku mau di sini!" tegas Dio.
"Tapi Mas, aku kasihan padamu, di sini kamu tidak nyaman tidur, pasti capek sekali menunggui aku, pulanglah Mas, aku sangat tidak tega padamu!" ucap Dinda.
"Tidak, tidak akan ada orang yang mengurusmu sebaik aku, sudahlah, kamu tenang saja, sudah malam, tidurlah!" kata Dio yang kemudian menyelimuti seluruh tubuh Dinda.
Setelah itu, Dio duduk di samping Dinda, lalu merebahkan kepalanya di samping kepala Dinda seperti biasa, tangannya memeluk Dinda.
Dinda kemudian membelai kepala suaminya itu dengan lembut.
"Mas Dio keras kepala sekali!" keluh Dinda.
"Terserah kamu mau bilang apa, aku lebih mengkhawatirkanmu dari pada diriku sendiri!" sahut Dio.
"Lebay!"
"Biarin!"
"Sudah Mas, ini sudah malam, tidurlah di bed bawah, atau di sofa, jangan disini, kamu pasti pegal nanti!" kata Dinda.
"Sudah jangan cerewet, kamu tidurlah duluan, kalau kamu sudah tidur, aku baru tidur!" ujar Dio.
Dinda akhirnya memejamkan matanya, berpura-pura tidur, supaya suaminya itu dapat segera tidur. Padahal Dinda masih belum mengantuk, karena waktu masih menunjukan pukul delapan malam.
Tangannya terus membelai rambut Dio, supaya Dio cepat tidur, biasanya Dio selalu minta di belai sebelum tidur.
Sekitar sepuluh menit, Dio sudah nampak tertidur, terdengar suara dengkuran halusnya.
Dinda menarik nafas lega, akhirnya suaminya tidur juga, selama Dio menjaga Dinda, hampir setiap saat Dio selalu berjaga-jaga, bahkan nyaris mengabaikan kesehatannya sendiri.
Drrrt ... Drrrt ....Drrrt
Tiba-tiba ponsel Dinda bergetar, Dinda lalu meraih ponsel yang ada di nakas samping ranjangnya.
Ada telepon dari Asti, sahabatnya dulu saat di kosan. Dinda lalu langsung mengusap layar ponselnya itu.
"Halo, As, apa kabar?" tanya Dinda.
"Din! Kamu di rumah sakit?? Kenapa kamu tidak bilang aku??"
"As, kok kamu tau kalau aku di rumah sakit?"
__ADS_1
"Tadi aku ke rumahmu, kata Mbak Yuyun kamu di rumah sakit, besok saja lah ya aku jenguk kamu Din, sekarang sudah malam nih!" kata Asti.
"Santai As, lagian aku juga tidak apa-apa kok, tidak separah yang kamu bayangkan!" sahut Dinda.
"Suamimu mana?"
"Ada nih di sebelah lagi tidur!"
"Ciyeee, pasti tidurnya sambil meluk, duh jadi pengen deh!"
"Makanya buruan As, cari jodoh!" cetus Dinda.
"Hmm, kamu pikir cari jodoh kayak cari ****** *****, di mana-mana ada, susah tau! Apalagi yang kayak suamimu itu!" sahut Asti.
"Mau aku jodohin?" tanya Dinda.
"Mau! Sama siapa Din? Ganteng tidak??"
"Lumayan, dari pada kamu jomblo terus!"
"Ah, sialan! Cari kek yang berkualitas!" sungut Asti.
"Eh, ini tuh sangat berkualitas, kamu belum lihat saja orang nya!"
"Siapa??"
Tok ... Tok ... Tok
Tiba-tiba pintu ruangan Dinda di ketuk dari luar.
"Iya deh Din, sampai ketemu besok ya!" sahut Asti yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Dinda bingung juga, sebab tidak ada yang membukakan pintu, sementara Dio terlihat tidur nyenyak, Dinda tidak tega untuk membangunkannya.
"Masuk!!" teriak Dinda dari dalam kamarnya.
Pintu ruangan terbuka, seorang wanita datang sambil membawakan sekeranjang buah-buahan.
"Ehm, ini Bu Dinda?" tanya wanita itu.
"Iya, saya Dinda, Mbak siapa?" tanya Dinda bingung.
"Perkenalkan, saya Jessica, teman Dio saat sekolah dulu, saya tau ruangan ini karena saya bertanya pada suster jaga di depan!" kata Jessica sambil menyalami Dinda.
"Oh, kok tau kalau saya di rawat di sini?" tanya Dinda.
"Tadi siang, secara tidak sengaja kami bertemu di taman, katanya istrinya di rawat disini, semoga cepat sembuh ya!" jawab Jessica.
"Trimakasih Mbak, saya bangunin dulu Mas Dio nya ya!"
"Oh, tidak usah, kasihan dia, pasti capek, lagi pula saya tidak lama, saya baru saja selesai konsultasi Dokter anak saya!" tukas Jessica.
"Baiklah, nanti saya sampaikan pada Mas Dio, sekali lagi terimakasih ya Mbak, sudah mau menjenguk saya!" ucap Dinda.
__ADS_1
"Iya, sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu ya, sampaikan salam saya untuk Dio, selamat malam!" Jessica langsung membalikan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Kemudian Dinda menatap ke arah Dio yang masih tertidur pulas di sampingnya yang masih tetap memeluknya.
"Mas Dio kenapa tidak bilang kalau bertemu dengan teman lama?" gumam Dinda sambil kembali mengelus rambut Dio.
Ceklek!
Seorang perawat masuk untuk memeriksa infus Dinda dan mengontrol kondisinya.
"Selamat malam Bu Dinda, apakah ada keluhan?" tanya perawat itu.
"Tidak Sus, hanya bagian perut saya terasa nyeri!" sahut Dinda.
"Oh, itu karena operasinya masih basah, nanti akan saya berikan kembali obat pereda nyeri!" kata Suster itu, sambil mulai mengganti infus Dinda.
"Trimakasih Suster!"
"O iya Bu Dinda, itu kalau bisa, suaminya tidur di sofa saja, atau di ranjang sorong bawah, kasihan bisa pegal itu!" ujar Suster itu.
"Iya suster, saya sudah bilang, tapi dia tidak mau!" sahut Dinda.
"Ya harus di paksa dong Bu, kan rumah sakit sudah menyediakan fasilitas bed buat yang nunggu, kasihan kan!" tukas suster itu.
"Baiklah suster, nanti saya bangunkan dia!"
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi, selamat malam!" kata Suster itu sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
Dinda kemudian mulai mengguncang bahu Dio dan menepuk lembut pipinya.
"Mas, bangun dulu sebentar, bobo nya di bed saja, atau di sofa!" kata Dinda.
Dio pun mulai bangun dan membuka matanya.
"Ada apa sayang?"
"Mas, kata Suster tidurnya di bed saja, atau di sofa, biar empuk!" sahut Dinda.
"Ah, bodo amat, enakan di sini kok!" sahut Dio sambil kembali merebahkan kepalanya di samping Dinda.
"Mas, tadi ada temanmu yang namanya Jessica datang kesini, kok tidak bilang kalau bertemu dengan dia di taman tadi?" tanya Dinda.
Dio langsung kembali mengangkat kepalanya dan membuka lebar matanya.
Bersambung....
****
Halo Guys ... Author menyapa ...
Dalam setiap cerita author, selalu berakhir dengan happy ending, jadi jangan takut dengan sesuatu yang berbau pelakor, karena sesungguhnya di dalam hati laki-laki sejati, hanya ada satu wanita dalam hidupnya.
Oke ... jangan lupa like, vote dan komentar ya guys ..
__ADS_1
Trimakasih...