Hujan, Sampaikan Rinduku

Hujan, Sampaikan Rinduku
Undangan


__ADS_3

Pagi itu, Dinda yang sudah bangun dan mandi langsung buru-buru menyiapkan dirinya, rencana hati ini dia mau ke sekolah.


Bu Lilis nampak sedang membuat sarapan di dapur.


"Kau sudah rapi Din, mau kemana?" tanya Bu Lilis.


"Mau ke sekolah Bu, seharusnya sudah dari kemarin-kemarin aku datang ke sekolah, tapi Mas Dio selalu melarangku!" jawab Dinda.


"Ooh, ya sudah kamu sarapan dulu, baru berangkat!" kata Bu Lilis.


"Iya Bu, oya, kapan kita cari alamat Ayah? Nanti sore?" tanya Dinda.


"Iya Nak, nanti sore ya!"


"Oke!"


Dinda langsung menyantap nikmat sarapan paginya itu.


Setelah selesai Dinda kemudian pamit pada Ibunya dan langsung keluar dari apartemennya menuju ke sekolah.


Beberapa lama Dinda cuti, dia jadi canggung berada di sekolah, seolah semua mata menatap ke arahnya.


"Selamat pagi Bu Dinda, lama tidak ketemu makin tambah kinclong saja!" sapa Mr. Sam, saat Dinda melewati lobby menuju ke atas.


"Pagi Mr, Ehm, Mr. bisa saja, perasaan saya sama saja deh kayak yang dulu!" tukas Dinda.


"Saya baru saja membaca di media sosial, ada undangan pernikahan seorang pengusaha, dengan seorang guru, itu Bu Dinda bukan?" tanya Mr. Sam.


Dinda tertegun, masa iya Dio secepat itu menyebarkan undangan pernikahannya lewat media sosial.


"Gimana Bu Dinda?" lanjut Mr. Sam mengejutkan Dinda.


"Eh, saya tidak tau Mr, bisa jadi itu orang lain, saya sendiri juga belum lihat undangannya di medsos!" jawab Dinda.


"Makanya Bu, coba buka-buka medsos, biar tidak kudet!" ujar Mr. Sam.


Tak lama mereka sudah sampai di ruang guru.


Suara para guru yang sedang mengobrol mendadak terhenti saat Dinda masuk ke ruangan itu.


"Selamat pagi!"


Entah mengapa Dinda menjadi begitu canggung, apalagi saat semua mata menatap ke arahnya.


"Lho, Bu Dinda masih mengajar Memangnya? Kirain sudah resign, secara kan sudah mau menikah dengan pengusaha kaya gitu lho!" tanya Bu Ribka.


"Saya tidak resign kok, kata siapa?" tanya Dinda balik sambil melangkah ke meja kerjanya.


"Lho, tapi Bu Dinda lama sekali absennya, sampai saya yang menggantikan jadi wali kelas satu A!" timpal Bu Dita.

__ADS_1


"Sudah, kalian jangan ribut, seharusnya kita senang dong, Bu Dinda kembali lagi bergabung bersama dengan kita!" sergah Mr. Sam.


Dinda diam saja mendengar komentar dari para teman-teman sesama guru.


Dalam hati dia jadi tidak enak sendiri, gara-gara Dio, dia cuti terlalu lama, sehingga menimbulkan sedikit rasa iri di antara sesama rekan kerja.


"Jadi gimana nih Bu Dinda, saya baru naik jabatan jadi wali kelas, masa saya cuma jadi guru kesenian lagi?" tanya Bu Dita.


"Maaf Bu Dita, nanti saya akan konsultasikan masalah ini pada Pak Roni, saya sendiri kurang paham!" jawab Dinda.


Teeeet ... Teeeet


Terdengar suara bel masuk sekolah. Semua guru mulai bersiap masuk ke kelas mereka masing-masing.


Dinda berjalan keluar dari ruangan guru itu, namun bukan menuju ke kelasnya, melainkan ke ruangan Pak Roni, kepala sekolah.


Pak Roni nampak duduk di kursi sambil menghadap meja kerjanya, di hadapannya banyak tumpukan berkas-berkas.


Ceklek!


Dinda langsung masuk ke ruangan Pak Roni.


"Selamat pagi Pak Roni, maaf mengganggu!" sapa Dinda.


"Pagi Bu Dinda, silahkan duduk!" kata Pak Roni mempersilahkan.


Dinda kemudian duduk di hadapan Pak Roni.


"Maaf Bu Dinda, waktu itu kan Bu Dinda mengajukan cuti, jadi saya harus mencari guru yang mengantikan Bu Dinda dong, jadi saya minta tolong Bu Dita!" jelas Pak Roni.


"Jadi saya pegang kelas berapa Pak?"


"Ah, Bu Dinda kan sudah enak, sebentar lagi jadi istri pengusaha kaya, untuk apa lagi jadi guru, yang gajinya tidak seberapa?!" ujar Pak Roni.


"Jadi, Bapak memecat saya?" tanya Dinda.


"Saya tidak memecat Bu Dinda, begini saja, sementara Bu Dinda menempati ruang konseling, Bu Dinda jadi konselor sekolah saja, sepertinya lebih cocok!" jawab Pak Roni.


Dinda nampak tertegun sejenak.


"Konselor sekolah? Yang ruangannya di atas itu??" tanya Dinda.


"Benar Bu Dinda, sudah lama sekolah ini tidak memiliki konselor sekolah, siapa tau sekolah kita akan jadi lebih baik kedepannya!" jawab Pak Roni.


"Baik Pak, kalau begitu saya akan ke ruang konseling untuk menbersihakannya sebentar!" kata Dinda yang kemudian bwranjak dari tempatnya.


"Jangan Bu Dinda ,sudah di bersihkan oleh cleaning servis sekolah, lagi pula kalau sampai Pak Dio tau Bu Dinda bekerja berat, nanti saya isa di marahi Bu!" tukas Pak Roni.


Dinda hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu dia pamit dan pergi ke ruang ruang konseling yang berada lantai atas.

__ADS_1


Sambil jalan Dinda mengusap ponselnya, saat dia menjelajah ponselnya itu dan mulai membuka akun media sosialnya.


Benar apa yang di katakan Mr. Sam, Dio sudah menggugah undangan online di media sosial, undangan itu sudah mendapatkan View tertinggi di tahun ini.


Dinda senyum-senyum sendiri saat membaca undangan online itu. Dio ternyata tidak main-main dengan ucapannya.


Setelah sampai di ruang konseling, Dinda langsung duduk di sofa ruangannya itu, entahlah dia harus senang atau sedih.


Dinda tidak yakin kalau Dio akan mengijinkan Dinda menempati ruangan yang begitu sepi dan sunyi ini.


****


Di tempat lain, Keyla yang baru membuka matanya sangat terkejut, karena dia berada di sebuah kamar asing, yang selama ini belum pernah dia menempatinya.


Ceklek!


Ken masuk sambil membawakan segelas susu hangat.


"Ken??"


"Selamat pagi Mbak Key, ini ada susu untukmu, minumlah!" kata Ken sambil menyodorkan segelas susu hangat ke arah Keyla.


"Trimakasih, tapi jangan bilang kalau kau sudah..."


"Sudah apa? Aku tidur di kamarku kok pikiranmu negatif terus Mbak!!" cetus Ken.


"Karena aku tau siapa kamu Ken, bajingan kelas kakap!" sungut Keyla.


"Yah, mungkin kau benar Mbak, tapi aku tidak mungkin lah, menodai sahabat sendiri, sejak dulu kan kita sangat akrab bukan!"


"Tapi tetap saja, kau laki-laki aku perempuan, walaupun aku lebih tua darimu, nafsu mana pandang usia!" sahut Keyla.


"Sudah, ini minum saja susunya, tidak ada sianidanya kok!" kata Ken sambil menyodorkan minumannya itu ke arah Keyla.


Keyla menerimanya lalu meneguknya perlahan hingga habis tanpa sisa.


"Hmm, haus atau laper nih Mbak! Kalo laper di meja makan sudah ada nasi goreng!" kata Ken.


Keyla diam saja, tiba-tiba dia teringat, saat dirinya sebelum ke klub malam itu, dia medapat penolakan dari Dio, hatinya sungguh sangat sedih.


"Ken, kau tau, Dinda pacarmu dulu, sebentar lagi akan menikah dengan Dio!" ucap Keyla.


"Hmm, Dio si Duda itu kan? Aku sudah tau!" sahut Ken.


"Hatiku sakit Ken, padahal aku yang di jodohku dengan Dio, tapi malah si Dinda yang menikahinya!" ungkap Keyla.


Tiba-tiba Keyla menangis, Ken mengerutkan keningnya bingung.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2